HIDUP ITU KERAS, KALAU TIDAK KERAS PASTI IA KEJAM

Kalau ada orang bilang, lunak keras hidup tergantung bagaimana masing-masing orang menjalaninya, pasti orang itu betul-betul bijak. Kalau lah tak begitu bijak, ia pasti orang yang beruntung. Kalau juga bukan orang yang beruntung, ia pastilah orang yang selalu mengerti bagaimana mekanisme hidup terus berjalan dan berputar.

Tentu pernyataan tersebut sangat subyektif, sebagaimana subyektifitas pandangan masing-masing orang mengenai hidup dan kehidupan.

Hidup satu orang, satu manusia, adalah satu bagian kecil yang bersangkut paut dengan hidup orang lain, berkelindan erat dengan kehidupan di sekitarnya.

Hidup itu keras, kalau lah lunak, ia pasti sudah dipresto. Kalau tidak dipresto, pasti ia sudah dikukus atau direbus sekian lama.

Sebaik dan penuh kehati-hatian seperti apapun seseorang menjalani hidupnya, tak mesti bahwa nantinya ia akan tetap baik-baik saja. Dalam arti, tak bisa ia melepaskan diri dari kehidupan secara keseluruhan, untuk memanen semua kebaikan dan kehati-hatian yang ia usahakan. Celakanya, kadang hidup membawakan semacam kepahitan meski manusia sudah berusaha bermanis-manis dalam kehidupannya.

Belum lama, seorang tetangga saya mengalami kecelakaan di jalan raya. Bukan karena ia mengebut, ugal-ugalan, atau lalai terhadap aturan. Tetapi ia mendapat ‘durian runtuh‘ karena ditabrak sebuah sepeda motor yang sebelumnya sudah mengalami insiden dengan sebuah mobil. Jadi, ketika tetangga saya sedang melaju, tiba-tiba sebuah sepeda motor dari arah berlawanan, menabraknya.

Hidup itu keras, dan mestilah tetap akan seperti itu. Kalau tidak keras, tak mungkin Adam melawan kehendak Tuhan. Godaan iblis? Dorongan Hawa? Atau semata karena Adam memang harus melawan kerasnya kehidupan, meski di surga?

Sayangnya, dari waktu ke waktu, semakin jaman menuju senja kala peraduan untuk berakhir pada tiup terompet sangkakala, hidup tak memberi tanda sedikitpun untuk melunak, bahkan ia semakin mengeras. Serupa adonan tepung yang dibiarkan seharian berada dibawah terik matahari. Keras, namun tak enak untuk langsung dimakan.

Bagaimanapun Soeharto berusaha menjaga hidup, kehidupannya selama 32 tahun agar tetap manis-manis saja, namun toh ia harus berhadapan dengan kepahitan. Karena hidupnya bersangkut paut dengan hidup orang lain, dengan kehidupan beratus juta warga negara yang merasa bahwa manis menurut Soeharto, tak manis bagi mereka. Kerasnya hidup menghampiri Soeharto, bahkan ketika ia juga menjalaninya dengan kekerasan demi kekerasan. Lebih celaka, ternyata hidup jauh lebih keras dari prasangka manusia. Semakin manusia berusaha keras, sejalan itu hidup juga mengeras. Ketika manusia melunak, celakanya hidup melindas dengan semena-mena.

Dulu, menghadapi murid bengal cukup dengan kepalan tangan. Gampar di kepala, selesai urusan.
Tetapi kehidupan terus berjalan sekaligus membawakan peraturan-peraturan dan perubahan. Memukul murid yang bengal, adalah pelanggaran hak, yang mengarah kepada tuduhan tindak kejahatan. Celakanya, ketika tak dipukul, murid yang memukul.

Tentu memang tak lantas dibenarkan memukul orang lain, apalagi murid dan anak didik, meski bengal cenderung jahat dan kriminal. Mungkin perlu direvisi mengenai aturan-aturan untuk pendidik dan peserta didik. Agar tak ada lagi saling curiga dan saling merasa paling benar terhadap problematika dunia pendidikan yang mengarah pada tindak kekerasan.

Hidup tentu keras, terkadang kejam. Kalau tak seperti itu, tentu saja tak perlu ada Muhammad si manusia mulia untuk diturunkan ke dunia. Untuk tak sekadar memberi contoh bagaimana menghadapi kerasnya hidup, tapi sekaligus bahwa ia adalah miniatur kehidupan itu sendiri. Muhammad mengandung banyak kekerasan dan persoalan sepanjang hidupnya, dalam sejarah kehidupannya, agar manusia melihat, meneladani, bagaimana manusia mulia itu menghadapi kehidupan. Ia tak memberi contoh, ia adalah contoh.

Kehidupan membuatnya yatim piatu semenjak kecil, dan itu tak membuatnya menjadi anak yang tumbuh broken home.
Ia diasuh oleh pamannya, dan itu tak membuatnya menjadi anak tak tahu di untung. Ia tumbuh menjadi orang yang jujur, berkepribadian baik, lemah lembut, sekaligus keras. Keras terhadap dirinya sendiri.

Tetapi ia adalah nabi, bung. Seorang rasul, manusia terpilih. Bahkan cahaya kemuliaannya sudah memancar menerangi semesta, jauh sebelum tubuh wadagnya diturunkan ke dunia manusia.
Ia contoh paling sempurna. Bahkan, terlampau sempurna. Hingga, ia terlalu sulit diteladani, bahkan oleh orang-orang yang lahir, tumbuh dan berkembang di seputar tanah kelahirannya.

Kalau orang-orang di seputar tanah kelahirannya sekian persen saja meneladani bagaimana Muhammad menyikapi kerasnya hidup dan kakunya kehidupan, tentu tak ada jutaan peluru senapan yang tumpah ruah dan memuntahkan darah.

Hidup itu benar-benar keras, dan mungkin memang Muhammad dilahirkan terlalu cepat, prematur 14 abad, terlampau cepat dari jaman yang seharusnya ia datang dan berada di dalamnya.

Tapi tak ada yang perlu kemudian disesali dari kedatangan serta keberadaan Muhammad yang terlalu cepat di dunia. Toh semestinya begitu. Andai ia datang hari ini, pada jaman ini, mungkin saja tak pernah akan ada Abi Thalib, Abu Bakar, Umar, Usman, atau Ali yang sepenuhnya percaya padanya. Mungkin semua orang, semua manusia akan menjadi Abu Jahal, menjadi Hindun, dan melawannya. Termasuk anda? Ah, tentu saja termasuk saya. Ah, hanya saya, anda tidak. Tentu anda masuk barisan mujahidin yang akan selalu membela beliau.

Hidup semakin keras. Pada masa ini, tak diperlukan lagi kebaikan-kebaikan atau keberanian menyuarakan kebenaran untuk menjalani opera sabun kehidupan. Yang diperlukan hanyalah keberanian untuk menjilat, mencari muka, menawarkan pengabdian pada mereka yang mempunyai kuasa terhadap pangkat serta jabatan. Orang baik, orang yang lebih mampu, minggirlah terlebih dahulu.

Begitulah kenapa judul tulisan ini mengambil rangkaian kata ‘hidup’, dan ‘keras’. Karena sungguh, hidup tak ada lunak-lunaknya. Sama sekali tak empuk, dan sama sekali tak enak untuk dimakan.

Hari ini, jika kita bepergian dan membutuhkan sarana transportasi semisal kereta api, yang ditanyakan adalah perihal KTP, kartu identitas, dan semua jenis kartu yang dianggap sebagai perwakilan diri kita. Tak penting siapa kita, bagaimana kita, berapa lama kita menjadi ‘penduduk’, takkan mungkin kereta api mau mengangkut kita tanpa kartu identitas atau tanda pengenal yang saat ini jauh lebih penting dan keramat dari keris serta jimat-jimat.

Hari ini, jika kita berkendara, yang ditanyakan adalah kepemilikan SIM, bukan kemahiran kita mengendalikan serta menguasai laju kendaraan. Ya, SIM menggantikan harga diri kita dijalanan.

Okkk, tak penting lagi tulisan ini. Semoga anda maklum. Ini adalah tulisan dari tangan serta otak orang yang setiap hari dipukuli kerasnya kehidupan, tanpa kemampuan untuk melawan. Jadi, maklum saja kalau otaknya kopyor, tulisannya ngawur, pemikirannya melantur. Bahkan, mungkin saja otaknya sudah tak ada, remuk dihajar perkembangan jaman.

Kita akhiri saja, sebelum dingin kopi atau teh untuk membaca tulisan mengerikan semacam ini.

Oh iya, sebelum ditutup, perlu saya tegaskan. Paragraf pembuka tulisan ini, tidak ditujukan kepada siapapun selain penulis sendiri. Tentu, hari ini, semua orang paham dan mengerti, mau dan memahami, bahwa keras lunaknya hidup bergantung bagaimana masing-masing orang menjalaninya. Bukan perkara karena hidup itu keras, atau kejam. Atau karena hidup serta kehidupan terkadang melakonkan cerita yang sama sekali samar dan tak terduga. Bukan, semata karena manusianya.

Jika ada yang merasa bahwa hidup itu keras, bahkan juga kejam, mungkin saja karena ia tak punya kemampuan untuk melawan. Terkapar terlindas jaman, meringkuk ditendang keadaan, seperti penulis tulisan ini. Begitulah.

Ya, semua orang mampu menyiasati keras dan kejamnya kehidupan, kecuali yang tidak mampu.

Selamat pagi, selamat ngopi.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *