Hidup Semacam, Semacam Hidup

Hidup ini sebenarnya sangat singkat. Hanya terdiri dari tiga hal, namun hanya satu yang selama ini bisa kita ingat. Hidup hanya terdiri dari lahir, menjalani hidup itu sendiri, kemudian mati. Kita takkan bisa mengingat proses kelahiran, dan takkan pernah lagi bercerita perihal bagaimana kita mati. Sangat singkat, dan sangat sederhana.

Namun khas seperti kebanyakan cerita, sesederhana dan sesingkat apapun sinetron atau drama Korea, harus ada bumbu penyedapnya.

Yaaa, hidup manusia yang sebenarnya sangat singkat dan sederhana itupun mengandung banyak micin atau bumbu penyedap.

Ada Bumbu Harta. Bumbu Tahta. Bumbu Pesona. Dan berbagai macam bumbu penyedap lainnya. Yang tiga itu adalah bumbu penyedap fundamental. Yang hampir semua manusia menginginkannya. Bumbu lainnya ditambahkan untuk melengkapi, atau ditambahkan sesuai kebutuhan.

Bumbu Harta terkadang dikejar manusia sampai sedemikian rupa. Sampai menyihir pepohonan menjadi tumpukan beton-beton yang tak bisa dimakan. Menggunduli hutan sampai licin dan lupa bahwa hutan adalah paru-paru bumi. Dan tanpa paru-paru bumi manusia kelak takkan lagi bisa bernafas. Manusia lupa, dan terus memasukkan Bumbu Harta itu ke dalam kehidupannya. Lupa dosis dan takaran.

Beberapa lagi terkadang memasukkan Bumbu Harta kepada masakan bernama korupsi. Lezatnya minta ampun, asal tak tersedak sendok bernama KPK.

Bumbu Tahta tak kalah menggiurkannya. Bertahta sama dengan jaminan untuk bisa menggaet pula bumbu lainnya, yaitu harta dan pesona. Tahta dikejar sedemikian rupa, sampai lupa kalau sudah masuk liang kubur, malaikat takkan bertanya tahta apa saja yang sudah pernah diduduki.

Tak usahlah sampai ke liang kubur. Raja Keraton Agung Sejagad pun sekarang sudah menyesal menduduki tahta mewah jagad raya itu. Pun juga mereka yang menduduki tahta Sunda Empire, baru polisi dan belum malaikat yang bertanya, mereka sudah pucat pasi. Apalagi yang King of The King itu. Yang Indonesia Mercusuar Dunia. Yang konferensi pers salah satu petingginya memakai seragam warna cokelat keki kebanggan ASN. Beum masuk liang kubur dan ditanya malaikat, mereka sudah kelabakan menjelaskan asal muasal tahta yang mereka duduki.

Apakah mereka mendapatkan tahta itu dari undian snack makanan kecil anak TK, atau mendapatkannya dari undian antar planet di Galaksi Andromeda sana, mereka bingung menjawabnya.

Bumbu Tahta ini menggiurkan, tetapi bisa membuat manusia menjadi gila.

Bumbu utama terakhir bernama Bumbu Pesona. Manusia mati-matian mencitrakan dirinya penuh pesona, menarik orang lain untuk kagum padanya. Beberapa sampai mati betulan sebelum pesonanya memancar dan membuat orang lain mengerjapkan mata.

Jika berhasil, mereka tersenyum lebar. Terkadang mereka memasukkan Bumbu Pesona ini pada masakan-masakan electoral. Membuat janji-janji kepada rakyat dan masyarakat, menjanjikan mengaspal jalan desa, menggratiskan pendidikan dan pengobatan, kemudian mengepalkan tangan sebagai penanda berpihak kepada proletarian. Kelak, mereka akan tertawa puas dan lupa pada aspal, dan apalagi pendidikan serta pengobatan khalayak, dan kepalan tangan mereka ketika menebar pesona berubah menjadi raupan tangan serakah mengeruk harta dan juga menggapai tahta.

Banyak yang gila ketika mengonsumsi Bumbu Pesona diluar batas kemampuan serta kejujurannya.

Nah, satu saja terkadang beberapa manusia tak kuat menanggungnya. Tetapi kenyataannya, banyak yang ingin merengkuh ketiganya. Maunya bermacam-macam. Padahal hidup hanya sederhana. Hanya semacam saja. Semacam menarik nafas dan menghembuskannya, manusia sudah bisa hidup.

Tetapi tidak, manusia ingin bermacam-macam. Ingin yang rumit. Padahal kalau sudah rumit, berkeluh kesahnya lebih panjang dari jalan tol ruas Kenyataan-Harapan. Panjang terbentang tak usai disertai sedu sedan. Kalau hidupnya rumit menangis tak karuan. Tetapi disuruh sederhana, enggan mengambilnya.

Kerumitan manusia berasal dari satu hal, inginnya bermacam-macam, padahal hanya mampu mempunyai satu macam.

Inginnya bermacam-macam, seperti yang dimiliki si A, si B, si C, dan juga si XYZ. Sampai ia lupa apa yang harus dikerjakannya, karena sibuk melihat kesana kemari, berkomentar terhadap apa yang dikerjakan orang lain.

Melihat harta matanya hijau. Melihat tahta matanya membiru. Melihat pesona matanya mendadak jingga. Semua ingin dimilikinya. Banyak yang ingin direngkuh, sehingga lupa apa yang harus ditempuh.

Padahal hidup harusnya sederhana. Bahagia.

Bahagia, itu saja. Tolok ukurnya adalah bahagia. Bumbu Bahagia.

Bukan Bumbu Harta, Bumbu Tahta, atau Bumbu Pesona.

Seberapapun yang kita miliki, asal intelektualitas dan spiritualitas kita berkualitas, maka akan timbul rasa bahagia. Bukan hanya rasa senang, tetapi rasa bahagia. Rasa senang hanya bersifat sementara. Hanya bersifat fisikal permukaan. Tetapi bahagia lebih bersifat abadi, berasal dari dalam diri sendiri yang mampu mengolah segala sesuatunya dengan baik.

Manusia maunya bermacam-macam, kemudian lupa bahwa hidup hanya semacam. Hidup hanya semacam, untuk menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan. Itu saja., sederhana.

Tetapi manusia maunya bermacam-macam, yang rumit dan membingungkan.
Kalau sudah rumit dan bingung, tersesat, hanya bisa menangis, lalu mengadu kepada Tuhan.

“Yaaa Tuhaaannnn, kenapa Engkau berikan cobaan yang berat seperti ini kepada hambaMuuu. Tuhaaannn….”

Padahal Tuhan tak pernah memberikan cobaan. Tuhan hanya memberikan persoalan, itupun sudah disertai kunci jawaban. Nah, terkadang manusia menganggap remeh soal-soal dari Tuhan, sehingga enggan mengambil sekalian kunci jawabannya. Kalau sudah mentok dan tak bisa menjawab, tengok kanan kiri bertanya-tanya, mencontek, dan ketika nilainya buruk, tidak lulus, menangis.

Manusia itu……

Manusia itu, maunya macam-macam. Padahal semacam saja harusnya nikmat tak terkira. Tak usah macam-macam, semacam saja. Semacam makan bubur di pagi hari. Sendok per sendok, bukan langsung semangkok.

Tak usah macam-macam, apalagi sampai disertai fitnah kanan kiri, atau menggunjing sepanjang hari.

Kerjakan porsi kita, tugas kita, pekerjaan kita, dengan disertai Bumbu Bahagia.

Jangan kebanyakan menilai orang lain, berkomentar terhadap hidup dan pekerjaan orang lain, sehingga lupa pada nilai diri sendiri yang belum tentu baik, dan juga hidup serta pekerjaan sendiri yang terkadang belum terselesaikan.

Hidup itu sederhana dan pasti berbumbu bahagia, asalkan semacam saja, dan tak usah bermacam-macam, apalagi macam-macam.

Tak percaya? Tanyakan pada mereka yang terlalu banyak mengkonsumsi micin seperti Micin Harta, Micin Tahta, dan juga Micin Pesona.
Beberapa dari mereka sudah memakai rompi oranye KPK, beberapa lagi sudah masuk rumah sakit jiwa, beberapa lagi harus mengkonsumsi obat tidur saban malam harinya.

Tak usah macam-macam.

Porsi manusia hanya semacam saja, bukan untuk macam-macam.

Kalau ada yang bisa mempunyai semuanya, bermacam-macam, dan kemudian macam-macam?
Tak usah iri, anggap saja mereka yang semacam itu memang istimewa. Dan kita juga istimewa.

Mereka istimewa karena mempunyai semuanya, kita istimewa karena kelak tak harus mempertanggungjawabkan semuanya.

Sederhana.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *