Kalau Pesan Terusan WhatsApp Dibatasi, Terus Kenapa?

Jujur saja, ketika ada wacana bahwa fasilitas pesan terusan pada WhatsApp [WA] akan dibatasi sampai hanya lima kali saja, saya setuju. Setuju semata karena ada sebab dan alasan pribadi yang melatar belakangi. Kalau anda tidak setuju, juga silahkan saja. Toh, kita selalu mempunyai alasan tertentu masing-masing, untuk setuju atau tidak pada suatu hal.

Saya juga tidak merasa pemerintah melakukan tindakan represif atas keputusan ini. Tentu ada alasan tertentu juga dari pemerintah, ketika melakukan pembatasan dalam hal ini. Kalau merasa tidak setuju dan terganggu, silahkan gugat keputusan pemerintah melalui pengadilan.

Saya sendiri, sekali lagi, setuju. Entah keputusan untuk saat ini setuju apakah benar atau salah, saya tidak tahu persis. Kalau bisa mengetahui secara persis akibat di masa mendatang dari keputusan yang diambil saat ini, haa neh mesakne bakul tanggalan.

Semenjak beberapa tahun yang lalu, saya merasa terganggu dengan banyaknya pesan berkarakter banyak, kata dan kalimat mutiara, motivasi ndakik-ndakik dan bijak, yang tak jelas sumber dan penulisnya. Pada satu grup, bisa saya temui dua orang atau lebih membagikan pesan yang sama, meski terkadang bukan pada waktu yang identik bersamaan.

Sudah semenjak lama saya merasa gusar dan terganggu, terutama ketika penyebar atau penerus pesan kemudian menyertakan pesan paripurna untuk menutup ruang diskusi :
“Maaf, hanya sekadar meneruskan.”
“Maaf hanya copy paste.”
“Mohon maaf kalau salah, hanya meneruskan.”
“Mohon maaf, hanya mendapat kiriman dari teman, semoga bermanfaat.”

Haa maaf matamu njempalik njepat. Kok pinuk.

Kalau tulisan itu jelas sumber dan penulisnya, saya tak pernah merasa gusar dan mempermasalahkan. Paling tidak saya bisa berdiskusi perihal isi tulisan tersebut. Apalagi kalau itu tulisan teman-teman saya sendiri. Tetapi kalau tulisan itu hanya jiplakan saja, saya kok merasa nganu. Mau diskusi darimana kalau diakhiri dengan kalimat, “Maaf hanya meneruskan.”
Haadeehhh….

Pernah suatu kali ada seorang di salah satu grup yang sering menyebarkan tulisan-tulisan panjang nan agamis motivasional semacam itu, menyebarkan suatu tulisan dengan judul di atas kalau tidak salah ingat :

“Inspirasi dan motivasi pagi dari Kahlil Gibran. Semoga berguna, saudaraku.”

Lantas ditambah emoticon tangan yang mengatup seperti merapal mantra di depan pohon beringin pojok desa.

Seumur-umur saya malas membalas atau menanggapi pesan semacam itu. Tetapi waktu itu, kok ya saya tanggapi dengan sedikit bercanda, dan banyak mangkel-nya.

“Gibran itu yang mati di usia 48 tahun karena terlalu banyak menenggak cinta dan alkohol ya? Gibran yang mati dengan hati berlubang karena kesepian bukan? Gibran itu orang Lebanon yang beragama Katolik dan pindah ke Amerika sejak kecil bukan?”

Semata saya sampaikan seperti itu, karena sampai dengan kadar keyakinan mencapai 99,99%, blio yang menyebarkan itu menganggap Gibran seorang muslim.

Saya sendiri mengambil banyak pelajaran kehidupan dari bermacam-macam orang, dari latar belakang ras dan agama yang bermacam-macam pula.
Tetapi kecenderungan penyebaran tulisan agamis motivasional di grup-grup itu, adalah karena sentimen agama. Atau berlatar belakang agama.
Maka saya sengaja tanyakan hal seperti itu, untuk mengetahui respon dan pendapatnya. Tetapi benar dugaan saya, tak ada respon dan tanggapan.

Kalau blio waktu itu menyebarkan tulisan semata untuk tadabur ilmu, dari siapapun, saya rasa mengiyakan bahwa Gibran seorang pecandu alkohol, bukan suatu masalah. Toh katanya :
“Ambillah ilmu dan manfaat nasihat bukan dari siapa yang mengatakan.”

Tapi ternyata blio yang membagikan tulisan itu tidak merespon, mungkin syok.

Kalau seorang pemabuk bisa menghayati kedalaman filosofi hidup, trus kenapa?

Suatu waktu yang lain, keluarga besar saya sedang ditimpa suatu musibah. Ada ‘kecelakaan’ yang menimpa salah seorang saudara. Tak disangka, kasus kecelakaan itu menjadi viral pada beberapa grup WA berskala lokal, namun dengan citarasa nasional.

Berita yang tertulis pada sebaran WA itu, cenderung keliru dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena mengandung fitnah pada beberapa poin yang ditekankan dalam penulisan. Saya marah seketika.

Beberapa orang yang mengirim dan menyebar pesan, saya konfirmasi satu per satu.

Pertama si A, dia mengaku mendapat dari si B. Saya konfirmasi B, dia mengaku mendapat pesan itu dari si C. Si C saya tanya, mengaku mendapat dari si D. Si D saya minta klarifikasi, mengaku mendapat dari si E.

Saya semakin gusar, dan mulai misuh, Bajingan…

Ini kenapa sanad-nya panjang sangat.

Saya lanjutkan mengejar si E, dia mengaku mendapat dari F. Si F juga saya kejar, mengaku mendapat kiriman dari G.

Lhah, masih belum selesai juga pesan yang beredar dari ke dari tersebut.

Si G juga saya kejar, mengaku mendapat dari si H. G berkata bahwa H merupakan anggota atau pegawai aktif di sebuah institusi pemerintah. Saya bertekad akan terus mengejar. Pada pesan terakhir, G menyampaikan bahwa saya harus sopan dan berhati-hati ketika bertanya pada H.

Saya jawab, ‘ya’. Dan saya lanjutkan,

“Terserah saya mau sopan atau tidak.”

Saya hubungi si H, tak peduli dia pegawai pemerintah Zimbabwe, Bostwana atau Haiti, saya tak peduli. Siapapun yang menyebarkan fitnah itu, akan berurusan dengan saya. Alih-alih menjawab pertanyaan saya, dia bertanya siapa saya, dan bertanya kepentingan saya menanyakan hal itu.

Saya muring. Tetapi demi mendapat informasi, saya menahan diri untuk tidak mengajaknya berkelahi.

Saya hanya sampaikan kalau sedang mencari sumber fitnah berkait pesan tersebut.

Si H berkata kalau pesan itu adalah sebuah laporan resmi atas suatu kejadian, yang berasal dari suatu institusi. Saya mengejarnya bahwa kalau saya tidak mendapat nomor kontak dari seseorang yang bisa saya minta keterangan setelah dia, saya akan ke kantornya, dan memperkarakannya karena menyebarkan berita tidak benar.

H menyerah, dan memberikan nomor kontak seorang pejabat.

Si pejabat saya hubungi via WA, dan menelepon tak lama setelahnya.

Pertama-tama dia meminta maaf. Setelahnya mengakui, kemudian mengklarifikasi. Bahwa apa yang beredar dan saya permasalahkan itu, bersumber pada laporan resmi atas suatu kejadian dari institusinya.
Tetapi pada fitnah yang saya permasalahkan, si pejabat mengelak. Dia memberikan saya sebuah screenshot pesan yang menurutnya adalah sumber pertama.

“Tidak ada kalimat seperti pada poin yang anda permasalahkan, mungkin sudah ada yang mengubah.” Katanya.

Saya diam.
Sampai disitu saya tahu dan persis memahami, kalau tidak mungkin mencari pelaku yang [sengaja] melakukan editing terhadap pesan tersebut, dan memasukkan tulisan bernuansa fitnah. Kecuali kalau saya mempunyai sumber daya yang mencukupi.

Sampai saat ini, saya selalu terkenang kejadian tersebut. Dan semakin mengutuk penyebaran pesan di WA tanpa pertanggungjawaban pasti.

Jika dikaitkan keputusan pemerintah membatasi penyebaran pesan terusan adalah sebagai upaya represif, silahkan juga. Saya setuju dengan pembatasan ini, meski juga tak mendukung, tetapi tak menolak.

Mendukung berarti saya mempunyai pastisipasi aktif untuk mengkampanyekan hal tersebut. Tetapi saya tak peduli. Namun setuju dengan kenyataan bahwa saya beberapa kali merasa dirugikan dengan kejadian penyebaran pesan seperti itu.

Pada akhirnya, kalau ternyata esok usaha pembatasan ini adalah upaya pemerintah untuk merepresi warga dan masyarakat yang ingin berdiskusi, ya kita LAWAN.

Tetapi sebelumnya, hentikan penyebaran tulisan atau berita yang tidak benar serta tak jelas sumbernya di WA.

Begitu, paham kan ya???

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

40 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *