Ibadah Haji Dan Kewajiban Untuk Taat Pada Orangtua

gambar : Pixabay

Saya sejenak tercenung, ketika seseorang membicarakan orang yang lain, perihal ibadah serta keyakinan, beberapa hari yang lalu.

Ceritanya, seseorang yang membicarakan orang lain ini, kecewa karena orang yang dibicarakan tidak mau mendengarkan nasihatnya. Perihal ibadah haji.

Saya menguping saja sebenarnya, tanpa sedikitpun berkomentar. Apalah saya ini, hanya rontokan gorengan sisa ronda semalam. Maka saya yang semenjak mereka berbicara sudah mengenakan headphone, pura-pura tidak mendengar, dan juga tidak berkomentar. Padahal, jelas saya mendengar, karena musik pada komputer saya matikan.

Tidak baik sebenarnya mencuri dengar pembicaraan orang lain, tetapi mau bagaimana lagi. Toh saya bukannya mencuri, tetapi memang obrolan mereka tidak dimaksudkan sebagai suatu rahasia. Semua orang di dalam ruangan bisa mendengarkan, termasuk saya yang memakai headphone di kedua telinga.

Tak jelas benar awal mula obrolan dimulai darimana, dan dengan tema apa. Saya baru benar-benar mendengar secara jelas setelah seseorang yang berkomentar menaikkan nada suaranya, seperti untuk mengeluarkan ekspresi kecewa. Perihal ibadah haji itu tadi, dan kenapa orang yang dibicarakannya enggan mendengarkan nasihat yang baik.

Begini, untuk memudahkan, kita sebut seseorang yang membicarakan sebagai si A, dan yang dibicarakan sebagai si B. Kedua orang itu adalah tokoh utama. Nanti ketika muncul si C, si D, dan si E, hanya sebagai pelengkap saja.

Saya?
Saya sebagai setan yang berkomentar melalui tulisan, ketika sudah selesai semua obrolan serta percakapan.

Si A menyesali keputusan si B yang tidak mendengarkan nasihatnya. Agar si B menggunakan uang yang diberikan ibunya, untuk mendaftar ibadah haji.

“Sudah saya nasihati, tetapi tetap saja tidak mau.” kata si A pada si C.

Ceritanya, si B mendapatkan sejumlah uang dari ibunya, dengan disertai sebuah pesan bahwa uang itu harus digunakan untuk berangkat ibadah umrah.

“Umrah kan tidak wajib, sedangkan haji sifatnya wajib. Tinggal bilang pada ibunya, agar mengubah akad pemberian uang menjadi untuk ibadah haji. Kan malah lebih bagus.” kata si A lagi, pada si C, si D, dan si E.

Tetapi ternyata menurut si A, si B tidak mengikuti nasihatnya, dan tetap menuruti perintah ibunya untuk berangkat umrah.

Sekarang menurut anda, bagaimana sikap si B tersebut?
Apakah ia sudah benar?
Ataukah ia melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan si A?

Menjawabnya tak semudah merebus air, juga tak seenak minum kopi sembari menyaksikan matahari berpelukan dengan cakrawala pada suatu senja. Tidak semudah dan seenak itu semestinya.

Ada berbagai faktor yang harus diperhatikan. Salah satunya, mengenai definisi wajib yang berulang kali ditekankan oleh si A.
Perihal kesalahan si B yang lebih memilih umrah daripada mengalihkan uang hibah dari ibunya untuk mendaftar ibadah haji.

Haji memang wajib, bagi yang mampu.

Selama ini yang disalahpahami, sebagian besar orang menafsirkannya sebagai ‘mampu’ dalam hal ekonomi saja. Dalam hal biaya, dengan menafikan kesanggupan mental maupun spiritual.
Sudahkah benar-benar siap dan mampu mental dan spiritual mereka yang hendak menunaikan ibadah haji.

Dalam kasus si B, jelas ia dalam posisi yang tidak atau belum mampu untuk berangkat haji, atau juga mendaftarnya.
Si A sempat juga menyarankan agar menambah sedikit lagi untuk menggenapi biaya pendaftaran ibadah haji. Tentu setelah si B berbicara lagi dengan ibunya untuk mengubah akad pemberian uang.

Tetapi ya itu tadi, si B tetap keukeh untuk berangkat umrah, dan mengabaikan saran si A termasuk menambah sedikit lagi uang untuk menambah biaya pendaftaran.

“Utang kan juga bisa, tinggal kurang sedikit saja.” kata si A.

Namun si B tetap berangkat umrah, sesuatu yang disesali si A.

Hanya jika ada yang tidak dipahami oleh si A, adalah perihal kepatuhan si B terhadap perintah ibunya. Terhadap perintah orang yang oleh Tuhan sendiri ditetapkan sebagai orang yang harus diutamakan dan dihormati.

Bukankah :

“Ridho Tuhan tergantung ridho orangtua, terutama ibu?”

Lagipula, bagian terpentingnya, si B tak harus mengeluarkan biaya sepeser pun untuk berangkat umrah.
Ibunya memberikan uang sejumlah itu, semata ingin melihat anaknya berangkat ke tanah suci, meski ‘hanya’ melaksanakan ibadah umrah.

Nilai yang terpenting, menurut setan seperti saya ini, adalah tentang bagaimana taatnya si B terhadap perintah orangtuanya.

Juga, perintah orangtuanya bukanlah perintah kepada keburukan, bahkan suatu perintah kebaikan, maka dari itu tak pantas untuk kemudian dipertentangkan. Jika ditelaah lebih lanjut, bahkan sikap si B harusnya didukung dan bukannya mendapat kritikan.

Bayangkan bagaimana misalnya ketika akhirnya si B tidak berangkat umrah, dan memilih mendaftar ibadah haji.

Sebelum si B berangkat, ibunya meninggal karena usia. Misalnya saja.

Sebagai catatan, si A dan si B ini sudah hampir memasuki usia pensiun. Bahkan si B yang sedang dibicarakan ini, pensiun pada tahun ini.

Maka dengan asumsi bahwa dulu ibunya melahirkannya pada usia 20, saat memberikan uang untuk si B berangkat umrah, usia ibunya sudah hampir 80 tahun.

Pada masa sekarang ini, seseorang dengan usia lebih dari 80 tahun sudah begitu istimewa. Masih ditambah dengan kenyataan bahwa antrian berangkat haji di Indonesia sampai sekira 20 tahun.

Jika si B mendaftar haji dan berangkat 20 tahun kemudian, apakah ada jaminan bahwa ibunya akan masih hidup menyaksikan anaknya menjadi seorang haji, pada usia hampir 100 tahun?

Mungkin saja apa yang diinginkan oleh ibu si B, bahwa ia ingin melihat anaknya sowan, melawat ke tanah suci, meski ‘hanya’ ibadah umrah. Mungkin akan menjadi kelegaan tersendiri bagi seorang ibu, demi melihat anaknya sudah sampai dan menginjak tanah suci, menyesap udaranya, meneguk airnya. Bukan perihal lain-lain yang akan melegakannya, mungkin hanya sekadar melihat anaknya sampai di tanah suci sudah sangat membahagiakannya.

Menurut setan seperti saya, sudah tepat kiranya jika si B lebih menurut kepada ibunya. Membahagiakan ibunya, melegakan segenap hati serta perasaannya.

Lagipula, kenapa si A tidak berinisiatif memberikan kekurangan biaya pendaftaran ibadah haji pada si B?
Kalau hanya sekadar nasihat, anak TK juga bisa.

Tetapi tentu akan lebih baik jika si A merasa mendaftar ibadah haji lebih penting dari menaati perintah orangtua, diberikannya kekurangan biaya pada si B. Dan bukan hanya sebatas berbicara.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

10 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.