Isolasi

Hail isolasi, lakban, selotip, dan apapun namamu yang belakangan sangat kondang di jagad manusia ataupun lelembut. Terpujilah namamu yang harusnya bisa menyelamatkan nyawa banyak manusia. Dengan syarat, bahwa manusia tak hanya sebatas menyebut namamu, tetapi juga menjadikan namamu sebagai kata kerja.

Dilakukan, dan bukan hanya digamblehkan diucapkan.

Terpujilah orang-orang semacam saya ini sebenarnya, dalam kondisi semacam ini, karena pada dasarnya saya tak terlalu menyukai keramaian. Saya lebih senang keheningan, menyendiri, bahkan cenderung mengisolasi diri dari pergaulan sosial. Singkatnya, orang semacam saya ini berinteraksi sesuai porsi. Bukan lantas senang dengan keramaian dan setiap waktu harus berada di tengah keramaian.

Namun, lebih terpuji lagi anda yang sebenarnya begitu menyukai keramaian, berkumpul, tetapi saat ini bisa menahan diri dan memilih isolasi.
Kenapa? Menahan untuk tidak melakukan sesuatu yang sebenarnya disukai, demi kemaslahatan masyarakat luas, adalah hal yang terpuji.

Salam hai kopet Covid-19. Keren bener show mu akhir-akhir ini. Andai blog ku ini bisa cepat tenar macam nama kau, alangkah senangnya. Cepat tenar namanya saja, dan bukan bersama hal-hal yang merugikan itu.

Jujur saja, kita ini sama-sama makhluk Tuhan, tetapi jujur sejujur-jujurnya, aku tak suka makhluk Tuhan yang macam kau ini.

Seperti aku juga tak suka makhluk Tuhan bernama manusia, yang sukanya menyepelekan, tetapi kalau sudah ketanggor lantas menyalahkan orang atau pihak lain. Ah, kopet banget itu…

Tentu saja kau datang bukan tanpa sebab dan alasan, pun tak salah juga orang-orang yang berpendapat kalau kau dikendalikan oleh-Nya. Bahkan andai kau menyebabkan kematian, beberapa orang menganggapnya sebagai ketentuan Tuhan.

Namun dengan analogi sederhana saja, manusia tak boleh segoblog itu. Manusia tak boleh takut mati, namun tak boleh menyambut mati dengan kepongahan. Boleh berani menghadapi mati, tapi tak boleh bunuh diri.

Kalau mati itu urusan Tuhan, silahkan terjun dari pesawat tanpa perasut. Kalau tetap hidup, bisa jadi Tuhan sayang. Kalau pun modar, bisa jadi juga Tuhan tetap sayang. Tetapi jelas Tuhan menyayangkan tindakan penuh kesia-siaan semacam itu.

Dan dalam situasi semacam ini, mengisolasi diri adalah tindakan paling logis yang bisa dilakukan. Membatasi pertemuan dan interaksi dengan orang lain. Meminimalisir bencana yang mungkin saja akan terjadi, jika kita mengabaikan hal-hal kecil semacam ini.

Sini saya kasih tahu ilustrasinya. Nama dan tempat hanya fiktif belaka, dan hanya digunakan sebagai pengandaian.

Pak Parman adalah seorang ketua gabungan kelompok tani di kecamatan tempat tinggalnya. Beberapa hari yang lalu Pak Parman pergi ke Jakarta dan bertemu dengan banyak orang dalam suatu pertemuan. Tanpa disangka, salah seorang yang hadir dalam pertemuan itu sudah terpapar virus Covid-19. Pertemuan yang dihadiri ratusan orang itu bubar dengan tak seorang pun menyadari, bahwa sebagian besar dari mereka sudah terpapar virus yang dibawa oleh satu orang itu. Termasuk Pak Parman, ia juga tak menyadarinya.

Sesampainya di kecamatan tempat tinggalnya, Pak Parman mengumpulkan anggotanya untuk menyampaikan hasil pertemuan di Jakarta. Hadirlah lima puluh orang dari perwakilan masing-masing kelurahan. Bukan hanya petani, tetapi juga pengurus koperasi dan pedagang beras.

Tentu saja pertemuan diawali dengan saling bersalaman, bahkan beberapa saling cipika-cipiki. Pak Parman tidak tahu bahwa ia sudah membawa virus Covid. Pun perwakilan dari kelurahan juga tak ada yang tahu kalau virus Covid kini sudah hinggap ditubuh mereka, karena berinteraksi dengan Pak Parman.

Pertemuan bubar, dan masing-masing orang kembali ke rumah masing-masing. Ada yang langsung ke rumah, ada yang mampir warung, ada yang mampir pom bensin, ada juga yang mampir rumah ibadah. Di tempat-tempat itu, mereka saling berinteraksi dengan warga masyarakat lainnya. Dan….. Kini satu kecamatan terpapar virus Covid. Padahal, kecamatan tempat Pak Parman berada adalah sentra penghasil beras.

Karena penduduk kecamatan sentra penghasil beras itu kini terpapar Covid, maka mereka tak bisa beraktifitas. Karena tak beraktifitas, maka ketersediaan bahan pangan menjadi terancam.

Itu baru oleh-oleh dari Pak Parman, dan dalam satu kecamatan. Bagaimana ratusan orang lain yang sama-sama menghadiri acara dengan Pak Parman di Jakarta?

Bayangkan saja kalau itu tersebar di seluruh wilayah negara Indonesia, dan bayangkan pula sebab penyebarannya hanya karena kita tidak mau untuk sementara waktu membatasi interaksi dengan orang lain. Sejenak saja membatalkan acara-acara yang menghadirkan banyak orang.

Adakah jaminan bahwa salah seorang dalam pertemuan itu pernah berinteraksi dengan entah siapapun yang sudah terpapar Covid? Bahkan jika itu tanpa sengaja. Entah bertemu di mall, di warung, di rumah makan, di dalam bus, di suatu pertemuan, atau dimanapun. Adakah jaminan bahwa tak ada yang sudah terpapar?

Bagaimana jika kisah Pak Parman itu bukan fiksi?
Sejauh mana negara akan mampu bertahan, ketika penyokong perekonomiannya satu per satu tumbang hanya karena kekurangpedulian kita?

Sanggupkah kita kembali berada dalam krisis ekonomi, yang ternyata disebabkan juga salah satunya oleh ulah kita yang serampangan. Maukah kita membeli beras dengan harga sekilo 50 ribu rupiah? Telur sekilo 60 ribu rupiah?

Mau? Tentu saja saya yakin anda tidak mau.

Tetapi sekadar untuk mengikuti instruksi sederhana membatasi interaksi dengan orang lain saja saat ini, anda ngeyel. Terus maunya bagaimana?

Tuhan memang menyukai dan menyayangi orang-orang beriman. Tetapi tahukah anda bahwa Tuhan jauh lebih menyukai dan menyayangi orang-orang yang bertakwa.

Siapakah orang yang bertakwa itu?
Yaitu orang-orang yang dalam imannya terkandung nalar serta logika. Ia mengimani Tuhan karena memang menyadari bahwa keberadaan Tuhan itu masuk akal, Kuasa Tuhan itu masuk nalar. Bukan hanya ikut-ikutan orang lain dan lantas ia ikut percaya tentang adanya Tuhan.
Iman karena kesadaran adalah iman yang tumbuh karena pencarian serta proses juga ketekunan, dan kemudian menjadi ketakwaan. Bukan hanya iman yang membabi buta.

Bukankah Tuhan menyuruh manusia untuk berpikir?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *