Hari Buruh

Petani garam di Vietnam. Gambar : Pixabay

Hari ini [01/05/2019] adalah Hari Buruh. Sebagai buruh, saya ikut libur. Semenjak ditetapkan sebagai hari libur nasional pada tahun 2014, semenjak itu pula saya ikut libur. Meskipun sebenarnya pekerja seperti saya, tidak pernah diakui sebagai buruh.

Buruh, selama ini, diyakini hanya terbatas pada pekerja formal di lingkup pabrik. Pekerja swasta.
Tak mengapa, karena mereka juga pada akhirnya saya bisa ikut libur, karena kalender berwarna merah, pada tanggal 1 Mei.

Hari libur karena hari buruh ini, saya lewatkan dengan bangun agak siang, setelah terdengar anak-anak yang banyak bermain di sekitar rumah.

Tak ada agenda demo yang harus saya ikuti, karena organisasi buruh tempat saya bernaung memang tak pernah mengadakan agenda demo. Tak ada penuntutan kenaikan upah, penetapan jam kerja, pemberian uang lembur, atau kejelasan promosi jabatan.

Buruh kelas proletar semacam saya, memang harus ikhlas menerima segala apa yang diputuskan oleh pemberi kerja, tidak bisa tidak. Harus iya, tanpa syarat dan ketentuan apalagi dialog dan macam-macam tuntutan.

Akhirnya hari libur saya habiskan dengan berbelanja, sebagai persiapan menjelang bulan Ramadhan.

Untung saja tokonya tidak tutup, pegawainya tidak libur.
Jika ada yang disyukuri, adalah karena tokonya tidak tutup. Jika ada yang tidak boleh disyukuri, itu karena buruh atau pegawai tokonya tidak libur.
Padahal, mereka juga adalah buruh. Sama seperti saya, dan juga sebagian besar dari anda. Saya dan sebagian besar dari anda libur, pegawai toko tidak libur. Siap sedia melayani kita. Buruh melayani buruh.

Di luar, sebelum masuk toko, beberapa penjaga parkir juga masih terlihat sigap bertugas. Menjaga kendaraan pengunjung, menata, dan membantu siapa pun yang kesulitan memarkir atau hendak mengeluarkan kendaraannya. Mereka juga tidak libur. Padahal, menurut saya, mereka juga buruh.

Menurut KBBI, buruh adalah orang yang bekerja untuk orang atau pihak lain dengan mendapat upah. Dengan kata lain, pekerja.

Berarti penjaga parkir itu juga adalah buruh, karena ia bekerja untuk pihak lain. Sama seperti saya yang juga buruh, yang juga bekerja pada pihak lain untuk mendapatkan upah. Tetapi penjaga parkir itu tidak libur, sedangkan saya libur.

Sama juga ketika saya melihat pekerja toko dengan sigap mengisi rak-rak yang hampir kosong dengan barang-barang, juga petugas kasir yang dengan sigap melayani pembayaran.

Apakah mereka tahu kalau hari ini adalah hari buruh?
Andai kata tahu, apakah kemudian yang mendorong mereka untuk tidak libur?

Ataukah memang hari buruh tak harus identik dengan libur untuk memonumenkan peringatannya?
Cukup dengan perbaikan aspek-aspek yang mendukung kinerja buruh, misalnya.

Ketika berbicara mengenai ‘perbaikan’, tentu itu berlaku dan bersifat dua arah. Bagi buruh, dan bagi pemberi kerja.

Sebab, jika pemberi kerja memiliki nasib baik, tentu akan ikut mengangkat nasib baik buruhnya.
Yang perlu mendapat pengawasan, adalah jika pemberi kerja bernasib baik tak kemudian mengangkat nasib buruhnya agar menjadi lebih baik.
Atau jika pemberi kerja sudah sedemikian rupa mengangkat nasib baik buruhnya, tetapi buruh tidak bekerja secara optimal.

Tentu selalu dua arah jika membicarakan tentang nasib buruh, beserta segala aspek yang layak mendapatkan pengawasan serta perbaikan. Tak bisa hanya satu arah, nanti bisa njomplang.

Seorang pegawai toko melintas di depan saya. Melihat wajahnya, ia masih berusia muda. Pakaian yang dikenakannya tak seperti kebanyakan pegawai toko yang lain. Ia mengenakan kemeja berwarna putih, celana hitam, bersepatu. Sedang kebanyakan yang lain, mengenakan kaus berwarna hitam dengan motif batik. Mungkin, pegawai muda itu masih berstatus magang.

Tak elok rasanya jika kemudian harus bertanya, apalagi besaran upahnya. Meski tak dapat dipungkiri, hal itu mengganggu pikiran saya.

Berapa banyak buruh seperti pegawai muda itu, yang mungkin termarjinal dari frasa ‘buruh’, berjuang sendirian, tanpa peduli tentang hari libur dan besaran upah.

Bagi mereka, bekerja lebih dari sekadar upah. Itu saya ketahui dari orang lain, bukan buruh muda tersebut. Dari seorang kawan, yang pekerjaannya serabutan. Ia juga adalah buruh, meski mungkin tak banyak juga yang mengakuinya sebagai buruh.

Kembali buruh berusia muda tadi melintas di depan saya. Dengan kemeja yang mulai berantakan. Masih pagi, tetapi wajahnya sudah nampak begitu lelah. Saya belum tentu sanggup menjadi buruh dengan pekerjaan sepertinya.

Beberapa toko dan rumah makan menganggap hari libur adalah hari untung. Banyak orang berbelanja, dan banyak orang memilih makan di luar, bersama keluarga. Tentu toko dan warung makan tidak bisa meliburkan juga pegawainya, meski kalender menyatakan warna merah adalah Hari Buruh.
Mungkin upahnya dihitung dengan besaran upah lembur, jika pegawai mau datang dan bekerja. Semoga saja, begitu.

Tentu juga tak semua buruh kemudian memilih libur, menikmati monumentasi pengakuan akan keberadaan mereka.
Banyak yang lain, tetap memilih bekerja. Banyak lain, tetap memilih mendapatkan uang dan upah. Banyak yang lain, mungkin membutuhkan biaya-biaya lebih bagi kehidupan mereka. Untuk keluarganya, atau untuk dirinya sendiri agar tak dipandang sebelah mata.

Bagaimanapun hidup adalah tentang pilihan. Menjadi buruh adalah pilihan, begitu juga menjadi majikan.

Tapi tak semua bisa menjadi buruh, pun tak semua juga bisa menjadi majikan. Keduanya saling membutuhkan, keduanya harus bertemu pada satu titik ekuilibrium yang saling menguntungkan.

Buruh tak bisa hidup tanpa pemberi pekerjaan, dan pemilik pekerjaan takkan bisa bertahan tanpa buruh yang menopang.

Selamat Hari Buruh.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.