HARKAT DAN MARTABAT SUATU PROFESI PEKERJAAN

foto blog

Pagi tadi, secara tak sengaja saya membaca sebuah tautan berita di Facebook,  mengabarkan nasib beberapa orang (mantan) pesohor, yang kini nasibnya menurut si penulis berita : miris.

Tertarik, saya kemudian membukanya.

Ternyata memang menarik, namun yang menarik bagi saya bukan tentang isi berita, dan nasib pesohor-pesohor itu dimasa kini. Tetapi saya tertarik mengenai definisi serta tolok ukur ‘miris’ yang dipakai oleh si penulis.

Misalnya saja, seorang finalis jebolan ajang pencari bakat, kini menjadi pengemudi ojek online.

Saya mengerutkan dahi, dan andai berkaca, mungkin dahi lebar saya seakan dipenuhi barisan pematang sawah. Dimana letak miris yang dimaksudkan oleh si penulis berita?

Dari sisi dan sudut mana ia memandang bahwa hidup seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk dari masa ke masa?

Apakah menjadi pengemudi ojek online tak lebih bermartabat dari menjadi artis, atau penyanyi yang sering muncul di televisi?

Dimanakah letak harkat dan martabat suatu profesi yang dijalani seseorang?

Apakah ia terletak pada penilaian orang lain?

Apakah ia terletak pada kenyamanan mereka yang menjalani?

Apakah ia terletak pada daya guna terhadap sesama?

Apakah ia terletak pada seberapa banyak uang bisa dihasilkan?

Apakah ia terletak tidak pada kesemuanya, namun mencakup semua hal?

 

Baik dimata pandang dan penilaian orang lain, nyaman dijalani, berguna bagi sesama, menghasilkan banyak uang, sekaligus.

Adakah?

 

Jaman bergerak menuju ke arah kapital, semua hal ditentukan oleh daya tawar modal, yang sayangnya tak jauh dari wujud uang dan harta benda. Dalam hal apapun, rumus tersebut mencengkeram erat hubungan antar manusia, dalam pergaulan dan kehidupan sosial sehari-hari.

Seolah, suatu profesi yang menghasilkan lebih banyak uang, akan lebih bermartabat dan menimbulkan rasa hormat dari masyarakat, daripada profesi yang lebih sedikit menghasilkan uang.

Menjadi penyanyi di televisi, dengan honor sekali tampil lebih besar dari nilai lima ekor sapi dewasa, jauh lebih membanggakan daripada petani atau pengemudi ojek online, bukan?

Lalu, dimana seharusnya letak kedua kaki kita untuk berpijak dan memberikan penilaian bahwa orang lain hidup dalam kategori : miris?

Apakah maksud kata miris berhubungan dengan besaran penghasilan? Atau berhubungan dengan rasa tenteram dan bahagia?

Menjadi artis dan penyanyi terkenal dengan bayaran tinggi dan mahal, apakah sudah menjamin rasa tenteram dan bahagia mereka? Sehingga kepada mereka kita tak layak menyematkan pandangan miris.

Pandangan miris sementara ini, hanya layak kita berikan dan sematkan pada mereka yang mempunyai penghasilan’kurang’ (menurut subyektifitas kita), apalagi jika dulunya mereka kita beri nilai sebagai orang yang ‘terpandang’.

Jika ada penyanyi terkenal, kaya raya, lalu diberitakan meninggal karena overdosis obat-obatan terlarang, atau kawin cerai, apakah layak kita sematkan kata miris?

Bagaimana jika ada seorang kaya raya, memberikan semua harta bendanya untuk kepentingan sesama, dan hanya menyisakan sedikit untuk ia dan keluarganya, maka kemudian kita sebut ia mempunyai nasib yang, miris?

Harkat dan martabat suatu profesi yang dijalani seseorang, menurut pandangan saya pribadi, tidak terletak pada ketinggian jabatan, mentereng sesuai jaman, besaran penghasilan, atau hal-hal artifisial yang biasa tersemat pada manusia.

Harkat dan martabat profesi yang dijalani seseorang terletak pada bagaimana ia memperlakukan profesinya, dengan penuh semangat dan rasa hormat. Tak peduli tentang jumlah penghasilan yang didapat, tetapi lebih kepada bagaimana ia menjalaninya.

Seorang pengemudi ojek online yang secara jujur bekerja dari waktuke waktu, bagi saya lebih bermartabat, dari anggota DPRD yang tercokok KPK melakukan tindakan korupsi secara bersama-sama. Meski saya yakin, sebelum kasus terkuak, anggota DPRD yang tertangkap KPK itu mempunyai kedudukan serta status sosial yang lebih tinggi di dalam masyarakat, daripada pengemudi ojek online yang bekerja secara jujur.

Pada masa ini, kita lebih menghargai tingginya jabatan seseorang, banyaknya uang dan harta, tingkat popularitas, daripada nilai sopan santun, kejujuran, dan ketinggian akhlak seseorang yang tercermin dalam sikap kehidupan sehari-hari.

Secara jujur, bolehlah anda beri pertanyaan pada diri anda sendiri dan menjawabnya :

Anda lebih senang bertemu dengan artis yang sering muncul di televisi, ataukah petani dengan cangkul dan sabit serta parang?

Tentu andai kita mau jujur, kita lebih senang bertemu dengan artis, yang mohon maaf saja, —tidak banyak berkontribusi bagi kehidupan kita—, dan mengabaikan para petani yang setiap hari bekerja untuk ketersediaan pangan bagi sesama manusia.

Bahkan dalam lantunan doa-doa sehari-hari, kita akan lebih banyak meminta dan berharap, mengutamakan terkabulnya doa-doa pelancar rejeki, daripada doa-doa untuk menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih baik dalam memperlakukan alam dan sesama manusia. Tidakkah?

Kita akan lebih senang dan bahagia mempunyai anak, sanak keluarga yang berhasil bekerja atau mempunyai profesi dengan limpahan harta benda, daripada sanak saudara yang mempunyai sifat santun serta jujur. Bukan?

Kita akan lebih merasa senang terhadap anak-anak yang berhasil secara finansial, daripada anak-anak yang berhasil tumbuh dan berkembang secara emosi maupun mental.

Kematangan emosi maupun mental, yang tercermin dalam sikap serta perlakuannya terhadap alam dan sesama, terkadang tidak berbanding lurus dengan pencapaiannya terhadap uang dan harta benda.

Bahkan terkadang, kita temui orang-orang jujur dengan akhlak serta sikap yang baik, hidup dalam kondisi serba kekurangan (menurut pandangan subyektif kita).

Tetapi lantas apakah dibenarkan kita menyematkan suatu pandangan miris?

Bagaimana jika mereka yang secara finansial —katakanlah, tidak lebih dari kita— tetapi mempunyai hidup yang jauh lebih menyenangkan dan terus menerus memantik rasa bahagia daripada kita?

Untuk memberikan penilaian apakah seseorang kini hidup dan menjalani kehidupan dalam kondisi ‘miris’, tak bisa hanya dilakukan secara linear dan hanya menggunakan satu aspek saja.

Banyak hal yang bersilang sengkarut untuk menempatkan seseorang dalam kondisi miris ataukah tidak.

Dengan segala hormat, pada sesama manusia kita tak seharusnya memberikan nilai serta menjustifikasi kondisi kehidupan seseorang.

Jika kehidupan diibaratkan serupa sebuah sekolah, dengan Sang Maha Pemberi Kehidupan sebagai guru sekaligus kepala sekolah, maka sesama dan semua manusia adalah murid. Tak selayaknya sesama murid memberi nilai, tapi masih layak dan bahkan dianjurkan untuk belajar bersama, saling membantu dalam koridor serta aturan yang berlaku, bersikap serta berbuat baik demi bersama-sama berusaha mendapat nilai lebih di hadapan Tuhan Sang Maha Pencipta.

Terakhir, mohon maaf jika banyak salah.

—sekian—

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

  1. I happen to be writing to make you understand what a terrific experience our princess went through visiting your web site. She mastered several pieces, which include what it’s like to possess an awesome helping nature to let other individuals very easily know precisely some problematic subject matter. You truly exceeded people’s expectations. Thank you for presenting these practical, trusted, informative and in addition fun tips about this topic to Kate.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *