Ilmu Sejarah, Ilmu Dalam Lipatan

Saya dulu sempat kebingungan, ketika beberapa orang bertanya di mana saya kuliah, dan kemana kelak akan bekerja. Itu terjadi 15 tahun lalu, pada tahun 2004.

Ketika saya jawab, di Ilmu Sejarah, saya akan kebingungan menjawab pertanyaan selanjutnya.

Maka saya lebih sering menjawab kuliah di Fakultas Sastra. Dengan pengucapan ‘kata’ fakultas yang lirih saja. Dengan itu, saya akan terdengar berkuliah di Sastra. Ketika terdengar seperti kuliah di Sastra, saya tak terlalu kesulitan menjawab pertanyaan selanjutnya.
Sastra? Trus besok kerja apa?

Itu adalah pertanyaan yang lazim saya temui. Waktu itu, saya seringkali menjawab akan bekerja di majalah Bobo, atau majalah Djoko Lodang.

Jurusan Sejarah menjadi semacam simalakama bagi saya. Pada satu sisi ia membawa pada suatu kebanggaan karena berada pada kampus ngedab-edabi, UGM. Namun sekaligus saya selalu gentar mengatakan dan menjelaskan mengenai Jurusan Sejarah itu sendiri.

“Wong wis jaman kliwat kok iseh dipelajari, arep nggo ngopo?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, muka saya akan terasa mlotrok seketika, kiwah-kiwih. Untuk menambal rasa minder itu, saya akan berbalik bertanya :
“Tahu enggak siapa waktu itu menjelang proklamasi, yang membeli kertas untuk mengetik naskah?”

Semua orang yang bertanya, pasti takkan bisa menjawab pertanyaan balik dari saya.

“Haa yo embuh. Tidak tahu.” kebanyakan jawaban mereka, seperti itu.

“Nah, itu pentingnya mempelajari Ilmu Sejarah.” kata saya sembari nyengir penuh kemenangan. Kemenangan semu.

Selepas dialog seperti itu, jujur saja saya akan langsung nglemprak, dan tak bersemangat kuliah. Apalagi membaca buku-buku sumber yang tebalnya bisa untuk mengganjal roda truk atau bis yang kagol di tanjakan. Belum lagi jamahan tangan banyak orang membuat buku-buku itu kusamnya melebihi bulu kambing yang seumur hidup tak pernah mandi.

Tetapi tempo hari, ketika ngopi bersama kawan-kawan SMA,
saya menjadi sedikit terhenyak. Mereka [terlihat] tertarik dengan sejarah.

Sejarah yang berbeda

“Sejarah yang tertulis pada buku pelajaran sekolah, sama po gak dengan yang di buku kuliah?” hampir serempak kawan-kawan saya bertanya hal itu.

“Berbeda.” saya jawab singkat.

Ya tentu berbeda. Buku pelajaran sejarah di sekolah, dari SD sampai SMA, itu baunya sudah ‘terlalu harum’.
Harum bagi kepentingan-kepentingan propaganda pemerintah.

Apa yang ada dalam buku pelajaran sekolah itu, lebih kepada pengenalan nama-nama tokoh, penghafalan tanggal kejadian, dan juga kisah-kisah heroik. Ya kiranya memang harus begitu. Iklim pendidikan kita pada sekolah formal, belum bisa menerima perdebatan sampai pada tingkat yang paling runcing, namun sublim.

Misalnya, karena pelajaran sejarah yang diajarkan adalah ilmu sejarah murni, ada murid bertanya kepada gurunya :
“Bu Guru, apakah negara ini inkonstitusional karena semenjak tahun 1965, tidak diketemukan bukti peralihan kekuasaan pemerintahan secara sah?”

Dan guru yang ditanya, adalah fans garis keras daripada orde sebelum reformasi.
Bisa kita bayangkan betapa serunya dialog dan diskusi yang terjadi di dalam kelas.

Tetapi kan ya tidak mungkin juga to?

Biarlah sejarah murni tetap menjadi konsumsi manusia-manusia selow kurang kerjaan, yang sulit untuk move on ke masa depan. Sedang dunia sudah bergerak kencang melaju ke masa depan, manusia-manusia pemakan sejarah ini tetap istiqomah menengokkan kepala dan pandangan ke masa lampau. Termasuk saya….

Kawan saya tempo hari, tertarik mengenai cerita-cerita ‘sebenarnya’ dari sejarah peradaban modern Indonesia. Sejarah kekuasaan raja-raja, dan ‘intrik-intrik’ di dalamnya.
Lhoh, jaman kerajaan kok sudah modern?
Lhoh, lhaiya. Setidaknya karena di jaman kerajaan, sudah ada uang atau alat pembayaran untuk transaksi jual beli. Bukan hanya sekadar ngunduh dan mengambil dari alam sekitar, yang dikategorikan sebagai masa berburu dan meramu. Pra modern. Jamannya moyangmu, jaman Homo Wajakensis.

Saya sarankan beberapa buku untuk dibaca, mengenai sejarah nasional. Saya sarankan juga sebenarnya, untuk membaca dari jaman ketika manusia masih hidup di gua-gua, di sepanjang pantai timur Sumatera.

Biar apah?
Ya biar buku-buku tebal menjemukan itu ada yang membacanya.

Membaca buku dan literatur sejarah, berarti juga merintis jalan untuk berhati-hati melangkah di masa depan. Dengan mengetahui sejarah, kita lebih tahu diri dan mawas diri dalam menjalani hidup dan kehidupan. Kita akan menjadi rendah hati.

Contoh gampangnya, dengan mengetahui kenyataan sejarah bahwa manusia Indonesia asli bukanlah yang berkulit sawo matang seperti mayoritas sekarang ini, maka kita takkan mudah mengklaim sebagai pribumi tunggal. Lantas juga takkan dengan angkuh mengatakan bahwa yang bermata sipit itu pendatang minoritas, dan yang berkulit hitam keriting itu dari peradaban tertinggal.

“Dengan mempelajari sejarah, kita akan menjadi lebih rendah hati, dan tak mudah memercikkan api keangkuhan yang bermuara pada permusuhan.”

Betapa saat ini, banyak manusia Indonesia yang menjadi angkuh serta merasa paling benar, tanpa secara persis mengetahui kenyataan-kenyataan pada masa yang lalu.

Kenyataan bahwa tak semua manusia berkulit putih dari Eropa adalah penjahat dan penjajah, akan menjadikan kita lebih bijaksana untuk tak secara sepihak menghakimi bahwa mereka semuanya tak beradab.

Manusia, baik ataupun buruk, ada pada semua tempat dan semua bangsa. Bukan monopoli suatu ras atau agama tertentu.

Dengan membaca literatur sejarah, kita juga akan tahu, bahwa Belanda itu menjajah wilayah yang kini bernama Indonesia, bukan selama 350 tahun. Tak seperti yang selama ini diberitakan melalui buku-buku pelajaran sejarah di sekolah.

Apa yang sebelumnya terjadi, adalah persekutuan dan perhubungan perdagangan. Antara armada Kerajaan Belanda, dengan penduduk atau kerajaan-kerajaan yang banyak jumlahnya di kepulauan subur ini.

Sini saya kasih tahu.
350 tahun itu hanya akal-akalan. Ditambah yang 3,5 tahun oleh Jepang. Itu hanya upaya penyangkalan saja dari kegagalan lambatnya pemerintah memakmurkan negara serta masyarakatnya.

Kok bisa?

Mudahnya begini. Ketika ada tuntutan mengenai peningkatan kesejahteraan, pemerintah akan mempunyai dalih yang cemerlang.

“Wajar kita memang sulit menuju kemajuan dan kemakmuran, karena negara kita pernah dijajah dan dibodohkan selama 350 tahun oleh Belanda. Ditambah lagi 3,5 tahun oleh Jepang. Kita harus lebih berusaha.”
Begitu dalihnya.

Seolah alasan tersebut benar belaka. Apalagi ditambah bukti :

“Dibodohi oleh mantan pacar atau mantan pasangan selama beberapa bulan saja tidak bisa move on seumur hidup. Apalagi dibodohi ratusan tahun oleh penjajah.”

Nah kan, seolah benar adanya pembelaan dari penyelewengan kenyataan sejarah seperti itu.

Maka, meski tak cukup bonafit untuk dibuka secara luas bahwa saya pernah kuliah pada Jurusan Sejarah, tetapi saya bangga pernah tersesat di sana.
Meski cuma setahun, pengalaman itu takkan bisa ditukar dengan apapun.

Jika ada yang masih harus disesali, adalah kenyataan bahwa ilmu dan pengalaman selama kuliah singkat itu, hanya saya gunakan dengan baik pada :

“Saat ketika membuka sejarah angsuran hutang, sudah sampai bulan keberapa, masih sisa pokok berapa, kalau dilunasi denda berapa atau malah ada cashback seberapa, dan itu digunakan sebagai data rujukan untuk memperbaharui hutang lagi, lebih banyak lagi.”

Nah.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *