IRONI IMPOR TEMBAKAU OLAHAN

Hampir saja saya berteriak kegirangan, kalau tak segera menyadari bahwa ada beberapa orang lain di dekat saya, ketika isapan pertama dari lintingan tembakau merk Mac Baren melewati hidung dan tenggorokan. Rasanya halus, menyisakan rasa manis yang tidak membuat ‘eneg‘ di lidah, dan tidak membuat panas serta tersedak. Saya tertegun sejenak, untuk kemudian cepat-cepat kembali menikmati selinting tembakau di tangan kanan.

Sebentar, apa itu Mac Baren?

Oh iya, tak semua pembaca adalah perokok, apalagi penggemar rokok, apalagi fans berat tembakau linting.

Mac Baren adalah merk sebuah produk tembakau olahan, dari negara nun jauh di Eropa, dari Skandinavia.

Mungkin saya saja yang sedikit kurang pergaulan didalam dunia rokok serta tembakau. Selama sekian waktu, saya hanya tahu beberapa jenis tembakau dan rokok buatan pabrik yang juga itu-itu saja. Maka begitu menikmati tembakau impor dari Denmark itu, perasaan saya campur aduk seketika. Antara rasa senang, bahagia, namun sekaligus penuh tanda tanya. Tanda tanya terbesar adalah, Denmark, tidak mempunyai komoditas pertanian berupa tembakau. Lalu darimana mereka bisa menciptakan produk tembakau yang rasanya, menurut saya, hampir paripurna. Sejauh ini, itu adalah tembakau paling enak yang pernah saya rasakan.

Mac Baren membuat produk olahan tembakaunya dari jenis tembakau Burley dan Virginia. Tembakau Burley, di Indonesia, paling banyak dihasilkan di daerah Lumajang, Jawa Timur. Sedang tembakau jenis Virginia, paling banyak dihasilkan di Lombok, juga Lampung. Jangan terjebak dengan nama ‘keren’ Burley dan Virginia yang terkesan kebarat-baratan, oleh karena itu lantas dikira bahwa kedua jenis tembakau berasal dari luar negeri. Burley dan Virginia adalah dua jenis tembakau yang mampu dihasilkan dengan baik oleh tanah pertanian Indonesia.

Denmark mendapatkan pasokan tembakau untuk produksi tembakau olahan mereka dari Bremen, pasar lelang tembakau Indonesia di Eropa.

Denmark, negara dengan wilayah negara paling tak luas di area Skandinavia itu, tak mungkin menanam tembakau. Denmark hanya bisa menghasilkan tanaman liar bernama Nicklas Bendtner, dan tak mungkin menghasilkan tembakau.

Mengapa pabrik rokok dan olahan tembakau Indonesia tidak mengolah tembakau menjadi sekelas seperti Mac Baren?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana menyulut sebatang rokok, tak pula semudah menyulut amarah melalui isu agama, atau isu politik. Tembakau, tak pernah lagi menjadi sederhana semenjak banyak kepentingan berkelindan disekitarnya.

Bisa jadi, salah satu alasan dan penyebabnya karena pasar konsumsi terbesar olahan tembakau di Indonesia adalah untuk rokok dalam kemasan, bukan tembakau kemasan.

Seperti kita ketahui, rokok kemasan jauh lebih praktis dari tembakau kemasan. Tak harus melinting, tinggal mengambilnya sebatang dari wadah kemasan, kemudian menyulutnya.

Sedang tembakau, ia harus melintingnya terlebih dahulu. Jauh dari kata praktis, meski jauh lebih ekonomis.

Begitupun dari skala produksi massal, mungkin saja mengolah tembakau seperti yang dilakukan Mac Baren tidak memberikan keuntungan signifikan bagi pabrikan, sehingga mereka lebih memilih fokus pada satu produk, dan tidak menggarap produk yang satu ini, meski menurut saya mempunyai ceruk pasar yang cukup potensial.

Sehingga, untuk memenuhi permintaan pasar, maka dilakukan skema impor. Ironis kemudian, karena tembakau bahan ‘mentahnya’ melimpah ruah di Indonesia. Ketika dilakukan impor terhadap suatu barang atau produk tertentu, maka itu berarti ada permintaan yang tak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

‘Warisan’ kebijakan berupa ekspor barang mentah dan kemudian melakukan impor kembali produk ‘matangnya’ ke Indonesia, memang harus mulai dihentikan, untuk komoditas apapun. Seyogyanya pemerintah mulai serius mengkaji hal ini, meski untuk beberapa produk memang mulai dilakukan pembatasan ekspor bahan mentah.

Khusus untuk tembakau, saya rasa pabrik lokal pengolahan di Indonesia harus mulai melirik ceruk pasar tembakau sebagai bahan linting ini. Meski memang tak terlalu besar, mereka yang lebih dahulu berani memulainya akan mendapatkan nama. Kenapa masih saya sebut belum ada yang memulainya, padahal beberapa merk dari dalam negeri sudah cukup lama menghasilkan produk seperti yang saya maksud?

Mereka belum memulai membuat produk dengan sepenuh hati, dengan cita rasa paripurna. Produk yang bisa bersaing dengan produk-produk impor. Produk yang bisa memenuhi ekspektasi, produk yang tak asal jadi. Produk yang membuat konsumen mengerjapkan mata, tertegun, dan kemudian menyatakan berbaiat untuk tak sanggup lain ke lain hati merk.

Jujur saja, beberapa produk lokal belum ada yang setara dengan Mac Baren, baik dalam kualitas rasa, bahkan kemasannya. Oh iya, kemasan tembakau dari Mac Baren ini, tak kalah ciamik dan menarik dari Kinderjoy, sungguh!

Tembakau Indonesia, dalam hal kita berbicara mengenai produk unggulan, adalah yang terbaik di dunia. Tak ada alasan bagi pabrik rokok dalam negeri untuk tidak membuat produk olahan tembakau yang bisa melampaui Mac Baren. Yaaa, setidaknya daripada kita terus menerus impor dari negara yang tidak mempunyai tanaman tembakau.

Semoga saja ada yang segera membuat tembakau olahan dengan citarasa dan gaya seperti yang dilakukan Mac Baren.

Jika dilakukan, dan bisa menghasilkan produk dengan rasa dan gaya yang setara, tentu saja harga produk dalam negeri akan jauh lebih murah daripada produk impor.

Nah, andai selisih harga tak diberikan secara langsung melalui pemotongan harga, maka bisa dilakukan secara tak langsung untuk menambal defisit BPJS, melalui pajak cukai tentunya.

Poin terakhir, membuat saya tetap merasa terhormat sebagai perokok, di tengah cibiran dan makian betapa merokok tak ada manfaatnya.

Oh iya, sedikit pesan untuk anda yang tertarik untuk mencoba tembakau Mac Baren setelah membaca tulisan ini ; Tembakau Mac Baren adalah tembakau rajang halus, dengan tekstur lembut. Tanpa campuran cengkeh, tembakau ini sudah nikmat tiada terkira, dan ketika dicampur dengan cengkeh, serasa surga berada didepan mata. Dengan jenis tembakau rajang halus dan tekstur lembut, maka linting lah tipis-tipis saja, jangan terlalu tebal. Meski tipis, tetap saja manis. Setelah itu, anda boleh misuh atau bersyukur, karena paling tidak sekali seumur hidup, anda pernah melinting tembakau dengan cita rasa paripurna.

***
Tulisan pernah tayang di situs tipistipis.in, dengan tambahan dan pengurangan seperlunya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

25 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *