Kebersihan Dan Cuci Tangan

Ilustrasi Kebersihan

Mendadak sabun-sabun untuk cuci tangan habis di toko. Baik toko-toko kecil maupun toko besar. Entah toko di kota, pinggiran kota, di desa, dengan banyak penduduk maupun sedikit penduduk. Habis.

Yang tersisa tinggal sabun mandi. Saya menjadi semakin yakin kalau masyarakat belakangan ini (dikarenakan pandemi Covid-19) menjadi rajin cuci tangan, demi menjaga kebersihan. Tetapi kok saya sangsi perihal mandi atau tidak.

Berbagai macam petunjuk baik melalui media visual, video ataupun tulisan, banyak bertebaran. Perihal cara cuci tangan yang baik dan benar, yang merujuk pendapat dari WHO atau badan kesehatan dunia, mampu meminimalisir penyebaran virus. Saya sendiri suka melihat petunjuk semacam itu, namun untuk melakukannya detail sesuai petunjuk, saya masih alpa.

Bukan apa-apa, saya termasuk makhluk primitif yang masih enggan mengikuti perkembangan dunia kesehatan. Termasuk perihal cuci tangan yang baik dan benar itu.

Apalagi jika yang menyampaikan adalah WHO, yang selalu berpendapat bahwa rokok adalah sumber dari segala sumber penyakit. Meski kenyataannya saat ini, pandemi yang sedang berlangsung sama sekali tidak berhubungan dengan rokok. Horotoyoh…

Tetapi perihal cuci tangan itu, saya sedikit mengikutinya. Sedikit saja, perihal interval dan keharusan yang dilakukan. Bukan pada detail caranya.

Detail cuci tangan itu bagi saya terlalu klinis, kalau tak boleh dikatakan berlebihan. Bagaimana tidak, sedang setelah cuci tangan, kaos bagian samping adalah bagian paling menyenangkan untuk mengeringkannya. Lagipula, budaya cuci tangan dengan air mengalir, belum terlalu lama menjadi budaya dalam hidup saya.

Tentu saja budaya itu berkait erat dengan kebiasaan yang menyertai tumbuh kembang saya. Sampai hampir masuk SMP, bahkan keluarga kami belum memiliki sumur dan kamar mandi. Maka jangan berharap ada kran yang mengalirkan air untuk cuci tangan. Satu-satunya tempat yang mengalirkan air adalah sebuah gentong di depan rumah, yang lebih khusus untuk berwudhu. Air dari gentong itu, diisi bergantian oleh Mamak maupun Bapak, setelah meminta air dari sumur tetangga.

Jangan terlalu jauh membayangkan keberadaan kran, air mengalir, untuk menjaga kebersihan tangan. Sekadar tempat privasi untuk mandi saja, kami tak punya. Untuk cuci tangan, dulu kami terbiasa melakukannya pada sebuah bak berisi yang juga difungsikan untuk merendam piring kotor. Hal ini nanti berkait erat dengan pola dan cara pandang saya secara keseluruhan, mengenai cara-cara menjaga kesehatan.

Untuk mandi, sejauh saya bisa mengingat, lebih banyak kami lakukan di sungai. Beberapa kali memang kami lakukan dengan menumpang pada kamar mandi tetangga. Tetapi jika terus menerus setiap hari, tentu saja menimbulkan perasaan sungkan. Maka semenjak saya berani berangkat sendiri ke sungai untuk mandi, saya selalu melakukannya disana. Pun jika saat itu sedang hujan deras, saya akan tetap ke sungai. Dengan payung yang saya bawa, baju bersih untuk ganti dan juga handuk akan saya lindungi dengan payung itu. Setelahnya, saya akan mandi dengan dua sumber air sekaligus. Dari air sungai, dan dari air hujan. Bersih? Entah saja, belum ada alat pendeteksi kuman waktu itu…

Saya berikan ilustrasi mengenai definisi bersih atau tidak. Sungai yang biasa saya pakai itu, adalah sebuah sungai kecil. Sungai kecil dengan lebar tak lebih dari lima meter. Di beberapa tempat, mungkin yang saya sebut sungai itu, hanya akan disebut sebagai selokan. Saya menyebutnya sungai karena menilai bahwa air yang mengalir disana cukup bening (jika tidak sedang musim penghujan), dan selalu mengalir meski musim kemarau. Jadi saya simpulkan sebagai sungai, karena berpendapat bahwa mempunyai hulu dengan sumber mata air yang cukup besar.

Pada sepetak tempat yang sering dipakai itu, berupa batu wadas (cadas), dengan ceruk sedalam setengah meter pada bagian terdalam ketika kondisi normal. Ada sebuah pohon munggur (trembesi) di tepi sungai tersebut. Ada sebuah batu berukuran cukup besar dibawahnya. Akar dari trembesi dan batu tersebut yang saya pakai untuk meletakkan baju ganti dan juga handuk ketika mandi.

Jangan bayangkan sekadar penutup atau slintru di sepetak bagian itu. Tak ada yang menutupi, terbuka dan terlihat dari sudut 360 derajat. Jadi lebih ketika mandi, saya akan lebih banyak berjongkok.

Airnya, sini saya kasih tahu.
Jika anda mengambil segayung air dari sungai yang terlihat bening mengalir itu, anda akan mendapati cendol dalam ukuran lebih mini. Meski terlihat bening, ketika diambil dan diamati secara seksama, akan terlihat ‘kotor’. Saat itu saya berpendapat, menenangkan diri sendiri, bahwa itu bukanlah kotoran, melainkan mineral. Itu adalah mineral yang akan menguatkan gigi dan juga tubuh saya andai sampai tertelan. Haha…

Saya tak mempunyai pilihan selain untuk mensugesti diri sendiri, bahwa air yang saya pakai untuk berkumur itu, adalah air yang bersih, dan hanya penuh dengan mineral. Sejauh yang saya ingat, sampai pada akhirnya keluarga kami mempunyai sumur dan kamar mandi sendiri, saya jarang sakit. Apalagi jika itu adalah sakit yang berhubungan dengan pencernaan dan apalagi sakit kulit. Mungkin saja kuman-kuman yang ada di sungai itu kasihan kepada saya, dan enggan menyakiti saya. Kalau pun tidak seperti itu, bisa jadi air sungai yang biasa saya pakai itu memang penuh dengan mineral menyehatkan.

Cendol itu belum cukup meyakinkan? Saya tambahkan.
Sekira tiga ratus meter ke arah hulu, dalam aliran yang sama, sungai itu juga digunakan untuk ngguyang sapi. Memandikan sapi. Jadi bisa juga sekalian dibayangkan, bahwa yang serupa cendol itu adalah juga sisa-sisa proses pencernaan para sapi yang mandi disana.

Itu baru sapi, saya tambahkan perihal mineral itu. Selain sapi, banyak orang lain yang juga membuang hajat mereka di sungai. Pada sepanjang arah hulu diatas tempat saya biasa mandi dan membersihkan diri. Maka tak usah terlalu heran ketika sehabis mengambil segayung air untuk gosok gigi, belum mulai menggosok gigi dan masih berkumur, tiba-tiba datang sebentuk kapal selam kuning dalam berbagai rupa.

Apakah setelah itu hilang daya sugestif saya terhadap diri sendiri? Tentu saja tidak. Saya akan tetap melanjutkan berkumur, dan menggosok gigi, kemudian mandi. Dalam aliran air yang sama untuk ngguyang sapi, dan juga menelurkan kapal selam kuning.

Apa yang bisa disimpulkan? Tidak ada.

Saya hanya ingin menyampaikan sedikit saja dari bertahun-tahun pengalaman itu. Bahwa yang menentukan derajat kesehatan anda setelah berusaha sebersih mungkin, adalah tetap Dzat Yang Maha Kuasa. Bukan sabun, cairan pembersih tangan, atau juga berbagai metoda serta cara.

Jika merujuk ilmu kesehatan modern, tentu saja yang kami lakukan selama bertahun-tahun itu akan memicu desentri dan juga mencret berkepanjangan karena menggunakan air yang penuh dengan ‘mineral’. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Kami tetap sehat.

Apakah ini berarti saya menganjurkan untuk tak usah cuci tangan dan menjaga kebersihan? Ya tentu juga tidak.

Tetaplah mencuci tangan, mandi, menjaga kebersihan. Namun juga seraya mensugesti diri anda sendiri, bahwa yang melindungi anda bukanlah zat-zat buatan manusia itu, dan juga cara yang disepakati oleh sebagian manusia itu. Ada sosok yang melindungi anda dari waktu ke waktu, dari satu sudut dunia ke sudut dunia yang lain. Ia akan melindungi anda dengan caraNya, dan dengan ketentuanNya.

Ia akan melindungi semuanya. Entah kepada anda yang mencuci tangan dengan sabun dalam air mengalir, atau kepada anda yang hanya bisa mencuci tangan dengan air saja karena tak mampu membeli sabun. Ia akan melindungi siapapun, baik anda yang bisa makan dengan layak tiga kali sehari, atau anda yang makan dengan kurang layak dan kurang dari tiga kali sehari. Ia akan melindungi anda yang memakai masker, dan juga anda yang tidak mempunyai masker.

Ia akan melindungi kita dengan cara dan ketentuanNya. Tugas kita hanya tinggal ridho dan menerima semua keputusanNya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *