Hari Minggu, Belajar Menulis

Hari Minggu, pagi hari, daripada bengong dan ndomblong, saya membuka laptop, kemudian mulai kelas pembelajaran. Kelas privat, belajar, belajar menulis. Tentu kopi tak terlupa, bersama beberapa batang rokok sisa semalam.

Semenjak Sabtu sore, sehabis bangun tidur, selepas mandi kemudian sholat Maghrib, saya sudah mulai mengumpulkan bahan sebenarnya. Bahan untuk membuat tulisan. Bagi pemula dan penulis,—yang amatir saja belum— seperti saya, mengumpulkan bahan menjadi teramat penting. Jangan sampai kegiatan menulis terhenti di tengah jalan, karena kekurangan bahan.

Saya kemudian mulai mengingat, kira-kira apa yang seharian sudah terlewati, dan mungkin menarik untuk dibuat sebuah tulisan. Atau kalau tidak, membuat rangkuman, semacam catatan.

Tapi tak ada yang menarik, tak ada detail yang menurut saya layak untuk diberikan catatan.
Hanya kejadian-kejadian seputar dugaan pelanggaran pemilu. Bukan hal yang menarik bukan?
Apalagi kemudian jika dugaan pelanggaran itu disertai dengan ancaman. Sama sekali tidak menarik.
Selain karena sudah menjadi isu nasional, hal semacam itu sudah terlalu mainstream. Terlalu di dalam kotak, berada dalam wacana arus besar.
Bagi saya, tidak menarik.

KECUALI, jika dugaan pelanggaran pemilu oleh pejabat-pejabat, kemudian diganjar dengan hukuman pecat. Baru, menarik. Tetapi kalau tidak, yaa….semacam bau kandang sapi. Ga mau baunya, tetapi mau hasil dari penjualan sapinya…ngok.

Saya lebih tertarik untuk menulis semacam kisah, dari orang-orang disekitar saya. Atau kalau tidak, kejadian-kejadian kecil yang terjadi di sekitar. Misalnya maling ayam atau maling burung yang tertangkap. Atau maling laptop di sebuah rumah di dekat perumahan tempat saya tinggal. Sayangnya tak pernah ada pencuri ayam atau burung yang tertangkap, dan belum tertangkap pula pencuri laptop di sebuah rumah yang berdekatan dengan tempat saya tinggal.

Kalaupun ada pencuri ayam atau burung tertangkap, mereka sudah akan hancur duluan. Kalau tidak oleh kepalan tangan penangkapnya, yaa tungkak dan balok kayu masyarakat yang mengerubutinya. Andai pun ada kesempatan berbicara, tentu itu adalah tugas polisi, dan sedikit tugas wartawan untuk menaikkan berita.
Sehingga bagi saya, tertutup peluang untuk melakukan tanya jawab, misalnya :
Kenapa ia mencuri. Apakah sudah berkeluarga. Kalau belum, bagaimana kondisi orang tuanya. Kalau sudah berkeluarga, apakah anak dan istrinya sehat-sehat saja. Dan seterusnya, dan seterusnya….

Meski menarik bagi saya, tetapi hal-hal semacam itu tidaklah penting. Apalagi yang mempunyai ketertarikan juga hanya orang semacam saya, yang sama sekali tidak penting.
Untuk kasus semacam itu, yang penting adalah olah TKP, keberadaan saksi dan bukti-bukti, kemudian pelimpahan tuntutan, sidang, dilanjutkan vonis hukuman. Selesai.

Perihal latar belakang kenapa ada tindak pencurian, itu tidak penting. Apalagi kemudian perumusan metodologi agar pencurian tak terulang kembali, agar pencuri-pencuri yang memang mencuri karena terpaksa bisa mendapatkan vonis sesuai keadilan sosial kehidupan kesehariannya. Misal ia mencuri karena anaknya sakit dan tak ada biaya, maka ia tetap harus menjalani hukuman, tetapi negara berkewajiban memberikan pengobatan kepada anaknya. Begitu.
Tetapi, itu tak penting.

Lebih penting untuk menulis hal-hal besar, dan hal-hal spektakuler yang tengah terjadi di tengah masyarakat. Syukur-syukur hal-hal besar yang bersangkut paut dengan negara dan tokoh-tokoh tenar. Selalu tak penting menulis hal-hal kecil, orang-orang kecil, toh apalagi membacanya.

Sampai hampir satu jam, saya tak menemukan ide menulis, untuk diunggah di hari Minggu. Jadilah saya hanya lholhak-lholhok di depan laptop. Saya sampai harus berkeras memerah ingatan serta memacu pikiran untuk dapat menemukan ide menulis, agar tetap berlangsung momentum belajar menulis. Hasilnya, nihil.

Saya malah mengingat kejadian menjelang sholat Jumat, di pelataran masjid, di antara barisan sandal-sandal.
Kenapa sebagian orang-orang yang akan sholat Jumat tersebut, yang sudah berwudhu, bersuci dan bersiap bersujud, berjalan memarkir sandal atau alas kakinya dengan menginjak sandal serta alas kaki saudara-saudaranya. Seharusnya kan bisa, misalnya : ia parkir sandalnya berjajar tanpa menginjak, dan ia melangkah dengan nunut beralas pada sandal yang sudah terlebih dahulu berjajar. Kakinya tak kotor, dan sekaligus juga ia tak mengotori sandal orang lain.

Tetapi perihal menginjak dan menumpuk sandalnya sendiri di atas sandal orang lain serta mengotorinya, tentu bukan hal yang menarik. Tingkat keimanan seseorang tak bisa diukur dari tertibnya menaruh sandal. Ia hanya bisa diukur dari berapa banyak terlihat untuk sholat berjamaah di masjid, dan seberapa banyak ia mengikuti kajian-kajian keagamaan.

Perihal sandal, tentu bukan hal menarik dan tak pantas dibesar-besarkan.

Maka saya kembali ndomblong, dan tak bersegera menulis. Sungguh, kenapa menulis bisa serumit dan sesulit ini. Sedang ketika tempo hari berada di toko buku, saya melihat satu nama penulis muda, dengan tak kurang delapan judul bukunya terpampang di meja dan rak, dalam kategori ‘terlaris’. Waow.

Saya menjadi semakin yakin dan percaya kalau menulis adalah 90 persen perkara bakat, 5 persen perkara usaha, dan sisanya adalah menulis itu sendiri. Dengan 90 persen bakat alam, hanya membutuhkan 5 persen usaha untuk menghasilkan tulisan dan buku-buku.

Oooohhhh, pantas saja meski bertahun-tahun belajar menulis, tak pernah saya mencapai level kepenulisan yang baik. Jelek dan amatir pun, belum. Masih sebatas pemula dengan isi tulisan tak pernah membaik dari sebelum-sebelumnya.

Saya menyerah. Laptop saya tinggalkan, dan saya menyulut sebatang rokok sembari membawa kopi ke teras. Dipaksa seperti apapun, takkan muncul ide untuk belajar menulis itu. Serba susah memang.
Hampir seperti pesepakbola yang setiap hari berlatih keras, tetapi mustahil mencapai —atau bahkan hanya sekadar menuju— level sepakbola Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Mereka, semata adalah anak dari bakat alam yang disertai dengan 5 persen usaha.

Menggelikan, bahkan saya selalu tertawa keras ketika ada kawan, yang bertanya bagaimana cara agar bisa menulis.
Lhah?
Mereka salah alamat tentu saja.
Sedangkan saya sendiri selalu kesulitan untuk menulis.

Harapan untuk menemukan ‘sesuatu’ di teras untuk dituliskan, juga tak kesampaian. Di teras tak ada apapun selain jalanan lengang, dedaunan, dan juga deret pepohonan. Burung liar yang hinggap dari satu dahan ke dahan lain, sembari berkicau dan memecah keheningan pagi, juga tak banyak membantu.

Sudahlah, akhirnya saya memutuskan untuk tak menulis apapun, dan lebih memilih menikmati kopi sembari menyesap udara pagi. Segar, menyegarkan, sementara mengalihkan pikiran gusar karena tak kunjung pintar meski sudah banyak-banyak belajar.
Mungkin sudah semacam takdir bahwa saya takkan mungkin pandai menulis, meski banyak belajar.

Komposisi dalam diri saya adalah 90 persen usaha, 5 persen menulis itu sendiri, dan sisanya adalah khayalan perihal menulis yang bagus, baik dan benar.
Ah….

Apakah anda pernah mengalami hal yang sama dengan saya?
Belajar sesuatu tapi tak kunjung tercapai target dan tujuan?
Kalau iya, mari bersama-sama bengong dan ndomblong di Minggu pagi.

Selamat berlibur.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.