Kali Oya Selopamioro, Layak dan Tak Layak Untuk Bersepeda

Rencana awal, hanya ingin makan pecel di komplek makam raja Imogiri. Tetapi semua berubah, setelah sepeda menyerang.

Kami (saya dan rombongan penggemar sepeda di perumahan) berangkat sekira pukul 6.15 pagi. Sudah terlalu siang sebenarnya. Tetapi tak mengapa, toh komplek makam di Imogiri itu tak terlalu jauh.

Menyusuri jalan Wonosari ke arah barat, kami berbalok arah kiri menuju Tempuran Cikal, sebuah destinasi wisata lokal. Dari situ, nanti akan tembus sampai ke arah jalan Pleret-Cinomati. Pelan dan santai saja, ini kan bukan event balap sepeda kebut-kebutan. Lagi pula, sepeda saya hanya sepeda lipat yang jelas saja tak bisa digenjot kencang. Kalaupun bisa, dengkul saya yang tidak bisa, wkwkwkwk.

Tetiba teringat kejadian sekira setahun lalu, ketika saya dihajar oleh tiga orang tetangga, dengan diajak bersepeda sampai ke Imogiri. Waktu itu, saya sudah empat tahun lebih tidak bersepeda, dan sekalinya bersepeda, langsung Imogiri. Rontok lah segala keyakinan saya mengenai bersepeda yang merupakan olahraga rekreasi nan menyenangkan.

Tetapi itu setahun yang lalu, kini saya sudah (kembali) bersahabat dengan sepeda. Ditambah lagi, asupan nutrisi pengetahuan dari internet mengenai bagaimana bersepeda yang baik dan benar like a pro cyclist sudah saya telan. Jadilah saya benar-benar santai dan tenang kali ini. Tiga orang tetangga yang setahun lalu menghajar saya, kali ini juga turut serta. Paling tidak, kini akan saya tunjukkan kepada mereka bahwa dengkul ini sudah jauh lebih mampu.

Sebagai informasi, selama setahun terakhir, kejadian memalukan ketika saya dihajar itu selalu menjadi bahan cerita. Asik betul.

Sampai pada pertigaan sebelum komplek makam, kami mengambil arah kanan ke Mangunan. Lhoh?
Oiya saya lupa, pecel itu sebagai sampingan saja. Tujuan utamanya adalah jembatan gantung Selopamioro. Dari makam Imogiri, anda bisa mengambil arah melewati sentra kerajinan keris Banyusumurup. Lurus saja ke selatan, nanti sampai juga. Tenang, dekat saja dari makam Imogiri.

Kami sampai di jembatan gantung Selopamioro sekira jam 8.00. Cukup lama, karena kami santai saja mengayuh pedal sepeda.

Setelah sesi foto-foto (bagian terpenting bersepeda), kami melanjutkan perjalanan menyusuri sepanjang tepi Sungai Oya.

“Nanti juga sampai pada ujungnya.” kata mereka.

Ya ya ya. Membayangkan jalur pulang, saya sudah mulas.

Jalanan masih aspal, tetapi sudah rusak pada beberapa bagian. Sepeda lipat saya sedikit meringis kesakitan, begitu juga dengan pantas saya.

Sampai pada sebuah desa wisata (Sriharjo?) kami mlongoh. Bagus bener. Benar-benar bagus pemandangan yang ada. Alami, perbukitan yang menjulang hijau, lahan pertanian yang menghampar luas, dengan hiasan puluhan sepeda yang berjajar sepanjang tepi jalan, wkwkwkwk.

Kembali foto-foto, jangan sampai lupa.

Setelah bertanya kepada warga setempat apakah nanti akan ada jembatan menyeberang, kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya sampai juga pada jalan penghabisan. Harus menyeberang sungai, melewati jembatan bambu selebar lebih kurang satu meter. Bagus, disinilah terkadang terbersit penyesalan mengendarai sepeda lipat.

“Pokoknya gendong.” kata Blackpink, sepeda lipat saya. Done, sepanjang menyeberang, ia saya gendong.

Harusnya selepas menyeberang, kami mengambil arah kanan. Tetapi pembisik berkata bahwa jika belok kiri, ada pemandangan bagus diujung sana. Maka kami mengambil arah kiri.

Jalannya? Selepas aspal adalah perpaduan tanah dan makadam, baru kemudian cor semen selebar satu meter tepat di tepi bukit. Jalan itu serupa ular yang melingkar dipinggang perbukitan, dan tepat berada diatas sungai yang berwarna kehijauan. Terpeleset, maka kesegaran sungai menanti dibawah.

Hampir sampai ujung, keraguan mulai membayang. Apakah masih ada jalan?
Untungnya ada beberapa warga setempat yang sedang berada disana.

“Bisa jalan terus kok. Nanti naik terus akan sampai di Siluk, tepat di SPN (Sekolah Polisi Negara).”

“Jauh?”

“Mboten, paling tiga kilometer.”

Done, lanjut.

Hanya saja yang kami lupa, bahwa tiga kilometer ini bukan jalanan datar dengan aspal mulus, melainkan jalanan menanjak dengan aspal keriting. Dimulailah penyiksaan itu.

Jalanan yang kami lewati, berupa tanjakan dengan elevasi kemiringan antara lima belas sampai tiga puluh derajat. Puas? Belum?
Baiklah, aspal rusak?
Jalanan sempit?
Kehabisan air minum?

Belum puas? Kobis!!!!

Kami sampai disebuah perkampungan bernama Kedungjati, dan untuk sampai ke jalan raya, kami harus terus membawa sepeda sampai ke puncak, melewati jalan dan tanjakan jahanam itu.

Tunggu! Membawa?
Ya tentu saja, tak semuanya kuat untuk terus mengayuh. Hanya beberapa saja yang terus kuat mengayuh.

Dan, disinilah bagian membahagiakan. Tiga orang tetangga yang dulu menyiksa saya sampai ke Imogiri, kini gantian tersiksa. Bwahahahaa…
Dan saya beserta Blackpink bisa tertawa jahat sepanjang jalan.

Wajah-wajah berwarna merah kehitaman mulai banyak terlihat, beberapa bahkan sudah berwarna kehijauan, hampir pingsan. Jyahahahaha…

Untungnya di Dusun Kedungjati itu, ada simbah-simbah baik hati yang rela memberikan semua stok air dingin di kulkasnya untuk kami. Semoga Tuhan dan semesta membalas segala kebaikan beliau. Terang saja, tanpa tambahan air minum itu, bisa jadi kami akan mengelepar kehausan ditengah jalan. Karena tiga kilometer itu nyatanya tak juga terlihat ujungnya.

Kalau anda pernah berjalan menaiki tangga gedung bertingkat, seperti itulah jalanan yang kami lalui. Tanjakan curam dan tajam tanpa bonus jalan datar. Naik dan naik terus yang membuat beberapa sepeda hampir terbalik dan terpaksa dituntun. Untung saja disini Blackpink menunjukkan pesonanya. Dengan anggun ia mampu meladeni ritme kayuhan kaki saya, sehingga kami sama sekali tidak menuntun sampai ke puncak tepat di depan SPN. Love u Blackpink.

Sampai di puncak, saya segera mencari warung untuk memesan teh panas. Kasihan rombongan di belakang, mereka butuh asuhan gula instan. Bwahahahaa…

Berselang sekira dua puluh menit, sampailah semua sepeda dan tuannya dipuncak, dan silahkan minum teh hangat, hahahaha…

Masih ada perjalanan menuruni Siluk, menuju Imogiri, dan terus ke jalan Piyungan-Prambanan.
Jauh? Tentu saja, beberapa orang sudah hampir menyerah dan mengusulkan untuk mencari mobil angkutan.

Pecelnya bagaimana? Ya tetap donk ya. Sampai Imogiri kami makan pecel, dan baru melanjutkan perjalanan pulang. Sampai dirumah sekira jam 2.15 siang. Wueh…

Apa pelajaran yang diambil? Tidak ada? Kalau pemandangan bagus, banyak. Seperti yang saya lampiran diatas.

Apakah bersepeda ada manfaatnya? Tentu saja, paling tidak bersepeda seperti yang kami lakukan kemarin bisa membuat kalimat istighfar menjadi lebih sering terdengar.

Ahahaha, beginilah kepuasan bersepeda.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)