Hidup Tinggal Menjalani

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Hidup memang terkadang absurd, wagu, tak pantas, atau bahkan nggapleki. Terkadang kita merutukinya, mengumpatnya, dan juga enggan melanjutkan di dalamnya. Hidup memang asu-asunan, dan kita sebenarnya lebih asu. Kita tetap saja mau menjalani seluruh proses dalam hidup yang asu-asunan itu, tanpa peluang untuk menawar atau membuat kehidupan lain.

Kita tak pernah mempunyai daya tawar di depan hidung kehidupan.

Lantas, kenapa terkadang kita masih angkuh dan mendongakkan kepala?

Tentu hidup dan kehidupan pun hanya sekadar menjalankan takdir ketentuannya, ketika mendatangi kita. Seperti halnya kita yang tak mampu membantah ketika akhirnya dilahirkan ke dunia, begitu juga hidup. Mereka hanya sekadar menjalankan perintah, untuk mendampingi kita.

Ada sutradara besar yang sudah mengatur hidup, hingga kita tinggal menjalaninya.

Ah ya, mungkin anda yang atheis tidak akan percaya tentang konsep Tuhan, yang menjadi sutradara besar seperti yang saya kemukakan.
Mohon maaf, bahwa saya disini percaya tentang konsep Tuhan, dan keberadaannya.

Alam semesta tak bisa tercipta begitu saja melalui sebuah ledakan besar. Jika ada ledakan, tentu saja ada penyebabnya. Benda-benda yang meledak, asal muasal benda tersebut, dan tentu saja ‘sesuatu’ yang meledakkannya.

Apakah granat bisa meledak sendiri?
Bisa!

Tetapi apakah granat bisa menciptakan dirinya sendiri?

Hal seperti ini pun sebenarnya debatable. Sesuatu yang memang tak selesai untuk diperdebatkan. Bagi saya, daripada memperdebatkannya, saya memilih percaya, perihal Tuhan itu.
Perihal Yang Maha Pencipta itu, termasuk yang menciptakan kehidupan itu.

Mungkin ini hanya bentuk pelarian saya saja, ketika suatu kali hidup terasa begitu meresahkan. Saya seolah mencari sandaran, mencari sesuatu yang lebih hebat dari diri saya sendiri.
Dan saat ini, saya merasa tak ada yang lebih hebat dari saya, dalam menjalani dan menghadapi kehidupan. Maka ketika saya terbentur suatu masalah dengan hidup dan kehidupa, saya tak bisa lari ke lain tempat, selain kepada Tuhan.

Begini, terkadang tidak mempunyai uang untuk membeli rokok itu begitu menyebalkan. Bukan perkara merokoknya yang saya sesalkan tak bisa terpenuhi andai tak membeli, tetapi segala sesuatu yang berkelindan rumit berhubungan dengan aktifitas merokok itu.
Minum kopi misalnya. Minum kopi tanpa merokok bagi saya suatu kemunduran peradaban. Karena ada begitu banyak hal yang bisa diciptakan melalui perpaduan rokok dan kopi, termasuk tulisan ini.

Nah, terkadang tak memiliki uang untuk sekadar membeli rokok, terasa begitu nggrantes. Kalau sudah nggrantes begitu, tak ada lain yang bisa saya ajak ngobrol, atau saya sambati, selain Tuhan itu tadi. Paling saya akan bilang :

“Kalau ngasih hidup mbok ya jangan gitu-gitu amat.”

Dan saya merasa kemudian Tuhan membalas kata-kata saya :

“Hidup tinggal menjalani saja kok riwil. Coba masih harus membuatnya juga, bagaimana?”

Ya hidup ini tinggal menjalani. Ketika merasa haus, kita tinggal mengambil air dan meminumnya, tanpa harus repot membuat air terlebih dahulu.
Sejenak saja coba bayangkan jika acapkali minum, kita harus mencampur beberapa senyawa, untuk menciptakan susunan tertentu sehingga baru berbentuk air.
Po ra modyar?

Ya meski butuh banyak kesadaran, dan butuh banyak ketenangan untuk dapat mengerti bahwa sebenarnya hidup yang bangsat ini tak bangsat-bangsat amat. Kalau boleh memilih, mungkin hidup juga enggan berpasangan dengan kita di dunia ini.

Terkadang saya lupa menyadari, bahwa mungkin saja hidup juga muak dengan diri saya. Ya to?

Bisa jadi hidup juga mengatakan kita bangsat, dan menganggap kita bedebah yang sama sekali tak pantas mendapatkan kehormatan di muka bumi.

Maka kemudian terkadang saya berdamai dengan hidup, bersyukur kepada Tuhan bahwa cukup saja tinggal menjalani, dan tak perlu membuat pernak-pernik hidup satu bersatu.

Bayangkan jika untuk sekadar tertawa saja, kita harus membuat bahan leluconnya terlebih dahulu, mementaskannya, baru kemudian tertawa. Bisa jadi ketika semua bahan selesai diracik, siap dipentaskan, kita sudah mati kelelahan.
Untung saja hidup ini, kita tinggal menjalaninya. Untuk tertawa juga musah saja. Tinggal kita lihat lelucon —misalnya dijalanan—, ketika para pengendara sepeda motor memacu kendaraannya di trotoar bagi pejalan kaki, dan marah-marah ketika diperingatkan.

Hidup sebenarnya sedemikian mudahnya, dan kita tinggal menjalaninya.

Tetapi karena begitu mudahnya, terkadang kita [saya] merasa hidup juga autobangsat.
Misalnya saja ketika kita sudah berusaha menjadi orang yang baik, sebaik mungkin. Peduli pada orang lain, setia kawan, tetapi ternyata kawan yang kita bersetia pada mereka, malah menikam dari belakang.

Ketika mengalami kemudahan-kemudahan seperti itu, ditikam dari belakang itu maksudnya, disitulah hidup terasa asu.

Betapa mudahnya, yaa…betapa mudahnya hidup yang kita bangun dengan penuh dedikasi dan usaha untuk menjadi orang baik, tiba-tiba hancur oleh mulut-mulut penjilat yang dengan mudah iri hati pada kehidupan orang lain. Pada mulut-mulut yang suka mencampuri hidup orang lain, tanpa persis tahu kondisi dari orang yang mereka campuri urusannya.

Betapa mudahnya kita jatuh, karena sebab batu-batu yang dilemparkan oleh orang-orang dari belakang. Oleh para pengecut yang tersenyum di depan, namun perlahan membunuh dari belakang.

Hidup adalah ketika kita mendapatkan banyak kemudahan, tanpa perlu banyak mengeluarkan pengorbanan.

Kini pertanyaannya :

“Manakah yang menjadi tuannya, kita atau hidup kita?”

Ah tak usah dijawab juga, terlalu sederhana.

Lebih baik waktu kita gunakan untuk memikirkan hal-hal yang berguna, bukan untuk menjawab dan memikirkan hal-hal sederhana yang tak berguna semacam itu. Waktu, misalnya….kita gunakan untuk menjawab suatu teori penting :

“Jika hidup tinggal menjalani saja, apakah kita berhak berhenti ditengahnya?”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.