Harus Lebih Kuat Dari Balok Es

Yang saya maksudkan adalah balok es besar seperti tiang cor semen itu, yang biasa dipakai buat demo masak bela diri. Yang ditendang dan dipukul sampai terbelah.

Balok es itu yang saya maksud. Bukan es lilin, apalagi es teh plastikan yang kau canthelke lalu kau tinggalkan

Wong akhirnya balok es itu hancur juga kalau ditendangi dan dipukuli, kenapa dipilih sebagai analogi?

Ah ya tunggu dulu, biarkan saya berikan penjelasan. Penjelasan singkat, meski tak singkat-singkat amat.

Ini sebenarnya semacam nasihat, buat saya sendiri terutama, dan buat anda jika berkenan menyimak. Jika tidak, ya sudah ga usah lanjutkan baca. Gitu aja kok repot.

Lebih spesifik lagi, ini adalah semacam nasihat pada suatu pekerjaan, atau kalau anda juga adalah pekerja seperti saya. Pekerja yang hanya numpang di perusahaan orang lain, atau di suatu lembaga yang bukan milik nenek moyang anda.

Perhatikan kata kuncinya : numpang.

Saya yakin sebagian besar dari anda juga hanya pekerja numpang seperti saya. Tak peduli anda bekerja pada perusahaan sebesar dan bonafit seperti apapun, atau anda bekerja pada lembaga pemerintah yang sementereng apapun. Kebanyakan anda juga pasti hanya numpang.

Nah jika anda hanya numpang, pastikan bahwa jiwa raga anda sekuat dan sedingin balok es. Itu penting, kenapa?

Karena numpang itu rentan, dan jika anda tidak kuat, maka anda patah.

Sedikit banyaknya anda akan rentan oleh perasaan anda sendiri, kekhawatiran anda sendiri, kecemasan dari dalam diri sendiri. Diantara banyak sebab, paling sering menyeruak adalah perihal reward. Sudah merasa bekerja maksimal dan optimal, namun tetap saja dianggap tidak melakukan apa-apa. Sudah pol gas melakukan inovasi, malah dianggap tidak tahu diri. Bukannya mendapat reward, malah seakan mendapat laknat.

Anda harus kuat dan jangan mudah putus asa. Jangan sedikit-sedikit merasa bahwa hanya anda yang mempunyai masalah pekerjaan, dan ingin mengundurkan diri. Apalagi jika anda sudah berkeluarga dan mempunyai tanggung jawab untuk mencari nafkah. Lepas dari gender anda, apakah laki-laki atau perempuan. Sebagian besar dari kita, saya yakin tidak mempunyai pilihan selain untuk bertahan dalam pekerjaan. Tidak banyak Pilihan-pilihan yang bisa kita ambil dan lakukan. Beda cerita jika misal nenek moyang anda dulunya adalah kontraktor pengadaan barang dan jasa untuk VOC, dan usaha itu bertahan turun temurun sampai pada anda. Mungkin anda bisa memilih untuk bekerja atau tidak bekerja, karena tentu saja usaha dan tabungan semenjak jaman VOC itu cukup untuk biaya hidup sampai kelak ketika tak ada lagi tiupan trompet ditahun baru.

Senyatanya, sebenarnya hidup saja sudah masalah. Apalagi masih ditambah lagi dengan bekerja. Tetapi bekerja juga adalah kenyataan hidup yang harus kita jalani, kita lakoni, betapapun banyak masalah serta pahit dan tak menyenangkan.

Kuncinya adalah : kuatlah seperti balok es.

Kuat dan dingin, tak mudah terpancing.

Biarkanlah ketika pada akhirnya hasil yang kita tuai tak sesuai dengan apa yang telah kita kerjakan. Hukum matematika tak mesti berlaku secara pasti di dalam lingkup pekerjaan kita. Tak mesti bahwa pengorbanan besar harus menghasilkan pula hasil dan dampak yang besar. Bisa jadi, pengorbanan besar itu akan menguap dengan banyak sebab yang tak masuk akal.

Misalnya saja karena atasan kurang menyukai anda.
Rekan sejawat ditempat kerja banyak yang iri kepada anda.
Atau karena sebab lain, karena tiba-tiba saja negara api datang menyerang.

Banyak hal berada diluar kendali dan kontrol kita, dan memang tak semestinya semua dapat kita atur dan kendalikan.

Jalani saja prosesnya, sembari tetap dingin, tenang dan keras seperti balok es.

Silahkan saja ketika ada orang ingin menendang dan menghancurkan kita. Mungkin kita akan hancur, tetapi setidaknya bukan kita yang menghancurkan.

Hooeeyyy, apakah itu saran untuk hanya diam dan menyerah ketika kita diinjak dan dirugikan?
Tidak juga.

Lawan andai perlu dilawan, tetapi dengan hati dan kepala yang dingin.

Jangan sampai perlawanan yang kita lakukan justru membuat kita hancur sendiri. Kalau masih memungkinkan untuk bertahan, bertahanlah selama dan sekuat mungkin, sedingin balok es.

Kenapa saya memakai analogi balok es?
Karena balok es memungkinkan kita untuk memasuki semesta baru yang tak kalah menyenangkan, ketika mesti hancur berkeping berserakan. Kita bisa berpindah pada semesta es teh, es jeruk, es soda gembira, dan beragam macam es lain yang tetap saja terasa dingin.

Jangan khawatir, bersedia menjadi balok es masih jauh lebih terhormat daripada menjadi hal lain yang merusak dan merugikan pihak diluar diri kita.

Percayalah bahwa bekerja, menjadi pekerja numpang itu memang tidak enak dan rentan terhadap masalah. Tetapi percayai juga bahwa tidak bekerja itu jauh lebih rentan dan bermasalah.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

128 Comments

  1. I apologize for off-topic, I am thinking about making an instructive website for individuals. May probably start with submitting interesting information like”Grapes explode when you put them in the microwave. Go on, try it then”Please let me know if you know where I can find some related information like right here

    Bahsegel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *