Kaki Dan Sepeda

Halo apa kabar para pesepeda pemula? Yang kalau bersepeda berjajar dua sampai tiga dan memenuhi ruas jalan. Yang menerobos tanda lampu merah tanpa rasa bersalah. Yang sudah merasa ikut menjaga kesehatan dan kualitas udara meski hanya bersepeda seminggu sekali. Yang..yang..yang..kakinya lebih terbiasa menginjak orang lain dan merugikan pihak lain daripada terbiasa mengayuh pedal sepeda.

Saya sih yakin anda semua bukan pesepeda pemula seperti yang saya maksudkan itu. Saya sih yakin anda semua kalau bersepeda berbaris berbanjar satu kebelakang dan tak memenuhi ruas jalan. Saya sih yakin anda tidak menerobos lampu merah.

Tenang yang saya maksudkan sebagai pemula adalah nalarnya. Nalar yang terbiasa angkuh dan menangnya sendiri. Jadi kalau anda termasuk pemula dalam hal olahraga dan hobi mengayuh sepeda, jangan berkecil hati, saya juga pemula. Tetapi jangan sampai sebagai pesepeda pemula, nalar kita ikut-ikutan menjadi bayi pemula. Jangan pernah merugikan pengguna jalan yang lain, jangan berjajar memenuhi jalan, jangan melanggar lampu lalu lintas. Kalau merah ya berhenti, hijau baru jalan.

Saya memulai bersepeda sebagai hobi semenjak tahun 2013. Kalau bersepeda sebagai kewajiban, saya sudah melakukannya semenjak tahun 1998, semenjak SMP.

Ketika SMP itu, sepeda saya adalah sepeda ‘jengki’ merk Phoenix. Itu adalah sepeda yang dipakai Mamak ketika masih bersekolah. Sepeda tua yang sampai saat ini masih tersimpan di rumah Banteran (eh masih ga ya?).

Dengan sepeda fixed chainring atau hanya dengan masing-masing satu gir depan belakang itu, saya menempuh jarak lebih kurang 10-12 kilometer setiap hari pergi-pulang, tergantung rute jalan yang saya tempuh.

Selepas SMP, saya tak lagi bersepeda selama lebih dari lima tahun. Mulai bersepeda lagi ketika teman-teman dan tetangga saya mengajak untuk membeli sepeda ‘onthel’ tua. Akhirnya saya ikut membeli sepeda jenis tua itu. Kata penjualnya , sepeda itu lansiran tahun 1940an, bekas dipakai oleh polisi atau tentara pada awal kemerdekaan.

Sepeda itu terlihat benar-benar tua. Catnya tak lagi ada yang utuh pada semua bagian, dan ada jejak penyok pada rangka. Mungkin penyok karena tertembak ketika perang, hahahaha.

Sepeda tua merk BSA (Birmingham Small Arms) itu kini masih tersimpan di rumah Piyungan.

Selepas heboh sepeda ‘onthel’ yang tak sampai dua tahun itu, saya tak lagi bersepeda. Baru ditahun 2013, saya kembali bersepeda sebagai hobi. Niat awalnya, sebagai pelengkap olahraga lari yang biasa saya lakukan saat itu. Sepeda merk Polygon dengan seri Premier 3.0 itu cukup lama saya miliki, meski saya rutin memakainya tak lebih dari tiga tahun.

Saya tak merasa nyaman ketika memakai sepeda itu, badan dan kaki terasa sakit setelah usai bersepeda. Usut punya usut (yang baru saya lakukan tahun 2020 dan setelahnya saya putuskan untuk menjual sepeda itu), ukurannya tidak pas dengan tinggi badan saya. Sepeda itu berukuran large (L), dan menurut para ahli sepeda harusnya dengan tinggi badan yang saya miliki, saya hanya harus memakai sepeda ukuran medium (M), atau small (S).

Tahun 2020 ini saya kembali bersepeda. Betapa saya sudah hampir lupa bagaimana indahnya mengayuh pedal sepeda itu. Sesuatu yang luput saya rasakan ketika bersepeda onthel ataupun ketika bersepeda pada tahun 2013. Saya lupa bagaimana rasa udara segar yang menerpa wajah, Bagaimana ketika derasnya keringat tertutup oleh derasnya rasa lain yang membanjiri seluruh perasaan. Saya hampir lupa bagaimana nikmatnya bersepeda, setelah lebih dari dua puluh tahun. Jujur saja, ketika bersepeda sebagai suatu kewajiban semasa SMP itulah, saya merasakan nikmat yang tiada terkira ketika mengayuh pedal dan memutar roda. Menikmati udara segar ketika berangkat dipagi hari, serta menikmati setangkup harapan untuk lekas sampai dirumah dan menikmati makan siang ketika pulang.

Tak ada berbagai macam teori mengenai bagaimana bersepeda yang baik dan benar. Apa dan bagaimana seharusnya pakaian yang dipakai ketika bersepeda. Dan tak ada perlombaan untuk pamer sepeda termahal. Hanya ada saya dan sepeda, dengan seragam SMP, serta kayuhan kaki yang memang kadang terasa melelahkan. Tetapi itu adalah masa-masa yang indah dalam bersepeda.

Selepas itu, saya memang baru menikmati bersepeda pada tahun 2020 ini. Setelah saya mempunyai sepeda lipat murah, yang saya dapatkan dari orang tua. Hahaha…

Sepeda itu adalah sepeda doorprize yang didapatkan Bapak dari kantornya. Sebenarnya sepeda itu beberapa kali dipakai Mamak, tetapi karena lama tak dipakai dan terlihat berdebu, maka saya memberanikan diri untuk menggantinya. Sekadar mengganti saja dengan harga tak pantas agar terlihat sedikit pantas, wkwkwkwk…

Dengan sepeda itu saya mulai kembali rutin bersepeda.

Tahukah anda apa yang paling membuat saya merasakan kembali nikmatnya bersepeda?

Bahwa ternyata mempunyai sepasang kaki yang sehat adalah nikmat. Nikmat yang takkan bisa ditukar dengan berbagai macam merk sepeda termahal. Bersyukrlah dengan kaki, dan semua bagian tubuh anda.

Sudah ah, kapan-kapan saya ceritakan ketika saya bisa sedikit ‘memberi pelajaran’ pada para pengguna sepeda mahal. Ketika ditanjakan para pengguna sepeda mahal itu hanya menuntun sepedanya, dan saya dengan sepeda murah meriah itu tetap melaju dalam kayuhan. Bwahahaha….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)