Kegelisahan Ken Arok

Arok gelisah, ia hanya mondar-mandir saja diberanda rumah Lohgawe, sembari mengisap sisa linting tembakau di tangan kanannya. Tangan kirinya memegang secangkir tuak.

Ia teringat percakapannya beberapa hari yang lalu dengan beberapa pendeta dan brahmana sepuh. Arok sungguh gelisah.

“Arok, duduklah anakku.” Lohgawe membuka suara setelah beberapa waktu, anak asuhnya terlihat mondar-mandir dengan raut muka serta sikap gelisah.

“Iya Bopo, sebentar. Arok bahkan tak seharusnya bisa menikmati secangkir tuak dan linting tembakau dalam kondisi seperti ini, apalagi duduk.” Arok memberi jawaban senada dengan sikapnya.

“Apa yang membuatmu gelisah, anakku?” Lohgawe mencoba bersikap tenang, melontarkan pertanyaan yang sebenarnya ia sudah ketahui jawabannya.

“Tempo hari Bopo. Percakapan tempo hari.” Sembari melepas tarikan napas panjang, Arok menjawab pertanyaan Lohgawe.

“Ooh.” Lohgawe berpura-pura baru mengetahui musabab anaknya gelisah.

“Aku harus bagaimana Bopo?”

“Anakku, tempo hari, itulah titah dewa kepadamu.”

***

Tempo hari, selepas petang utuh ditelan terang, Arok sedang bersiul-siul riang sembari memancing ikan di sungai Brantas. Sebelumnya ia mandi dan berendam di tepian sungai yang mengalir jernih diantara bebatuan, menghilangkan sisa efek tuak yang didapatnya semalam di kedai minuman. Beberapa ekor rusa terlihat sedang minum dari air sungai yang sama, sembari beberapa kali menolehkan kepala ke arah Arok. Udara pagi dan dinginnya air menyegarkan tubuh sekaligus pikiran Arok. Beberapa hari ini pikirannya tak keruan.

Ia sedang dilanda cinta.

“Bangsat, kenapa harus dia.”

Arok bergumam pelan. Kailnya bergerak, mungkin seekor ikan cukup lapar sepagi ini, sehingga memakan umpan yang ia pasang.
Arok segera mengangkat kailnya, dan seekor ikan yang cukup besar terlihat bergerak liar. Ia segera menarik dan mengangkatnya ke tepian.

“Lumayan.”

Dan Arok segera menyiapkan api unggun kecil untuk mengolah ikan yang baru saja menjadi anugerahnya.

“Arok.”

Sebentuk suara terdengar menyebut namanya, tak asing ditelinga.

“Iya Bopo, disini.”
Arok membalas suara yang menyebut namanya dengan keras.

Tak berapa lama sesosok terlihat mendatangi Arok dari balik gerumbul semak, diantara sebuah batu dan dua pohon besar.

“Ada apa Bopo?” Arok bertanya ramah pada sosok yang kini ada dihadapannya, dan dipanggilnya dengan panggilan Bopo.

“Sebaiknya kamu bersiap, kita ada pertemuan penting menjelang siang.”

“Ooh, iya.”

Arok bergegas berdiri, melemparkan ikan yang masih menggelepar dan belum mati, kembali ke sungai. Tak lupa ia mematikan api unggun yang terlanjur menyala sebelum meninggalkan tepi sungai.

Ia berjalan pelan mengikuti orang yang mencarinya.

***

“Tak bisa tidak. Ia harus dimusnahkan.” Seorang dengan jubah serupa brahmana, berambut putih dengan wajah bersih dan kumis serta jenggot tipis, bersuara.

“Kita harus bertindak.” Sahut seorang lainnya.

“Kita harus segera menyusun rencana.” Seorang tua yang lain menyusul berbicara, sembari tangannya tak henti mengetuk meja dengan dua ujung jarinya.

“Lohgawe, bagaimana persiapanmu?” Seorang tua yang berbicara pertama kali pada pertemuan itu, melemparkan pertanyaan pada seseorang disebelah Arok.

“Sudah, Mpu. Semua sudah siap. Kecuali apa yang harus kita putuskan siang ini.” Jawabnya dengan suara mantap, namun masih menyisakan seiris keraguan.

“Arok, kau siap?” kali ini pertanyaan dilemparkan pada orang disebelah Lohgawe, yaitu Arok.

Arok terlihat gugup.

“Aku harus bagaimana?” Tanya Arok.

“Mulai saat ini, nama lainmu adalah Bathara Guru.”Mpu Purwa, seorang tua yang membuka percakapan, membuat sebuah pernyataan. Arok terlihat gamang.

“Tapi…”

“Hanya engkau yang mampu, anakku. Para dewa sudah memberikan mandat kepada kami, untuk disampaikan kepadamu.” Mpu Purwa menukas keraguan serta kegamangan Arok.

“Apakah aku siap?” Arok bertanya masih dengan gumpal keraguan.

“Keraguan hanya milik mereka yang tak mempunyai dharma. Setiap makhluk hidup mempunyai dharma masing-masing. Apakah engkau sudah mati didalam jasadmu yang masih menghirup serta menyesap sari pati alam kehidupan, Arok?”

Arok terdiam.

***

Arok setengah putus asa. Tujuan hidupnya tak lain hanya untuk berbahagia. Tak sekalipun ia berniat untuk menghabisi nyawa siapapun, bahkan seekor hewan melata atau nyamuk serta lalat.

Hatinya lembut.

Tetapi lembut hatinya juga sekaligus tak memungkiri kegelisahan bahwa terus menerus akan terjadi pembantaian, jika tak segera dilakukan rencana untuk melawan. Pembantaian tanpa alasan terhadap siapapun yang dianggap sebagai ancaman, oleh penguasa setempat dimana Arok tinggal.

Bukan karena ia takut sehingga setengah berputus asa. Dharmanya adalah untuk membela. Membela apapun atau siapapun yang teraniaya, terpojokkan, terpinggirkan. Tetapi kali ini…

Ia berada didalam pilihan sulit.

Setengah hatinya berkata bahwa ia harus mengikuti petunjuk dewa yang disampaikan oleh para pandhita dan brahmana. Tetapi setengah hatinya menolak untuk mengoyak luka, menumpahkan darah, melukai kehidupan.

Tunggul Ametung memang keterlaluan. Ia seakan selalu mengiyakan apapun yang dikatakan serta dititahkan oleh Kertajaya, Raja Kediri, tanpa sekalipun mampu memberikan pertimbangan. Tunggul Ametung memang hanya suka mencari muka dan mencari aman untuk dirinya sendiri.

Arok bimbang. Menurut para dewa, ia harus membunuh Tunggul Ametung, untuk kemudian melawan Kertajaya. Setidaknya, begitu yang ia ketahui dari para pandhita dan Brahmana.
Ia tak takut pada Tunggul Ametung. Akuwu tua bangka itu akan mati bahkan oleh hanya sebelah tangannya.

Bukan Tunggul Ametung yang menggelisahkan pikirannya, tetapi Ken Dedes. Perempuan yang pada betisnya ia melihat pancaran sinar menyilaukan.

Perempuan seperti itu, diyakini akan menurunkan raja-raja pada keturunannya. Tentu saja Arok ingin keturunannya menjadi raja-raja.

Tetapi, membunuh suami Ken Dedes demi itu semua….

Bagaimana pula nanti rudungan cerita mengenai pembunuhan itu. Dan cerita bahwa ia merebut Ken Dedes dari suaminya.

Ah, andai Ken Dedes bukan lah istri dari akuwu tua bangka yang lalim itu, tentu semuanya akan lebih mudah. Tinggal ia bunuh saja Tunggul Ametung, kemudian menyerang Kediri. Semua akan lebih mudah, dan perkaranya tak lebih daripada membela kehidupan masyarakat yang tertindas. Setelah itu, baru ia akan menikahi Ken Dedes.

Tetapi situasi senyatanya, terlampau rumit. Kelindan sebab akibat yang berada di sekelilingnya, akan membuat setiap tindakan menghasilkan konsekuensi panjang.

Bisa jadi, sejarah akan mencatatnya sebagai perebut istri orang, dan sekaligus pembunuh keji.

Arok tak terlampau yakin para dewa akan tetap membelanya dalam genangan darah dan kematian.

Arok gelisah.

*****
Gambar : murianews.com

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)