Jangan Mudah Menyerah

Sebenarnya kalimat aslinya :

“Jangan Pantang Menyerah.”

Saya dapatkan dari sebuah channel Youtube. Dari Abah Lala, pencetus cendol dawet yang fenomenal itu. Pencipta dan penyanyi judul lagu Gede Rasa yang juga fenomenal. Seorang seniman yang lahir dari pagar kesenian Jathilan, dari daerah Boyolali, Jawa Tengah.

Dalam sebuah official video Youtube itu, dengan sebuah judul lagu “Aku Seng Berjuang.”

Silahkan cari sendiri dan ketikkan judul lagu tersebut di kanal Youtube, dan lihat serta dengarkan sampai dengan selesai.

Akan ada semacam testimonial, atau pernyataan, dari beberapa orang laki-laki. Setelah melakukan sedikit kroscek, selanjutnya saya tahu bahwa mereka yang muncul di akhir video tersebut adalah kru MG86 Saleho. Grup orkes musik yang didirikan dan diinisiasi oleh Abah Lala.

Mereka adalah kru MG86. Ada yang menjadi penyanyi utama [bersama Abah Lala], ada yang pemain gendang, pemain orgen, juga pemain instrumen musik lainnya yang digunakan oleh MG86.

Kalimat asli itu saya adopsi, kemudian saya muat sendiri dengan tatanan yang ‘lebih tepat’ menurut saya. Kalau kalimatnya masih tetap ‘jangan pantang menyerah’, maka tentu saja berkonotasi untuk menyerah, mudah patah. Mungkin lebih tepat kalau ‘pantang menyerah’ saja, atau ‘jangan menyerah’ saja.

Tetapi saya tahu substansi yang dimaksudkan, ketika salah seorang laki-laki dalam video itu mengatakan :

“Sebab kata bapak saya, jangan pantang menyerah.”

Pantang menyerah

Saya tergetar mendengar kalimat itu, yang diucapkan dengan sedikit terbata. Jika video itu sedikit lebih panjang saja, saya yakin yang mengucapkannya akan meneteskan air mata.Sebab suaranya sudah sedikit berat, dan pandangan matanya sudah tak fokus menuju arah kamera.

Saya yang hanya mendengar dan melihatnya dari pihak ketiga [youtube] pun merasa sesak di dalam dada.

Ada semacam pesan yang sampai dengan sangat dalam, melalui telinga dan mata saya, kemudian langsung menghunjam jauh ke dalam perasaan.

Perihal jangan menyerah itu, pantang menyerah itu.

Jangan mudah menyerah dan pantang menyerah dalam berusaha.

Semua pesan di dalam video itu, dari beberapa orang laki-laki itu, kesemuanya berisi pesan perjuangan. Perjuangan dalam mencari nafkah penghidupan. Bagi keluarga mereka, bagi orang tua mereka, bagi adik-adik mereka.

Mencari penghidupan dari sebuah jalan terjal nan sulit, menjadi pelaku kesenian. Pentas musik dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu. Menjadi pelaku kesenian seperti mereka [sebagian besar berlatar belakang seni jathilan] merupakan hal yang tak mudah. Tak semua orang mau, mampu dan sanggup berada dalam posisi mereka. Apalagi itu dilakukan secara konsisten.

Salah seorang dari mereka juga mengatakan :

“Saya hanya ingin adik saya bahagia. Makanya saya mencari uang agar ia tak perlu hidup kesusahan seperti ketika saya seumurannya.”

Degh, si pemilik kalimat itu bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk orang lain, meski itu adalah adiknya sendiri. Motivasi utama dan penguat dirinya adalah keberadaan adik yang disayanginya. Agar tak perlu hidup ‘menderita’ seperti dirinya.

Sedangkan —saat ini—, berapa banyak orang bekerja dengan motivasi bagi dirinya sendiri?
Dalam tolok ukur dan peluang-peluang bagi dirinya sendiri. Besaran gaji, tunjangan, pangkat, jabatan, yang dicapai dan dituju hanya demi kepentingan dirinya sendiri.

Dan laki-laki dalam video Abah Lala itu, memiliki motivasi untuk bekerja, tak semata bagi dirinya sendiri.

Tamparan keras

Saya serasa ditampar oleh beberapa orang dalam video itu. Perihal keuletan mereka dalam bekerja, perihal tekad kuat yang dimiliki oleh mereka.

Dari video itu setidaknya saya belajar satu hal penting :

“Kerjakan apa yang harus dikerjakan dengan penuh kesungguhan.”

Penuh kesungguhan berarti sungguh-sungguh dalam dimensi ruang maupun waktu. Dikerjakan secara sungguh-sungguh secara konsisten, dari waktu ke waktu. Dilakukan dengan penuh kesungguhan, bagaimanapun keadaan yang menyertainya. Sebab tak mesti kehidupan menyediakan waktu luang dan ruang-ruang yang nyaman bagi kita untuk mengerjakan dan menekuni sesuatu.

Terkadang kita berada dalam ruang sempit dan pengap, yang membuat kita tak leluasa untuk sekadar menghirup napas, toh apalagi bekerja dan berkarya.

Terkadang kita berada dalam tepi waktu yang tajam, yang siap melukai kita ketika tak tepat dalam menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan kita.

Namun pesan untuk tak pantang menyerah sepertinya memang relevan, utamanya untuk diri saya sendiri.

Bahwa apa yang kita kerjakan hari ini, apa yang kita tanam hari ini, tak mesti kita tuai hasilnya pada hari ini juga. Pohon-pohon besar baru akan memberikan manfaat setelah sekian tahun berlalu dari masa awal tanamnya. Tak bisa seketika, tak bisa kontan laiknya rumput di halaman.

Bahwa nilai inti dari berjuang adalah sikap untuk tak mudah menyerah. Untuk pantang menyerah. Untuk selalu konsisten melakukan apa yang harusnya kita lakukan, meski tak seketika memberi keuntungan.

Bahkan tak mesti apa yang kita kerjakan saat ini kelak akan memberikan keuntungan [keuntungan dalam tolok ukur nilai manusia]. Jika sudah seperti itu, akan selalu ada alasan untuk menyerah di tengah jalan. Untuk meletakkan langkah di tepi jalan, dan memilih merebahkan diri untuk meratap dan menyesali.

Selalu ada alasan untuk menyerah dan menghentikan perjuangan.

Tetapi ketika niat untuk menyerah itu muncul, ketika godaan untuk menghentikan perjuangan itu hinggap dalam segenap hati dan pikiran, maka :

“Berjuang bukanlah tentang hasil yang akan kita dapati esok hari, atau kelak sampai kapan pun. Berjuang adalah tentang keberanian, untuk membawa diri terus berjalan dan melangkah di tengah segala ketidakpastian.”

ANG
Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

21 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *