Kecap Pelipur Lara

Jika saja ada satu hal yang membuat saya tak berselera makan meski perut sangat lapar, adalah perdebatan mengenai ‘benar-salah’ menambahkan bumbu tertentu pada makanan yang sudah disajikan. Misalnya saja perdebatan mengenai benar atau tidak menambahkan kecap di dalam semangkuk soto, atau halal-haram menambahkan saus tomat maupun saus cabai di dalam semangkuk mie ayam.

Saya pernah seketika meninggalkan meja di sebuah warung soto, gegara seorang songong sotoy berkhotbah mengenai benar-salah dan baik-buruk menambahkan kecap di dalam soto. Beserta seberapa pula takaran penambahan kecap yang baik jika terpaksa memang harus menambahkannya.

“Jangan menambahkan lebih dari setengah sendok makan, nanti bisa mengubah cita rasa asli dari soto ini.” katanya.

Haasshhhhh preekkkk!!!

Seketika saya pergi, tak jadi makan.

Lha wong cuma mau makan saja kok banyak aturan. Esensi makan ya tentang laparnya perut, kemudian diisi. Urusan lidah itu nomer sekian. Setelah lapar yang paling penting adalah keberadaan sumber daya, makanan itu sendiri atau uang untuk membelinya.
Kalau mau khotbah benar salah ya di perempatan sama orang-orang yang suka melanggar lampu merah, bukan sama orang lapar di warung soto.

Benar-salah menambahkan kecap ketika makan soto, adalah urusan pribadi masing-masing. Yang paling penting, bayar setelah makan jika itu di warung. Atau berdoa sebelum makan. Atau mbayari orang lain. Itu jauh lebih penting.
Haa kalau cuma menambahkan kecap kok dipermasalahkan?

Kalau menambahkan kecap dalam semangkuk soto adalah hal yang salah, maka tentu saja penjualnya tidak akan menyediakan kecap botolan di meja!!!

Lagipula, mungkin orang-orang yang menambahkan kecap pada sotonya, sudah pernah nyicip dan makan versi orisinilnya dari soto tersebut. Maka ia menambahkan kecap untuk menguji dan mengeksplorasi rasa. Selama apa yang ditambahkan masih dalam batas-batas kewajaran suatu makanan, ya ndak masalah.
Yang jadi masalah adalah menambahkan gudeg di dalam semangkuk soto. Bisa saja, dan mungkin ada yang kolu memakannya, tetapi tentu saja melanggar kaidah estetika.

Menambahkan bumbu instan termasuk kecap di dalam suatu masakan, adalah hak asasi setiap insan yang kelaparan.
Atau mungkin saja lidah dan perutnya memang hanya bisa menerima kecap, saus, atau bahkan sambal. Yang pertama adalah bagaimana bisa secepatnya makan kecap, saus atau sambal ketika lapar.
Bisa jadi masakan pokok yang disajikan sebenarnya bagi orang-orang tertentu itu hanyalah penamping saja bagi kecap, saus, atau sambal.
Yang utama adalah kecap, saus, atau sambalnya, —soto, bakso dan mie ayam hanya pelengkap dan pengantar saja—.

Bisa jadi seperti itu, kan?
Ya bisa saja.
Lha wong orang-orang yang bekerja hanya demi uang dan jabatan saja juga banyak kok. Bukan lagi bekerja untuk memenuhi fitrahnya sebagai makhluk berakal yang harus bekerja demi hidup dan harga dirinya. Bahkan, harga dirinya digadaikan demi sejumlah uang atau posisi jabatan.
Terbalik kan?
Bekerja yang sebenarnya untuk menjaga harga diri dan marwah kehormatannya sebagai manusia, malah digadaikan untuk uang dan jabatan yang sifatnya hanya sementara.

Masih mending peghobi kecap, kan?

Maka jangan sok berkhotbah mengenai baik-buruk, benar-salah, di warung-warung tempat orang kelaparan berada.
Orang lapar butuh makan, bukan khotbah dan pencerahan.

Kenyangkan dulu, baru boleh diceramahi, atau diajak diskusi.
Kalau orang lapar diajak debat, ya bisa dikapyuk kuah soto sampeyan.

Seorang penceramah harus konsisten memberikan rasa nyaman dan terutama kenyang terlebih dahulu kepada orang-orang yang akan diceramahinya. Paling tidak menjadi contoh bagi yang diceramahi, bahwa ia sendiri bisa kenyang tanpa mengemis dan meminta-minta. Syukur-syukur ceramahnya adalah ceramah produktif yang menyentuh langsung sendi-sendi kehidupan jamaahnya, terutama dalam bidang ekonomi. Jadi ceramahnya aplikatif. Ceramah tentang langit yang membumi. Ceramah akhirat yang diejawantahkan ke dunia. Bukan ceramah kosong di awang-awang.

Jangan terbalik, yang mau diceramahi malah suruh mbayar. Ngundang juga harus berkewajiban njemput, menyiapkan akomodasi.

Kalau yang diceramahi memang mau membayar, itu lain soal. Tetapi kalau yang mau ceramah meminta tarif dan bayarin, itu jelas pelanggaran

Kalau yang mau diceramahi memang berniat ingin membayar, itu tidak salah. Dengan catatan yang mau dimintai tolong ceramah tidak menetapkan tarif. Jadi nanti dialognya adalah karena rasa cinta, kasih sayang. Bukan sekadar eksploitasi satu sama lain.
Eksploitasi dalam bingkai, yang ceramah merasa dirinya penting karena diundang dengan menetapkan bayaran, yang ngundang merasa tidak perlu mendengarkan ceramah karena sudah membayar.

Nah kan, jadi mubadzir acara ceramah atau khotbah itu nantinya. Isinya hanya orang yang sok satu sama lain.
Yang satu merasa sok penting, yang satu sok kuasa.

Kembali lagi ke soto, malah melantur sampai ceramah dan khotbah. Bukan ranah saya berbicara mengenai ceramah dan khotbah, apalagi tentang agama. Biarlah itu menjadi urusan ustadz dan ulama, yang sebentar lagi menjadi alien dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan usulan pengesahan RUU yang melindungi mereka.

Ulama itu, kalau memang benar-benar ulama, tidak perlu RUU juga umat dan masyarakat akan melindungi serta menjaga mereka. Kecuali kalau ulama abal-abal. Yang suka menebar kebencian. Maka mereka menggalang kekuatan untuk pengesahan RUU. Agar nanti kalau ada ulama abal-abal berbuat kesalahan atau kejahatan yang berpotensi mendapat tuntutan pidana, bisa berlindung di balik UU Perlindungan Ulama. Bagus, kan?

Welah, ini tadi ngomongin soto, kenapa sampai kemana-mana?

Soto, pada beberapa aspek mengapa terlihat jauh lebih baik, kuat, dan bermartabat daripada manusia?
Misalnya saja, ia tak merasa kotor dan dinistakan atau dihina, meski ditambahkan kecap atau sambal pada dirinya?
Ia juga tak terpengaruh serta hilang jati diri aslinya sebagai soto, meski sudah ditambahkan kecap ataupun sambal.

Ia tetap menjadi soto, yang segar dan mengenyangkan manusia. Itulah esensi keberadaan dirinya di dunia.

Sebenarnya, sama halnya dengan manusia. Esensinya di dunia adalah, untuk sebaik-baik dan sebenar-benar berguna bagi sesamanya. Bukan untuk merasa paling benar, atau paling berkuasa.

Eh tapi, tulisan ini ngawur saja.

Saya,
Gareng.

Latest posts by Gareng (see all)