Kebiasaan

Secara mengejutkan dan tak pernah disangka, selama sepuluh pekan terakhir saya tidak jumatan. Duh, auto masuk neraka ga ya?

Padahal, biasanya saya juga jumatan. Jumatan biasa-biasa saja dengan setengah terkantuk mendengarkan khotbah, dan kemudian kembali segar bugar begitu imam mengucapkan salam. Sungguh jumatan yang biasa-biasa saja.

Jika ada sedikit yang tidak biasa, selama Ramadhan tahun ini saya tidak mokah, mokel, alias membatalkan puasa di siang hari. Padahal beberapa tahun sebelumnya, mokel disiang hari bagi saya biasa saja. Kecuali tahun kemarin, saya juga berpuasa penuh.

Tetapi tahun-tahun sebelumnya, paling tidak ada tiga sampai enam hari dimana saya akan menikmati es teh dan semangkuk mie instan kuah panas disiang hari. Sungguh nikmat.
Meski begitu, saya juga biasa untuk lekas menggantinya di hari lain, membayar hutang puasa itu.

Sejauh saya mengingat, mungkin tahun ini juga akan ada hari raya Idul Fitri paling tidak biasa, dimana tidak akan ada silaturahmi dengan saling mengunjungi rumah. Saya akan memilih berdiam diri dirumah orangtua, sembari menikmati manisan kolang-kaling buatan Mamak. Eh, tahun ini Mamak membuat manisan kolang-kaling ga ya?

Setelah lebih dari tiga dekade dalam kehidupan saya hari raya Idul Fitri berlangsung dengan kebiasaan saling mengunjungi, mungkin tahun ini akan ada sedikit perubahan. Yaaa dengan tidak saling mengunjungi itu tadi.

Kenapa? Apakah saya takut corona?
Jujur saja, iya.
Mungkin kemudian banyak yang berkomentar :
“Takut lah kepada Allah, kepada Tuhan, bukan pada corona!”

Hehehe, itulah masalahnya. Saya terlanjur biasa mereduksi rasa takut terhadap Allah, Tuhan saya itu.
Saya sudah biasa mengalihkan rasa takut itu menjadi rasa cinta. Uhuk Uhuk

Karena apa?
Karena kecenderungan manusia itu enggan bertemu bersua dengan sesuatu yang ia takuti.
Jujur saja, iya kan?

Kalau anda takut hantu, pasti anda enggan bertemu hantu.
Kalau anda takut ular, pasti anda enggan bertemu ular.
Kalau anda takut tikus, pasti anda enggan bertemu tikus.
Kalau anda takut ulat, pasti anda enggan bertemu ulat.
Dsb dsb dsb…

Iya kan? Manusia cenderung enggan bertemu dengan sesuatu yang ia takuti.

Nah, untuk itulah saya belajar mengalihkan perasaan takut kepada Tuhan, dan mengalihkan serta mentransformasikannya menjadi perasaan sayang dan cinta.
Sebab saya tak ingin menghindari Tuhan. Saya selalu ingin bertemu denganNya.
Maka jelas kalau saya (saat ini) memang dalam posisi ‘tidak takut’ kepada Tuhan.
Rasa takut itu saya bungkus dalam dialektika menyeluruh bernama cinta.

Di dalam cinta, tentu ada rasa takut. Tetapi bukan rasa takut yang destruktif dan merusak. Melainkan rasa takut yang memupuk rasa sayang, serta membangun kepercayaan. Ciieehhhhh….

Nah, kalau sama corona, mau sampai besok kiamat juga saya tak sudi ketemu. Karena saya takut.

Karena takut, maka terpaksa dengan penuh pertimbangan yang juga terpaksa, saya terpaksa untuk tidak melakukan kebiasaan yang sudah puluhan tahun saya lakukan. Kebiasaan untuk bersilaturahmi tatap muka ketika Idul Fitri itu.

Mohon maafkan, saya memang penakut.
Saya takut jika ternyata tanpa disadari sudah bertemu corona, dan saya menularkannya kepada anda karena silaturahmi itu.
Maafkan, itu pertimbangan pertama dan utama.

Lain-lain?
Tentu saja ada penyesalan perihal putusnya kebiasaan itu. Bertemu kerabat, saudara dan juga kawan ketika Idul Fitri adalah nikmat yang tiada terkira.
Tetapi ya kembali lagi pada pertimbangan pertama dan utama. Tak mengapa jika sementara saya harus menahan dan berpuasa untuk tidak mencecap nikmat silaturahmi secara langsung. Paling tidak, untuk mereduksi penularan virus yang sampai saat ini belum ada obatnya itu.

Oh iya apakah anda termasuk orang seperti saya? Yang terbersit rasa penyesalan kenapa kebiasaan baik dan menyenangkan itu harus sejenak terjeda gegara pandemi wabah?
Tenang, anda tidak sendirian.
Banyak dari kita yang mengalaminya.

Yang seharusnya ikut tereduksi dan terjeda gegara wabah ini juga sebenarnya adalah, kebiasaan ngeyel dan bebal.

Yaaa, manusia juga cenderung ngeyel dan bebal, menuruti kata hati dan kemauannya sendiri, tanpa mempedulikan situasi dan kondisi. Kalau kata istilah bahasa Jawa : ndableg. Atau, nggugu karepe dewe.

Nah, ini juga saatnya untuk sejenak saja tidak ndableg. Demi kebaikan kita dan keberlangsungan hidup manusia.

Kalau sementara ini teori paling baik menurut para ahli untuk mencegah penularan virus adalah menjaga jarak atau physical distancing, ya kita ikuti. Toh juga kata pepatah : serahkan suatu permasalahan kepada ahlinya.

Nah, kebanyakan dari kita tentu bukan ahli kesehatan dan ahli virus. Jadi apa salahnya kita ikuti pendapat para ahli itu? Agar manusia tidak lekas punah. Atau setidaknya, agar tidak terjadi krisis berkepanjangan di negara ini. Kalau krisis, kita juga yang repot.

Oh iya terakhir dan paling penting dari tulisan ini. Kalau biasanya anda membaca tanpa mengklik iklan yang ada di website ini, mulai sekarang biasakanlah untuk paling tidak sekali saja klik iklan yang ada.

Itu adalah hal penting, kenapa?
Karena iklan di website ini adalah sumber penghasilan saya. Sumber penghasilan yang saya gadang-gadang akan cukup dipakai untuk membeli sebiji mobil Nissan GT-R.
Kalaupun tetap tidak cukup untuk membeli mobil aslinya, paling tidak semoga cukuplah untuk membeli Nissan GT-R merk Hot Wheels.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)