Helm BMC Touring, Calon Helm Sejuta Umat

Familiar dengan rupa, warna, serta bentuk helm di atas?

Saat ini, setiap kali berada di jalanan, dan melihat anak muda berseragam sekolah, atau anak muda mengendarai Kawasaki KLX, atau Satria FU, saya selalu memperhatikan helm mereka.

Apa merk helm yang mereka pakai?

Helm BMC!!!

Entah itu laki-laki, atau perempuan, yang penting usia mereka masih muda.
Ndak usah melihat KTP atau Kartu Keluarga, apalagi bertanya tanggal dan tahun kelahiran mereka untuk mengetahui apakah mereka masih muda. Cukup lihat saja pakaian mereka. Kalau berseragam sekolah, jelas masih muda.

Perhatikan juga gaya berkendara mereka. Kalau relatif bergaya seolah Rossi atau Marquez, mereka masih muda.

Lalu, perhatikan helm mereka. Pasti BMC.
Kalau tidak pasti, 90% lebih yang anda lihat pasti memakai helm BMC.
Warna hitam. Entah yang metalik ataupun doff.

Saat ini, di seputar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kota Jogja, Sleman, Bantul dan sekitarnya, BMC adalah penguasa jalan raya. Apapun sepeda motornya, BMC helmnya.

Hampir mirip dengan, apapun makanannya, minumnya teh botol….

Silahkan perhatikan bagi anda yang berdomisili di DIY, apakah benar apa yang saya katakan.
Apapun motornya, anak-anak muda itu memilih BMC sebagai helmnya.

Tak peduli mereka memakai motor sport, bebek, matik, trail, atau apapun, BMC pilihannya.

BMC mengalahkan helm-helm ‘tua’ dan sarat pengalaman dalam dunia keselamatan lalu lintas. Semacam INK, KYT, atau bahkan Hiu yang seolah tenggelam ke dasar lautan.

Jika anda sedang kuliah di jurusan Sosiologi, Komunikasi, atau Manajemen, mungkin fenomena ini bisa dijadikan suatu bahan skripsi.
Perihal bagaimana jajaran dari produsen BMC bisa memperkenalkan produknya sedemikian rupa, sehingga mampu menarik perhatian anak-anak muda.
Juga perihal pergeseran selera anak-anak muda itu dalam memilih helm sebagai bagian tak terpisah dari perangkat berkendara.

Apakah ini semata masalah harga, atau ada hal lain yang mempengaruhinya.

Saat ini, hampir tak saya lihat anak-anak muda, apalagi yang masih usia sekolah, memakai helm INK atau KYT yang sempat sangat populer tiga atau empat tahun yang lalu.

Padahal, desain serta pilihan warna dari helm ini, sangat sederhana.
Apakah itu juga berarti generasi muda bergerak menuju ke arah pilihan produk dengan tema dan spesifikasi sederhana?
Atau hanya berlaku untuk helm saja?
Apakah berlaku untuk pilihan gadget dan smartphone?

Andai saya masih kuliah, saya tertarik mengangkat tema sederhana ini menjadi bahan untuk penelitian.

Helm BMC Touring

Tentu saja para orangtua, senang dengan pilihan helm anak-anak mereka.

BMC Touring warna hitam yang populer itu, di pasaran dijual dengan harga 150 ribuan. Sedang helm INK atau KYT, dibanderol harga 200 sampai 300 ribuan. Selisih harga yang lumayan besar.

Beli helm BMC bisa langsung sekalian dua sebagai cadangan kalau hilang di parkiran, daripada dapat satu yang kalau hilang bisa menangis semalaman.

Adik bungsu saya belum lama juga kehilangan helm BMC seperti itu. Dan dia, juga Mamak saya, terlihat datar dan biasa saja. Mungkin karena harganya memang tergolong murah.
Beda halnya dengan saya yang kiwah-kiwih ketika beberapa tahun lalu kehilangan helm INK yang relatif baru. Beberapa bulan baru saya miliki.
Waktu itu, sekira empat atau lima tahun yang lalu, BMC belum begitu populer seperti saat ini.

Adik saya ketika menjawab pertanyaan saya kenapa memilih BMC, juga hanya menjawab :
“Enak dipakai.”

Saya sendiri beberapa kali meminjam helm BMC milik adik saya itu, dan memang enak dipakai. Lumayan nyaman.

Hanya saja menurut saya bobotnya terlalu ringan.

Faktor mana yang secara signifikan berpengaruh terhadap berkuasanya BMC di jalanan, belum saya ketahui secara pasti.
Apakah karena strategi marketing perusahaan yang berjalan dengan sangat baik. Atau karena komunitas dan pergaulan diantara anak-anak muda itu sendiri.

Bersaudara dengan INK dan KYT

BMC masih bersaudara dengan INK, KYT, atau juga Hiu dan MDS.

Mereka berasal dari satu ibu kandung yang sama, PT. Tarakusuma Indah. Produsen helm yang sudah berdiri dan berproduksi semenjak tahun 1980-an, dan mulai memproduksi helm yang terstandar SNI semenjak tahun 1992.

Jika INK dan KYT ditujukan untuk segmen pasar menengah-atas, BMC memang diproduksi untuk segmen menengah-bawah. Tentu secara kualitas, semua sudah tersertifikasi juga terstandar SNI. Tetapi mungkin memang dengan kualitas bahan baku yang berbeda.

Memang tak selamanya bersaudara itu mesti mempunyai nasib dan takdir yang harus sama.

BMC ditakdirkan untuk segmentasi pasar kelas ekonomi menengah-bawah. Tetapi yang terjadi bahwa segmentasi tak hanya mengalineasi sisi ekonomi, tetapi lebih pada usia. Saat ini.
Usia menengah-bawah untuk merujuk usia para pemakai terbanyak helm BMC, yang rata-rata masih dalam usia sekolah.

Entah apa yang sebenarnya ditawarkan oleh BMC sehingga bisa sedemikian populer, selain karena harga, dan juga ‘kenyamanan’ yang tentu saja relatif itu.

Bisa saja ketika adik saya berkata nyaman, itu lebih karena tak harus terlampau khawatir andai helm itu hilang di parkiran.

Helm sejuta umat

Bisa saja suatu waktu BMC akan dinobatkan menjadi helm sejuta umat. Seperti Avanza-Xenia yang juga sudah dinobatkan sebagai mobil sejuta umat.

Tentu saja tak hanya da’i, manusia, atau mobil yang boleh memiliki sejuta umat. BMC pun boleh mempunyai sejuta umat, sebagai modal mendaftar menjadi calon legislatif.

Ada yang tertarik meneliti berapa angka penjualan helm BMC setiap bulan dalam kurun waktu dua tahun belakangan?

Tak ada data pasti yang merujuknya. Data tahun 2012 juga hanya menyebutkan angka global, bahwa ibu kandung BMC memproduksi 2 juta helm per tahun. Tetapi tak ada angka pasti untuk detail tiap produknya.

Saya rasa, saat ini BMC sudah mengalami peningkatan penjualan yang cukup signifikan daripada dua atau tiga tahun yang lalu.

Jadi, sudah siap menyambut helm sejuta umat?

Kalau saya sih tertarik menjadi umatnya, nyaman dan murah meriah.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

22 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.