Jadilah Contoh, Bukan Memberi Contoh : Tidak Berlaku Untuk Rambut Gondrong

Saya selalu setuju, dan sepaham, bahwa segala sesuatu yang baik dimulai dari diri sendiri. Dalam artian, memberi nasihat adalah nomor kesekian, setelah kita melaksanakan hal itu, pada diri dan kehidupan kita sendiri.

Misalnya saja, membudayakan anak untuk mau merapikan kamar atau tempat tidurnya sendiri. Tidak cukup dengan kita memberikan contoh, mengajari mereka cara-cara menyapu atau merapikan sprei tempat tidur. Tidak cukup dengan hal seperti itu.

Apa yang akan lebih mengena pada anak, agar ia juga mau membersihkan kamar dan merapikan tempat tidurnya sendiri, adalah dengan kita juga merapikan dan membersihkan kamar kita sendiri. Konstan, berkala, terus menerus.

Ketika anak melihat kita melakukan demikian, maka apa yang tertanam dalam pikirannya, bukan lagi suatu perintah. Perintah, bisa jadi adalah beban.

Mengubah ‘perintah’ menjadi kesadaran, adalah dengan pembiasaan, serta dengan sentuhan. Sentuhan terhadap hati dan perasaan si anak.

Kalimat perintah cenderung akan diolah di dalam pikiran, dan ketika tidak sejalan dengan kemauannya, maka mereka akan menolak. Tetapi kesadaran, tumbuh dari dalam hatinya, dan ia takkan lagi bisa mengelak selain mau tidak mau akan mengerjakannya.

Komunikasi adalah hal yang paling utama.

Menyentuh hati dan perasaannya, mengajaknya berbicara layaknya teman sebaya, menghargainya, maka mereka akan tersentuh, dan mendengarkan apa yang kita sampaikan.

Terlebih dulu kesampingkan ego bahwa kita selalu benar, sebagai seorang yang sudah hidup dengan banyak pengalaman. Hal seperti itu takkan mempan untuk menyentuh hati serta perasaan mereka. Bisa jadi mereka malah akan menganggap kita sebagai orang tua sok tau yang tidak peka terhadap keinginan mereka.

Syakit kan kalau seperti itu.

Mengajak anak untuk berpikir, sama saja menyuruh mereka untuk dewasa sebelum waktunya.

Ranah kemampuan anak yang utama bukanlah berpikir, tetapi merasakan.

Kodrat pertama yang sampai pada mereka, adalah tentang belajar merasakan. Bukan belajar berpikir. Mereka merasakan lapar, merasakan sakit, merasakan sedih, dan merasakan hal-hal lain yang sebelumnya tak pernah mereka alami.

Ketika merasakan lapar, mereka merespon dengan perasaan ingin makan. Bukan berpikir kenapa bisa merasakan lapar, dan bagaimana cara agar bisa makan.

Anak-anak adalah dimensi paling aneh dan gaib dalam sejarah perkembangan dan pertumbuhan manusia di dalam hidupnya.

Apakah banyak dari anda yang sudah lupa bagaimana rasanya menjadi anak-anak?

Perihal bandel dan sikap yang semaunya?

Perihal tak berpikir masa depan?

Perihal bermain, bermain, dan bermain?

Anda sudah lupa?

Kalau begitu, anda termasuk golongan orang yang merugi.

Dengan lupa perihal masa dan kondisi psikologis ketika masih anak-anak, berarti anda lupa bahwa apa yang seharusnya dikedepankan pada manusia, adalah hati serta perasaannya.

Akal?

Akal adalah fase selanjutnya setelah manusia berhasil ‘lulus’ dan selesai dengan segala ujian perihal perasaannya. Perihal kemampuan untuk peka, berempati, dan berperasaan.

Tak ada gunanya berakal, tetapi tak mempunyai perasaan.

Tetapi perihal menjadi contoh, tak sekadar memberi contoh dan nasihat, tak berlaku pada beberapa hal.

Misalnya saja, seperti yang baru saja saya alami, perihal rambut gondrong.

Yaa tak bisa kemudian ketika saya yang berambut gondrong, memberi nasihat kepada anak usia TK yang ingin juga gondrong seperti saya, dengan laku menjadi contoh.

Bagaimana mau menjadi contoh agar dia tak usah gondrong dulu karena masih sekolah, sedang saya sendiri juga gondrong?

Lantas?

Itu tadi, sentuh hatinya, agar ia merasakan.

Tidak usah ceriwis dengan banyak kata dan kalimat kalau anak sekolah tak boleh gondrong. Apalagi sampai berkata kalau gondrong nanti digigit sapi, atau dihukum oleh Bu Guru.

Kasihan Bu Guru, jangan dibawa-bawa. Lebih kasihan lagi suaminya kalau sampai Bu Guru dibawa-bawa.

Guru adalah pendidik, jangan diberikan stigma pada anak bahwa guru gemar menghukum. Jangan ya.

Anak usia TK yang ingin gondrong itu, anak tetangga. Anak kecil kedua yang berhasil saya ajari naik sepeda dalam usia yang masih dini, setelah adik bungsu saya. Pada usia 2 tahun, mereka sudah naik sepeda roda dua, dan sudah beratraksi dengan mengangkat roda depan sepeda. Sudah pencilakan kalau dalam bahasa Jawa.

Anak tetangga itu saya rasa-rasa, karena semenjak kecil terbiasa berinteraksi dengan saya, menjadi semacam ‘terobsesi’ pada dan segala apa yang saya lakukan. Termasuk perkara rambut.

Tadi siang ketika saya pulang untuk makan, istri memberi laporan bahwa Faiz, anak tetangga saya itu, tidak mau potong rambut.

Ketika ibunya mengajak untuk potong rambut, Faiz berdalih dan mengangkat tameng tebal untuk berkilah :

“Adek arep gondrong wae Buk, ben keren koyo Om Anang.”
[Adik mau gondrong saja Bu, biar keren seperti Om Anang]

Sebelum menemui Faiz untuk membujuknya agar mau potong rambut, saya menyelesaikan makan terlebih dahulu, dan menunaikan sholat Dhuhur. Meminta petunjuk dan kekuatan. Apalah saya ini. Saya selalu butuh bantuan Tuhan.

Anak dengan sikap seperti itu, tidak bisa dipaksa dengan perintah. Nanti dia bisa patah. Yang harus dilakukan adalah menempatkannya sebagai subyek, mendengar maunya, dan kemudian meluluhkan hatinya. Ketika dia nanti merasa bahwa kita memberi perhatian dan mengerti apa yang dia inginkan, dengan sendirinya dia akan menurut dan mendengarkan.

Selesai sholat, saya segera ke rumahnya. Anak itu sedang tiduran di ruang tamu sembari memegang hape. Nampaknya sedang membuka kanal youtube. Bah, anak jaman sekarang.

Tanpa basa-basi saya tanya perihal potong rambut. Dia berkilah dengan mengeluarkan suara aneh khas anak kecil, tanpa menjawab. Saya menyusul tiduran di sampingnya, dan kemudian mengusap kepalanya. Seperti yang sering saya lakukan kepada adik saya, ketika kumat bandelnya.

Faiz tidak juga menjawab ketika saya sekali lagi bertanya kenapa tak mau potong rambut. Sepertinya dia malu, dan enggan mengakui secara langsung bahwa dia adalah Fans Berat Om Anang [FBOA] garis keras.

Saya sampaikan bahwa dulu ketika seusianya, belum lah gondrong. Dan ketika sudah bekerja, baru lah gondrong. Dia belum paham.

Tak mungkin juga saya memintanya untuk jangan sampai gondrong, lha wong saya sendiri juga gondrong.

Kemudian saya sampaikan, bahwa dia boleh gondrong, suatu saat nanti. Ketika sudah kuliah atau bekerja. Takkan ada yang melarang.
Sembari juga saya terus mengusap kepalanya, dan menyanjungnya sebagai anak yang pintar.

Saya kemudian mengajaknya foto berdua.

Saya ulangi permintaan perihal kesediaannya untuk potong rambut.

“Nanti mau ya kalau diajak ibu potong rambut?”

Dia tidak menjawab sampai saya mengulanginya dua kali. Posisi kami yang tidak berhadapan, membuat saya tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Tetapi ketika saya mengulang pertanyaan untuk yang ketiga kali sembari menghadapkan pandangan ke arahnya, anak itu menganggukkan kepala.

Melihatnya menganggukkan kepala, membuat saya merasa amat sangat lega. Jelas saja, saya tak harus menjadi tersangka gara-gara menjadi rujukan mode dari para FBOA garis keras.
Sebagai ‘tanda jadi’ atas kesediaannya untuk nanti potong rambut, saya mengajaknya ‘tos’. Faiz menyambut tos itu dengan antusias.

Plong.

Saya berpamitan, dan kemudian keluar untuk menyulut sebatang rokok dan menyesap segelas kopi.

Anak-anak seusia itu, bukan lagi mainan dan boneka. Mereka sudah mempunyai keinginan. Mengenali karakter unik mereka adalah kunci. Jangan sampai mereka patah, karena kita terlalu sok tahu dan memposisikan diri sebagai penguasa serta pemberi perintah.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

207 Comments

  1. I truly love your site.. Very nice colors & theme. Did you build this site yourself?

    Please reply back as I’m hoping to create my very own blog
    and want to learn where you got this from or what the theme is
    named. Kudos!

  2. Hmm it seems like your website ate my first comment (it
    was super long) so I guess I’ll just sum it up what I wrote and say, I’m thoroughly enjoying your
    blog. I as well am an aspiring blog writer but I’m still new to the whole thing.
    Do you have any helpful hints for inexperienced blog writers?
    I’d genuinely appreciate it.

  3. I will right away grasp your rss feed as I can not in finding your
    e-mail subscription hyperlink or e-newsletter
    service. Do you have any? Please allow me know in order that I
    may subscribe. Thanks.

  4. Hey! Do you know if they make any plugins to assist with Search
    Engine Optimization? I’m trying to get my blog to rank for some targeted keywords but I’m not seeing very good gains.
    If you know of any please share. Thank you!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.