JEDA

Manusia dalam batas kesempurnaannya akan selalu membutuhkan jeda, istirahat dari segala aktifitas yang dijalani.

Ada semacam kepastian bahwa manusia tidak bisa secara terus menerus menjalani suatu hal, peristiwa, kegiatan atau pun aktifitas tanpa jeda diantaranya. Bahkan sekedar membuka mata akan membutuhkan berkedip untuk jeda, dan memejamkan mata untuk tidur dalam jeda panjangnya. Kecuali mungkin untuk kasus tertentu, bahwa secara fisik seseorang mempunyai kemampuan untuk tidak berkedip selamanya.

Begitu pun manusia pendiam, pada akhirnya juga akan membutuhkan bicara untuk jeda. Begitupun sebaliknya, manusia banyak bicara pada akhirnya juga akan diam sebagai jeda. Tidak bisa selamanya manusia terus bicara, atau terus diam tanpa mengambil jeda untuk sekedar mendengar, atau menyampaikan pendapat dan suaranya. Jeda seakan menjadi bagian penting dari rutinitas hidup manusia, tanpa disadari.

Tidak bisa dibayangkan andai pertandingan tinju tak diberi jeda pada tiap pergantian ronde. Bisa jadi Hollyfield tidak hanya akan kehilangan sebagian telinganya oleh Tyson, tapi kehilangan harga diri karena sangat mungkin dia akan sekalian diberi bumbu kecap oleh Tyson.

Atau mungkin, apa yang akan terjadi dengan Liga Premier Inggris andai Manchester United tidak mengambil jeda setelah gelar ke-20 mereka? Liga yang monoton, klub lain merasa rendah diri, tidak akan ada lagi sesuatu yang menarik berkenaan dengan kompetisi, dan akhirnya selesai sudah kejayaan liga paling mahsyur didunia itu. Masih mau mencela Manchester Merah? Paling tidak berterima kasihlah pada mereka, atau menjadi pendukung mereka seperti saya. Klub dengan kesadaran tinggi untuk tahu kapan waktu mengambil jeda, memberi kesempatan para medioker untuk sejenak berebut gelar liga.

Jeda yang dijalani manusia, pada satu kesempatan mungkin saja adalah sesuatu yang disadari dan memang diperlukan untuk diambil serta dilakukan. Namun kadang jeda yang dijalani, menurut ‘cara pandang’ manusia adalah suatu keterpaksaan, sakit misalnya. Padahal, jeda ya jeda saja. Mungkin Pemberi Hidup sedang menginginkan kita mengambil jeda atas hidup dengan bertahun-tahun sehat, sehingga sakit dikirimkan sebagai jeda. Siapa bilang sakit adalah azab, cobaan, atau bahkan kutukan? Sakit ya sakit saja.
Tak ada hubungan sakit dengan azab. Sakit adalah mekanisme alamiah, ketentuan Tuhan, yang memang harus ada dalam kehidupan manusia, terlepas bagaimana manusia menjalani hidupnya.

Hanya saja—kadang kita sebagai manusia tidak mempunyai tolok ukur yang pasti kapan harus mengambil jeda atas sesuatu yang sedang dijalani atau di alami. Atau mungkin wujud jeda yang harus diambil dan dijalani. Mengambil jeda dari rasa marah. Beberapa orang mungkin cukup dengan mengambil air wudhu, misalnya. Tetapi bagi sebagian yang lain, bahkan berendam di kolam es pun belum tentu akan bisa memberi jeda atas rasa marah yang sedang melanda.

Bagaimanapun, jeda akan memberikan jarak pandang yang cukup untuk melihat dan kemudian berkontemplasi atas apa yang sedang dijalani. Memberi pemahaman baru. Sudut pandang baru. Atau mungkin keputusan-keputusan baru. Atau bahkan menghadirkan sesuatu yang lama, namun masih relevan untuk digunakan kembali. Ataukah tidak memberikan hasil apapun selain menjalani jeda tersebut, bisa jadi. Tapi toh setidaknya, jeda sudah memberikan semacam istirahat. Memberikan semacam bonus yang di dapat tanpa mengeluarkan suatu usaha dan pengorbanan tertentu.

Namun pada akhirnya, semoga saja hanya manusia yang membutuhkan dan memerlukan jeda. Jangan sampai alam juga memerlukan untuk mengambil jeda, menarik dan menghela nafas sejenak, sehingga meleset jadwal rutinitasnya untuk hadir pada keseharian.
Andai matahari ikut mengambil jeda, barang sehari cuti dari memanaskan bumi, saya takut matahari akan kena marah dari ibu-ibu yang baru saja selesai mencuci pakaian.

Jangan juga Tuhan. Jangan sampai Dia mengambil jeda, untuk menghilangkan sejenak kerlip lintang mungkin. Sebab nanti tak akan ada lagu “Nitip Kangen” yang legendaris itu…..

“Marang kerlip lintang, tak titipke roso kangenku….”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.