Jangan Bicara Sembarangan, Ucapan Itu Doa

Jadi maksudnya, yang mana masuk kategori doa?
Bicara atau ucapan?

Haassshhh intinya hampir sama. Apapun yang keluar dari mulut kita, harusnya dijaga, karena itu adalah doa. Dan doa, bagaimanapun bentuknya, akan dicatat oleh malaikat. Setelah dicatat, nanti akan dilaporkan kepada Tuhan, dan akan dikabulkaaannnn…

Trataaaaa…..

Setidaknya begitulah yang sering saya dengar dari orang-orang tua, dari banyak penceramah, dari teman-teman yang sudah ber-hijrah dan karena itu otomatis lebih paham serta mengerti mengenai agama.

Jadi, manusia itu harus senantiasa menjaga lisannya. Jangan sekali-kali keceplosan bicara kurang baik, latah, apalagi misuh (mengumpat). Manusia harus disiplin menjaga lidah, tertib merencanakan kata per kata yang akan keluar dari bibirnya. Sekali keliru, catatan malaikat menantimu.

Jangan sekali-kali bicara kurang baik, misalnya saja ketika hujan deras disertai angin. Jangan keceplosan bicara :
“Modyaarrr kuwi mengko nek wit’e ambruk.” (Mati kita nanti kalau pohonnya roboh).

Yaaa meski ucapan itu seloroh belaka, malaikat akan mencatat, dan dikabulkan. Sejenak setelah kita selesai mengucapkan itu, pohon akan tumbang dan matilah kita di tengah hujan. Setidaknya begitu kalau merujuk pada informasi dari para orang-orang tua dan penceramah perihal baik buruk kata yang keluar dari mulut kita.

Sampai disini, kiranya kita akan paham dan mengerti kalau malaikat itu kaku, dan tidak suka bercanda. Begitu juga dengan Tuhan? Kaku-kah Dia…???
Benarkah malaikat, dan begitu juga Tuhan, tidak bisa bercanda?

Benarkah Mereka tidak mengerti konteks dan juga asal-usul terucapnya kata?

Sedangkan permohonan yang terpanjat pada tiap-tiap ibadah wajib, pada tiap tirakat, dengan niat dan kesungguhan meminta, tak mesti terkabulkan.
Lantas mengapa seloroh, canda, latah dan atau pisuhan lantas dimaknai serius sebagai sesuatu yang akan cepat didengar dan dikabulkan?

Apakah berdasar pada :
“Pada tiap doa, kita takkan tahu mana yang diterima?”

Bagi saya tidak seperti itu. Sepengetahuan saya, Tuhan itu Maha. Maka setiap doa pasti diterima. Urusan terkabul atau tidaknya, itu terserah-serah Dia, terserah Tuhan saja.

Memang tiap ucapan, kata, pembicaraan yang terjadi, ada semacam auto record yang menyimpan data tersebut pada semacam cloud dengan kapasitas Infinity Byte. Tak terbatas. Merekam segala baik buruk ucapan serta perbuatan kita. Dalam agama yang saya anut, hal itu dilakukan oleh dinamyc duo malaikat, Raqib dan Atit.

Tetapi jika kemudian menyatakan bahwa tiap ucapan meski itu hanya bercanda akan lantas dikabulkan, itu menyakitkan. Menyakitkan bagi mereka yang serius ‘berdoa’ dan meminta tetapi tak lantas mendapat jawab atas doanya.
Mosok orang berdoa serius bahkan ada yang sampai di depan Ka’bah, kalah oleh orang misuh seperti saya ini, misalnya?

Pun kalau pisuhan saya juga dianggap sebagai doa, tentu saat ini anak saya sudah banyak jumlahnya. Karena selain berdoa, terkadang saya misuh juga meminta anak. Nah, sampai saat ini, belum ada satu kepala-pun anak saya muncul dan terlahir ke dunia.

Jelas hal itu menegaskan, tak setiap ucapan adalah doa. Dalam artian, tak setiap ucapan dan kata dalam pembicaraan, adalah sesuatu yang dianggap serius dan sedikit-sedikit dilaporkan oleh malaikat pencatat.

Meski perlu dicatat, saya tidak pernah menganggap bahwa doa itu adalah permohonan atau permintaan. Saya selalu menganggap, doa itu adalah sapaan. Yaa, suatu bentuk komunikasi yang coba saya bangun dengan Dia Yang Maha Kuasa. Jadi tak mesti ‘doa’ saya berisi permintaan dan permohonan. Terkadang berisi keluhan, terkadang berisi cerita, terkadang berisi rayuan. Haaa…

Kembali pada tiap ucapan adalah doa…
Tentu Tuhan sangat mengerti dan memahami perihal konteks dan kejadian. Dia jelas tahu kapan makhluknya bercanda, kapan serius meminta, dan kapan harus dikabulkan atau ditunda demi kebaikan makhluk itu sendiri. Maka juga tak lantas semua kata dan ucapan layak untuk diberikan perhatian berupa kesempatan untuk dikabulkan.
Buktinya?
Masih pakai tanya.
Kalau Tuhan gak ngerti konteks, haa neh dirimu langsung dadi asu nek tak pisuhi ASU.

Meski sekali lagi, Tuhan Mendengar semua doa.
Tetapi jika Dia harus mengabulkan setiap kata dan doa manusia, apa bedanya Tuhan dan jin dalam iklan Djarum 76?

Berhati-hati dalam berbicara adalah demi kebaikan dan kedamaian manusia itu sendiri. Demi kenyamanannya hidup berdampingan dengan sesama manusia dan alam semesta.
Karena tak seperti Tuhan, kebanyakan manusia tidak mengerti dan enggan memahami perihal konteks dari apa yang diucapkan dan dibicarakan manusia lainnya.

Konteksnya adalah memberi contoh perilaku manusia penipu melalui suatu ayat, apa yang ditelan adalah penistaan. Jadilah demo dan pengkafiran.

Berhati-hati dalam berucap dan berbicara adalah agar satu manusia dengan lainnya, tak saling bergesekan dan memancing perpecahan. Sebab sekali lagi, tak semua manusia bisa dan mau bercanda.

Ada manusia yang sedemikian kaku-nya, enggan bercanda, dan menganggap hidup ini harus selalu serius dan tak bisa untuk dibawa tertawa. Maka, menjaga ucapan lebih tertuju pada kebaikan horisontal terhadap sesama manusia, bukan vertikal kepada Yang Maha Kuasa.

Sebab, jelas Tuhan Maha Bercanda. Sifat yang ternyata enggan ditiru oleh kebanyakan manusia.

Tak percaya Tuhan Maha Bercanda?
Ah, anda ini kemana saja sampai Tuhan yang demikian dekat saja anda tak mengenalNya…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.