Jumat, Sujud, Palsu

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untukMu.”

Jumat, hari raya.

Aku berjalan, dengan ringan, hampir tanpa beban, dengan dosa yang hampir memenuhi tiap jengkal dalam kehidupan.

Yaa, aku adalah pengkhianat terbesar, yang selalu merasa suci setiap Jumat menjelang. Seolah, aku akan kembali terlahir suci, setelah semua dosa sepekan, pada Jumat yang kudus.
Seolah, aku memang akan mendapat pengampunan.

Langkahku, selalu ringan.
Setelah Jumat suci, dan kembali mengulang salah serta dosa dari hari-ke hari. Berulang.

Aku memperdalam sujudku, sedalam-dalamnya, tanpa tendensi, tanpa keinginan, dan hanya ingin menyembahMu.

Aku mencintaMu, Tuhan. Tetapi kenapa sekaligus aku selalu mengulang sesuatu, yang terkadang tak sesuai kehendakMu.

Bagaimana aku bisa tahu itu tak sesuai kehendakMu?
Karena acapkali, Kau datang dan mengaduk hati serta perasaanku, pada tiap-tiap langkah yang sebenarnya aku ragu.

Aku memperdalam sujudku, kepadaMu.
Seketika, aku sadar bahwa memang tak lebih tinggi hakikat kepalaku, daripada lubang pembuang kotoran di tiubuhku.
Aku merendahkan diri, serendah-rendahnya, di hadapanMU.
Tetapi, kenapa aku selalu berpolah congkak, dan berulang, seolah merasa tinggi dari waktu ke waktu.

Kenapa…

Apa sebenarnya kita terlampau dekat, sehingga kita seakan bagai sahabat?

Apa sebenarnya karena Kau hanya membiarkanku, dalam ragu dan keliru yang berulang?

Apa sebenarnya karena Kau tak peduli padaku, lagi, sehingga pembiaran itu terjadi?

Apa karena kebodohanku saja, dan sebenarnya Engkau sembari tersenyum menungguku untuk tak mengulangnya?

Selalu saja ringan, selalu saja tak ada beban.

Aku bisa tersungkur menangis menyebut namaMu, sekaligus aku bisa sama sekali tak terpikir namaMu pada suatu waktu.

Apakah itu berarti, sudah terlampau banyak salahku?
Sehingga selalu pada suatu waktu, ada yang berulang dari langkah-langkahku, untuk pergi menjauh dan tak peduli.

Sebenarnya siapakah yang selama ini berjalan, atau bersujud tersungkur di hadapMu?
Apakah aku? Ataukah yang palsu?

Tunjukkanlah, mana yang asli dari diriku.

Jangan-jangan, memang semuanya palsu, dan aku ini bukanlah aku?

Apakah saat ini, Engkau sedang melihat, dan menertawakanku?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.