In The Name Of Discount, We Trust

iustrasi diskon. Gambar : Pixabay.

Pernahkah anda tiba-tiba menghabiskan Tunjangan Hari Raya [THR] hanya untuk satu struk belanja baju, atau beberapa struk tapi dalam satu waktu?
Hanya karena melihat label diskon, yang tertera dengan angka mengesankan antara 25 sampai dengan 75 persen itu?

Pernahkah?

Jika pernah, maka anda tidak sendirian. Banyak yang seperti anda, tergoda oleh meronanya angka persen yang dicantumkan oleh pengelola pusat perbelanjaan. Angka 25% adalah angka wajar. Dalam arti, belum akan menggoda para calon pembeli bahkan untuk sekadar mendekat pada barang yang dimaksudkan.

Tetapi ketika 25% dipadukan dengan bilangan 50 dan atau 30 saja, maka sudah akan mampu mempengaruhi psikologis calon pembeli.

Sudah akan banyak pertanyaan yang menepikan rasionalitas akal sehat. Misalnya seperti apakah harga final nantinya memang benar-benar lebih rendah dari harga normal di hari-hari biasa. Apalagi jika bilangan yang dicantumkan adalah 75%, maka otak tak akan lagi mampu untuk berpikir selain membeli. Tak ada lagi penelahaan perihal apakah harga memang benar-benar mendapatkan potongan sebesar itu.

Dengan banyaknya label diskon yang disebar oleh pengelola pusat perbelanjaan, maka calon pembeli akan langsung kehilangan akal sehat seperti ayam berebut makan. Kesana kemari akan menimang dan melihat-lihat barang, mematutnya di depan cermin, kemudian mengambil dan membayarnya. Bahkan banyak orang akan lupa prioritas barang yang harus dibelinya, karena tergiur label diskon besar.

Niat hati hanya ingin membeli baju, tetapi demi melihat celana dan sepatu yang tersemat diskon besar, mendadak keinginan membeli baju terbang seperti debu. Walhasil, banyak barang yang terbeli kemudian tidak sesuai dengan kebutuhan atau perencanaan.

Benar, bukan?

Sahabat pas-pasan yang ingin terlihat tetap keren meski menggunakan baju diskonan….

Memang tak ada salahnya melenceng dari prioritas, ketika membeli suatu barang. Hanya saja yang perlu menjadi catatan, memang ada uang berlebih dalam dompet atau rekening tabungan.

Jika anda memang hanya mempunyai anggaran pas-pasan seperti penulis ini, maka anda harus mengencangkan ikat pinggang dan menggenggam erat skala prioritas.

Jangan sampai label diskon besar-besaran melukai dompet dan juga rekening tabungan.

Maka ada sedikit tips yang bisa sama-sama kita bagi dan terapkan bersama-sama. Semata agar kita tidak melaksanakan sholat Ied sembari memasang wajah kiwah-kiwih dan ingah-ingih karena isi tabungan sudah tandas.

Pertama, kuatkan tekad.
Ahahaha, kayak anak TK baru belajar puasa saja, kuatkan tekad. Tetapi resep ini juga berguna. Kuatkan tekad untuk hanya membeli barang yang benar-benar sudah kita prioritaskan.

Jika dari rumah berniat membeli celana, ya sudah mata fokus mencari celana. Syukur-syukur celana yang kita inginkan juga mendapatkan potongan diskon, itu adalah bonus. Tak usah melirik barang lain yang bentuknya bukan celana. Persetan sepatu bagus tersemat label diskon 80%, raurusan. Fokus kita hanyalah ingin membeli celana, bukan yang lain.

Tips ini memang sedikit absurd, tetapi manjur. Percayalah, hanya dengan melekatkan fokus pada satu tujuan, maka kita akan terhindar dari bencana jebolnya tanggul rekening.
Kalau penghasilan kita dalam sebulan bisa untuk membeli satu sepeda motor sih, tak mengapa membeli celana sekaligus sepatu. Tetapi kalau penghasilan anda tak berbeda jauh dengan saya, hanya cukup untuk mengangsur cicilan rumah dan makan di angkringan, jangan coba-coba keluar dari fokus, atau anda akan mengalami hari Idul Fitri yang suram dan temaram.

Kedua, batasi anggaran.
Ini lebih absurd lagi sebenarnya. Batasi anggaran atau uang yang anda bawa ke toko atau pusat perbelanjaan.

Sebelumnya tentu anda mempunyai harga perkiraan perihal barang yang ingin anda beli, maka bawa uang yang pas-pasan saja. Sekira cukup untuk membayar dan membeli bensin serta membayar parkir. Tak usah membawa uang berlebih, dan tinggalkan segalamacam kartu perbankan anda. Tinggalkan kartu kredit, kartu debet, atau juga kartu ATM. Bawa uang secukupnya. Secukupnya untuk membeli barang yang benar-benar kita butuhkan.

Jika barang lain terlihat menggoda dengan diskon besar dan menggiurkan, anggap saja itu adalah setan yang sedang mencoba menggoda anda. Dan anda tentu tahu tabiat setan, ia akan tertawa puas setelah kita menderita. Ahahaha….

Sebenarnya bukan salah setan juga sih, karena manusia yang memang cenderung kesetanan jika melihat diskonan.

Ketiga, ini adalah saran yang paling mudah diterapkan.
Tak usah berbelanja.

Yup, dengan tidak berbelanja dan tidak mendatangi toko atau pusat perbelanjaan, kita akan terhindar dari bencana termakan diskon besar-besaran.

Jika tak ada barang-barang yang benar-benar sangat kita butuhkan, mempengaruhi kehidupan kita jika tak segera didapatkan, lebih baik tak usah mendatangi pusat perbelanjaan. Duduk saja di rumah sembari membaca dan memberikan komen pada blog ini. Asik bukan?

Tetapi semua itu tadi dengan catatan bahwa anda mudah tergoda oleh diskonan, dan penghasilan anda juga pas-pasan.
Namun jika anda tak mudah tergoda diskonan, dan terlebih lagi penghasilan anda lebih dari cukup untuk membeli sebuah sepeda motor atau mobil setiap bulan, ya tak mengapa memborong barang diskonan.

Sebab tak ada yang salah dengan borong memborong barang diskonan jika memang mampu.
Yang salah adalah kenapa barang diskonan cenderung tidak sesuai dengan selera kita, ya???

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

32 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.