Harus Tetap Lucu

“Orang yang lucu akan lebih bisa bertahan daripada orang pintar.”

Gareng

Jangan terlalu dianggap serius, itu hanya anekdot saja dari kawan saya Gareng.

Tetapi kalau mau dianggap lebih serius, orang lucu memang punya energi lebih untuk bertahan. Setidaknya ia akan lebih bisa bersikap rileks dan santai ketika berada dalam tekanan.

Ketika berada dalam tekanan ia masih bisa rileks, ia akan mampu bertahan. Setidaknya ia tidak akan gampang stres, dan kecil kemungkinan terserang tekanan darah tinggi.

Tidak stres membuatnya lebih kreatif, dan mempunyai daya upaya untuk tetap bertahan, betapapun sulitnya.

Orang pintar, cenderung akan mudah menyerah ketika akal dan kepintarannya membentur tembok-tembok tebal bernama ketidakpastian. Karena terbiasa dengan kepastian, orang-orang pintar cenderung mudah menyerah menghadapi situasi yang tidak pasti.

Teori siapa?
Namanya juga pelawak, jelas hanya asal njeplak, dan tidak mengutip teori dari siapapun.

Orang yang lucu ketika membentur tembok ketidakpastian yang cenderung sulit dan menyeramkan, paling hanya akan bergumam :

Masih mending belum pasti kapan selesainya, daripada sudah pasti tidak akan selesai.”

Ingin tahu resep agar tetap bisa sedikit saja lucu dan tidak sepaneng dengan corona? Dengan lockdown dan segala hal berita yang ada?

Batasi untuk melihat berita tentang itu semua. Pada posisi saat ini, kita semua sudah tahu tentang apa itu corona, bagaimana penanggulangannya, bagaimana mengantisipasinya.

Hampir tidak ada hal baru tentang corona, kecuali naiknya jumlah penderita. Makanya tidak usah baca berita, atau batasi, maksimal satu hari sekali sekadar untuk mengetahui perkembangan lingkungan sekitar.

Apa pentingnya melihat kenaikan jumlah penderita? Tidak ada. Selain itu hanya akan membuat anda tertekan.

Anda sudah tahu bagaimana cara-cara agar jangan sampai terpapar. Jaga kebersihan, cuci tangan, kurangi bepergian, banyak minum air putih, konsumsi makanan sehat, olahraga dalam intensitas ringan sampai sedang, dan jangan lupa berdoa.

Sudah, lakukan itu saja. Tidak ada yang baru dalam penanganan corona. Tak usah mencari berita mengenai corona. Kita lakukan porsi yang seharusnya, dan jangan sampai mental kita runtuh karena terlalu banyak membaca media. Apalagi media sosial.

Lebih baik, energi anda digunakan untuk berusaha mencari dan menambah pemasukan. Alih-alih menyuntuki berita dan media sosial, dan kemudian terpapar virus gila bernama provokasi.

Demi Tuhan, saya tidak suka dengan penggerutu yang kemudian hanya bisa menggerutu untuk menyikapi gerutuannya.

Paling pwol, orang semacam itu kemudian akan melakukan provokasi negatif, ketika merasa tidak suka dengan suatu kondisi. Menggerutu, kemudian memaksa orang lain untuk setuju dengan gerutuannya. Tak lebih, ia hanya akan menggerutu, dan mengajak orang lain untuk setuju. Itu saja.

Jika ia lapar, ia hanya akan menggerutu. Tidak berusaha mencari cara agar bagaimana ia bisa makan, tetapi energinya ia habiskan untuk memengaruhi orang lain sekadar untuk agar setuju dengan gerutuannya.

Ini termasuk tipikal orang pintar, tetapi sekaligus kurang lucu. Pintar menggerutu, tetapi kurang lucu dan segar dalam penyampaian gerutuannya.

Padahal kalau sedikit saja lucu, ia akan bisa mendapatkan makanan ketika merasa lapar.

Misalnya : datangi rumah besar dan terlihat mewah namun berpenghuni, dan kemudian bersihkan rumput di jalan depan rumahnya. Bersihkan saja sembari menyanyi keras-keras. Nanti kalau ada orang dari dalam rumah keluar, sampaikan kalau anda lapar karena menyanyi, bukan karena membersihkan rumput. Buat ekspresi muka anda selucu mungkin, tetapi sekaligus memelas, tetapi bukan mengemis.

Saya yakin, empunya rumah akan memberi anda makanan.

Itu pun dengan catatan, bahwa anda benar-benar lapar dan tidak punya makanan, dan tak sekadar membuat tulisan “lapar bisa membuat orang menjadi beringas” agar hanya menjadi viral.

Bukan bermaksud menghakimi, tetapi andai boleh bertanya :

“Yang lapar perut Anda, atau keinginan anda?”

Pertama-tama anda harus jujur. Bedakan laparnya perut dengan lapar karena ambisi dan keinginan.

Kemudian kedua, pikirkan implikasi dari tulisan semacam itu. Jangan hanya pintar menggerutu dan kemudian bersikap provokatif negatif, nanti anda tidak akan bisa bertahan. Dalam skala paling kecil, anda tidak bisa bertahan dari aparat yang mencari dan akan menciduk anda. Jangan lupakan itu.

Harus tetap lucu. Misalnya saja karena ada dan terkena dampak PSBB, jangan hanya menggerutu. Banyak peluang usaha disana, tetapi jangan mengail di air keruh.

Misalnya saja datangi rumah-rumah terdekat yang ada dalam jangkauan anda, dan tawarkan bantuan. Bantuan apapun, utamanya dalam upaya mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari.

Ikhlaskan perbuatan anda dan jangan berharap perihal upah. Percayalah, upah akan datang dengan sendirinya. Rocker besar tidak mencari panggung, tetapi panggung yang akan mencarinya.

Orang baik dan ikhlas tidak mencari upah, tetapi upah yang akan mencarinya.

Tawarkan bantuan anda, untuk membantu mencukupi ketersediaan kebutuhan pokok mereka. Catat, dan manfaatkan teknologi untuk mendapatkan akses terhadap penyedia bahan pokok. Jika anda mendapatkan akses kepercayaan dari paling tidak 50 rumah tangga untuk menyediakan kebutuhan mereka, penyedia bahan pokok tidak akan ragu memberikan prioritas kepada anda.

Namun tentu saja usaha mendatangi rumah ke rumah itu juga dengan aksen selucu mungkin, seramah mungkin. Tampilkan sisi kelucuan anda alih-alih sisi keseriusan anda. Orang lebih percaya pada yang lucu daripada yang serius.

Tidak percaya?
Orang lebih percaya Thukul Arwana dan Sule daripada politikus. Kecuali kalau politikusnya juga lucu semisal….

Menjadi koordinator itu hanya salah satu contoh saja, masih banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan daripada sekadar menggerutu dan melakukan provokasi negatif.

Mungkin memang belum akan ada uang banyak disitu, karena bukan itu tujuan utamanya. Tujuan utamanya adalah bertahan dalam situasi penuh tekanan seperti ini. Bertahan sembari berbuat kebaikan. Ini bukanlah saat-saat untuk mengumpulkan uang, bagi siapapun. Kalau sekadar untuk bertahan dan makan, saya rasa masih banyak yang bisa dilakukan.

Gampang ngomongnya, karena penulis tidak berada dalam posisi semacam itu!!! Penulis goblog, bisanya cuma nulis kok pake acara sok-sokan ngasih ide!!!

Nah, itulah gunanya keberagaman. Kalau saya juga berada dalam posisi yang sama, tentu peluang menjadi koordinator penyedia kebutuhan rumah tangga seperti yang saya sampaikan diatas, sudah saya ambil sendiri dan tidak saya bagikan kepada anda.

Karena saya tidak berada dalam posisi yang sama, maka saya bisa membagikan ide ini, dan bukannya saya lakukan sendiri. Saya sedang membagi peluang dan kemungkinan.

Terakhir, yang paling penting. Tulisan ini tidak lucu, jadi tidak perlu dibaca sampai selesai.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *