JUDUL LAGU INDONESIA YANG BOROS PENGGUNAAN KATA

Boros kata, namun terkenang sepanjang masa.

Dulu, lagu-lagu asal negeri jiran Malaysia sering dijadikan sasaran ‘olok-olok’ mengenai judul-judulnya yang menurut beberapa orang, lucu, sekaligus mubadzir dalam penggunaan kata. Maksudnya mungkin juga hanya untuk lucu-lucuan saja, karena kalau sudah menyangkut lirik dan lagunya, tetap saja selalu membuat tersenyum, menangis, bahkan terbayang berbagai kenangan.

Misalnya saja Suci Dalam Debu, yang sering diplesetkan menjadi ‘Tayamum’. Boleh saja anda memperolok judulnya, tapi kembali tengok dan dengarkan lagu serta liriknya :
//Cinta bukan hanya di mata, cinta hadir di dalam jiwa,
Biarlah salah di mata mereka, biar perbedaan terlihat antara kita.
Kuharap engkau kan terima, walau dipandang hina,
Namun hakikat cinta kita, kita yang rasa..//

Bagaimana? Setelah puas menertawakan judulnya, bisakah kemudian anda membuat lirik, komposisi musik, menghasilkan lagu yang demikian mendayu-dayu?

Lantas, bagaimana dengan lagu-lagu yang berasal dari saudara tua Malaysia, dari Indonesia?
Ya memang Indonesia adalah saudara tua Malaysia, sumber dan asal muasal kebudayaan mereka (debatable).

Jika membicarakan judul lagu Indonesia, yang boros penggunaan kata namun selalu membuat terkenang, dengan lirik yang lugas dan terang-terangan, membuat siapapun pendengarnya terkekang kenangan, maka saya akan langsung merujuk Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu. Lagu itu juga sekaligus menjadi judul album yang dirilis tahun 1988 oleh Musica Studio.

Antara Aku, Kau, dan Bekas Anjingmu Pacarmu mengambil banyak kata yang sedikit sia-sia. Daripada dengan judul yang hampir menyerupai kalimat itu, alangkah sebenarnya bisa diganti dengan Cinta Segitiga, atau Gelut Saja. Ya jelas-jelas sudah ada ‘Aku’, tetapi berada diantara ‘Kau’ dan ‘Bekas Pacarmu’. Apa namanya kalau bukan Cinta Segitiga, atau mengajak untuk Gelut Saja.

Penyesalan adalah kiamat yang mengejawantah ke dunia.

Pada urutan setelahnya, saya akan merujuk lagu Biarlah Bulan Bicara yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh almarhum Broery Marantika. Membiarkan bulan untuk berbicara, dan kita hanya mendengar, sama saja dengan Kiamat. Ya, lebih baik jika judul lagunya adalah Kiamat.

Kiamat, karena lagu Biarlah Bulan Bicara mengisahkan penyesalan yang mendalam, perihal luka yang ditorehkan diatas hati tulus penuh cinta.
//Ingin pulang, membasuh luka hatimu,
ku pun tahu betapa pedih batinmu,
beri kesempatan atau jatuhkan hukuman,
andai maafpun tak kau berikan//

Lagu ciptaan Harry Tasman ini dinyanyikan dengan begitu menyayat hati oleh Broery. Betapa penyesalan, rasa bersalah tanpa mendapat kata maaf, adalah siksa nyata dan seketika.
Bukankah penyesalan yang tak tertanggungkan serta terbawa selama hidup, serupa dengan kiamat? Tak bisa dilukiskan dengan kalimat dan kata.

Maka, memang seharusnya Biarlah Bulan Bicara mengambil judul Kiamat saja.

Lagu selanjutnya yang juga boros penggunaan kata, adalah Jangan Ada Dusta Di Antara Kita. Masih lagu yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Broery, namun kali ini berduet dengan Dewi Yul.
Mengapa tak langsung saja mengambil judul Jujur?
Jujur lebih singkat, padat, kuat dan jelas. Karena merepresentasikan isi dari lagu tersebut.
//Ketika pertama kujumpa denganmu,
bukankah sudah kutanyakan padamu,
kasih…//

Judul lagu yang sekaligus merupakan judul album rilisan tahun 1992 oleh Musica Studio itu masih juga ciptaan Harry Tasman.
Menjadi pertanyaan, Harry Tasman memang suka judul yang panjang-panjang, atau Musica yang suka dengan judul album serba panjang?
Ataukah memang pada kurun waktu tersebut, yang panjang emang lebih enak?

2000’an juga masih panjang kata.

Eemmm, ternyata tidak hanya dalam kurun waktu 80-90’an saja, pada kurun waktu tahun 2000’an, juga banyak lagu dengan judul yang boros kata.

Masih juga oleh Bang Iwan pada tahun 2006 ketika mengeluarkan singel Ijinkan Aku Menyayangimu. Kenapa Bang Iwan tak mengambil judul saja Ngarep/Berharap?
Apalagi judul yang tepat kalau bukan Ngarep?
Meminta ijin untuk menyayangi seseorang, tentu saja dengan harapan bahwa yang disayang-sayang juga mau, syukur-syukur membalas rasa sayang itu.

Ngarep, Berharap, adalah judul yang tepat.

Selain Bang Iwan (lagi), pada tahun 2000’an, Peterpan bersama vokalisnya yang gagah perkasa, Ariel, juga membuat lagu yang kebanyakan kata. Lagu Ada Apa Denganmu dari album Bintang di Surga yang rilis tahun 2004. Ariel sebagai pencipta lagu sebenarnya bisa mengambil judul Penasaran, untuk mengungkap isi hatinya yang tertuang lewat lagu itu.
Entah Penasaran pada Luna Maya hal apa, hanya Ariel dan Tuhan yang tahu. Yang pasti, saya (kita?) tetap harus berterima kasih pada Ariel. Karenanya, saya menjadi karib dengan gambar Cut Tari lirik lagu yang sederhana, namun sarat makna.

Tetapi sekali lagi, meski boros kata dalam penentuan judul, lagu-lagu diatas tak lekang oleh waktu. Masih sering dinyanyikan, dimanapun, dari room-room karaoke sampai panggung kondangan, dari anak sekolahan sampai calon bangkotan.

Mungkin memang yang panjang-panjang lebih awet dan disuka?
Seperti panjangnya Anyer-Panarukan, panjangnya masa kuasa Orba, dan panjangnya masa puasa gelar si laknat merah Manchester United.
Para fans klub kelas medioker, pasti suka atas panjangnya waktu yang ditempuh MU untuk kembali merengkuh gelar juara.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1.302 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *