Hujan Yang Tak Basah

Gambar : Pixabay

Aku menyukai hujan, pada tiap rintiknya, pada dingin yang menyergap pada tiap jengkal ketidakberdayaan.

Tetapi aku lebih menyukai hujan, tanpa menjadi basah karenanya.

Tetapi aku akan lebih menyukai hujan, jika melaluinya bersama dengan genggaman tanganmu….

Ah ya….namun kini hujan tak lebih dari sekadar kata yang jatuh berhamburan, bukan tentang rintik dan dingin yang menyergap tanpa pemberitahuan.

Bukankah kini juga kau rasa?
Bahwa hujan tinggal menyisakan kering yang menyakitkan?

Hujan tinggal menyisakan belantara kata yang kering, nyaris tanpa makna, dan apalagi basah yang selalu mendinginkan tiap-tiap panas serta amarah.

Hujan tinggal serupa ritual rutin yang tak memberikan kejutan, tak memberikan debar jantung, dan tak lagi menggetarkan hati.
Hujan lebih seperti upacara yang kita hadapi dengan keterpaksaan, dengan penghormatan yang terluap dari sebentuk aba-aba.

Tak ada spontanitas untuk mengernyitkan dahi dan mendaratkan tawa lepas oleh karena rintiknya keras menerpa wajah kita.
Hujan….

Derit jendela tua yang kuyup oleh hujan tak lagi terlihat oleh kita. Pada air yang menempel pada buram kacanya, atau daun kayunya yang mulai rapuh tapi rakus meminum air yang tumpah ruah.

“Kelak daun jendela tua itu akan tumbang karena serakah.”

Hampir serempak kita menggumamkannya, ketika pada suatu siang hujan tiba-tiba merekatkan pelukan kita.

Pernahkah….ataukah itu hanya mimpi yang kita meminjamnya untuk menemani tidur yang tak lelap amat.

Dalam kenyataan yang samar, hujan pernah menyandera kita di tepi sebuah sungai kecil yang keruh, di bawah gerumbul pohon pisang, pada suatu hari sebelum bukit hijau di seberang kota menjadi berwarna kemerahan.
Samar saja, seolah itu hanya pengantar untuk hujan deras hari berikutnya, tepat dimana seekor kucing berwarna putih mati terlindas kereta, tepat dibawah guyuran hujan deras. Darahnya lekas hilang tanpa bekas, menelisip di bawah kerikil dan bantalan rel yang panjang mengular.

“Begitukah darah kucing berwarna putih yang harus mati terlindas kereta?”
Tanyamu, dalam pelan suara yang hampir tenggelam oleh gemuruh suara kereta.

“Tidak juga. Tak mesti, dan tak selalu.”
Aku menjawab sebisanya, sekerasnya, karena waktu itu hujan semakin deras saja menerpa atap seng tempat kita berhimpitan.

Yaa….yang samar memang bukan dibawah gerumbul pohon pisang dan di tepi sungai kecil yang keruh.
Tetapi tepat di bawah bangunan semi permanen beratap seng, di tepi rel kereta sebuah kota kecil. Kota yang bahkan tak mempunyai antena pemancar sinyal televisi.

Namun bukit hijau yang suatu hari kita menatapnya sebelum menjadi kemerahan, adalah juga samar yang lainnya.
Tahukah engkau bahwa kini aku mempunyai jawabannya?
Kenapa bukit yang hijau itu menjadi kemerahan, setelah kita menatapnya lekat sembari saling menggenggam tangan dibawah guyuran hujan?

Aku ingat engkau pernah menanyakannya, dan aku hanya menjawab dengan seulas senyum yang kupaksakan.

Kini aku tahu jawabannya, engkau masih ingin mengetahuinya?

Atau kini ada jawaban lain yang lebih menarik, selain bukit hijau yang menjadi kemerahan itu?

Aku tetap akan memberitahukannya padamu, demi janjiku pada diriku sendiri.

“Bukit hijau itu menjadi kemerahan, karena tak ada lagi orang yang ingin ia tetap menjadi hijau.”

Sesederhana itu….sayangku.

Bukankah terkadang kita memandang dan menilai sesuatu adalah karena subyektifitas kita?
Karena kita ingin menilainya, dan bukan karena kita ingin mengenalnya.

Ah, sayangku….takkan ada lagi bukit hijau itu, karena juga tak ada lagi genggaman tangan yang merekat erat di tepi hujan yang mendera.

Kini kemanakah hujan itu?
Adakah kau membawanya, dalam saku bajumu yang pernah lekat bau tubuhku?

Ataukah kau membuangnya pada jalan yang belum pernah kita melewatinya bersama?

Ataukah kau memberikannya pada pandangan mata dan genggaman tangan yang lain?

Ataukah….

Hujan tak lagi basah pada kakiku menginjakkan langkah. Bukan karena aku membawa payung, atau karena enggan merasakan basah, tetapi sungguh….

….itu adalah karena memang tak ada lagi hujan yang basah.

Hujan kini….lebih serupa kering dalam sebentuk kubangan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

42 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *