Keluar Grup Whatsapp

Gareng, kawan saya yang dua minggu lalu memberikan pendapat dan komentarnya mengenai mematikan centang biru Whatsapp,
tadi pagi ia datang lagi dan berkata kalau saya harus kembali mencatat, menulis, dan mengunggah pendapat serta komentarnya untuk ‘keluar dari grup Whatsapp’.

Saya enggan, selain karena sedang banyak pekerjaan, saya juga sedang tidak ingin mendengar suaranya, apalagi melihat wajahnya. Senyum yang menghias wajahnya lebih banyak tertuju untuk menghina. Lagipula, suaranya sama sekali tidak terakomodir oleh nada. Asal bunyi saja, seperti kaleng rombeng.

Tetapi Gareng memaksa, dan berkata kalau pendapat dan komentarnya mengenai ‘centang biru’ paling banyak dibaca oleh pengunjung blog saya. Saya tidak bisa mengelak mengenai hal itu. Memang pendapatnya mengenai centang biru itu sampai saat ini sudah dibaca atau dilihat lebih dari seratus kali. Jauh lebih banyak daripada kebanyakan tulisan serta pendapat saya yang hanya dibaca dua puluhan kali.

Ia tersenyum mengejek, dan menyarankan saya untuk lebih banyak meminta pendapatnya.
Saya sampaikan bahwa itu hanya kebetulan. Kebetulan saja dan tak ada yang perlu dibesar-besarkan.

Tetapi ia mengajak bertaruh, bahwa pendapatnya kali ini tetap akan banyak dibaca.

Maka, semoga anda tidak membaca ini, agar saya menang bertaruh. Dan agar Gareng di penceng keparat itu tak lagi besar kepala.

Gareng,

Keluar penjara

Bagi beberapa orang, keluar dari sebuah grup WA berarti juga adalah kemerdekaan dan perdamaian abadi. Seringkali, hanya karena rasa sungkan, lantas seseorang tetap bertahan berada dalam sebuah grup yang ia sendiri sudah tak merasa nyaman.

Baeklah, bagaimana hukumnya?

HARAM!!!!
Haram kalau keluar grup sembari mencuri atau merampok atau meledakkan terminal dan bandara.

Kalau keluarnya santai, diem-diem bae, ya gapapa.

Hanya saran saya, jangan pernah keluar dari grup keluarga. Yang disana ada ayah, ibu, kakak, adik, atau saudara.
Meski tak pernah aktif di dalamnya, setidaknya hargai nilai persaudaraan yang sudah terjalin.
Jangan sampai WA malah membuat renggang hubungan persaudaraan, yang seharusnya lebih abadi daripada sekadar aplikasi yang bergantung pada sinyal dan paket data.

Lantas, bagaimana dengan grup-grup lain yang banyak sekali bahkan tanpa sepersetujuan kita, admin menambahkan kita ke dalamnya?
Mulai dari grup alumni TK, alumni SD, SMP, SMA, kuliah, pekerjaan. Belum lagi grup pengajian, grup ronda, grup panitia lustrum (yang sampai acaranya bubar grup WA nya tidak bubar-bubar), grup panitia tujuh belasan, grup tahun baruan, grup Jumatan, grup jamaah gereja, grup kajian buku, grup angkringan, dan grup-grup lain yang jumlahnya bisa lebih banyak daripada satu peleton pasukan huru hara.

Kalau merasa tidak nyaman, ya keluar saja.
Kalau merasa tidak nyambung, ya keluar saja.
Kalau merasa tidak aktif di dalamnya, ya keluar saja.
Kalau merasa membuat hape sering error, ya keluar saja.
Kalau di sana ada mantan yang songong, ya keluar saja.

Keluar saja, gampang.

Bagaimana kalau dianggap memutuskan tali silaturahmi?
Ya kan cuma dianggap, toh senyatanya kita tidak memutus tali silaturahmi.
Hanya keluar dari grup, dan tidak menghapus nomor-nomor yang secara personal memang dekat dengan kita.

Lagipula, memutus tali silaturahmi tak sesederhana keluar dari grup WA.

Indonesia saja pernah keluar dari PBB, mosok rakyatnya tidak bisa keluar dari grup WA?

Memutus tali silaturahmi itu ketika ada kawan karib mengajak ngopi, lantas kita banyak alasan menolaknya, padahal sedang tak mempunyai agenda kegiatan lain.
Atau ketika dengan sengaja kita menghindar untuk bertemu dengan kawan-kawan, saudara, tanpa alasan yang jelas serta bisa dipertanggungjawabkan.

Bertemu langsung, bersua muka, bermuwajahah, jauh lebih penting daripada bertahan di dalam grup WA yang terkadang membuat sengsara.

Begini, tak lantas semua orang suka, dan ingin, berada dalam suatu grup WA. Bisa saja karena alasan khusus dan tertentu, mereka tak ingin ada di dalamnya.

Sekali lagi, ada alasan-alasan tertentu pastinya. Akan lebih bijaksana kalau admin dan orang-orang yang merasa kehilangan karena keluarnya salah satu anggota, menanyakannya secara langsung alih-alih mengembangkan suatu prasangka.

Lagipula tak semua orang selalu sama, selalu ingin berada dalam keramaian suatu kelompok atau grup, apalagi grup WA. Tak semua orang selalu menikmati canda tawa atau diskusi yang melibatkan banyak orang, tak semua orang selalu ingin hapenya berbunyi, karena suatu notifikasi.

Bisa jadi juga, karena banyaknya grup, membuat baterai hapenya yang sudah tua menjadi boros, dan hal itu mengakibatkan fungsi utama hapenya untuk berkomunikasi terhadap hal-hal yang lebih penting dan substantif, menjadi terganggu.

Ingat, tak semua pengguna WA adalah juga pengguna hape keluaran terbaru.

Alih-alih memberi ‘hukuman’ dan label pada orang yang keluar grup WA sebagai orang yang memutus tali silaturahmi, lebih baik untuk memberi pesangon saja. Ya kan?

Dengan begitu bisa ditunjukkan bahwa grup WA itu bukan hanya sekadar berisi omong kosong dan senda gurau belaka.
Berikan pesangon pada setiap anggota yang keluar, tunjukkan kalau memang grup WA tersebut mempunyai manfaat lebih dari sekadar berbagi gambar meme dan berita-berita copy paste.

Ya to?
Terkadang ada orang yang merasa tidak nyaman terhadap suatu grup, karena di dalamnya ada satu atau beberapa orang, yang gemar membagikan gambar meme tidak bermutu, atau berita-berita abal-abal yang asal copy paste dan tak diketahui kebenarannya.
Karena merasa sungkan, ia sendiri yang lebih memilih untuk keluar.
Lantas, dimana salahnya?

Sedangkan ketika kita tak merasa nyaman dengan lingkungan pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, atau bahkan lingkungan dalam lingkup negara, kita bisa memutuskan untuk pindah atau keluar.

Lha kok keluar grup WA bisa dianggap memutus tali silaturahmi. Logika macam mana itu?

Bahkan narapidana keluar dari penjara juga tak lantas dicap sebagai orang yang memutuskan tali silaturahmi, karena meninggalkan teman-teman sejawatnya di balik jeruji besi.

Lantas, kenapa kita spaneng ketika ada yang keluar dari grup WA?
Biasa saja. Ndak usah kagetan atau gumunan.

Lha wong bayi yang lahir itu juga tak lantas dihakimi sebagai makhluk tak tahu diuntung yang memutus tali silaturahmi dengan rahim, atau juga plasenta. Ya to?

Yang ingin saya tekankan adalah terkait dengan proses dan latar belakang, kenapa seseorang keluar dari grup WA.
Ada alasan-alasan yang harus kita hargai, dan itu jauh lebih berharga serta bernilai dalam setiap hubungan pertemanan atau persahabatan.
Jauh lebih bermanfaat daripada puluhan grup WA yang kita ikut di dalamnya.

Ikut dan aktif dalam puluhan organisasi atau grup WA, tak lantas otomatis menjadikan kita sebagai orang yang peka, serta mampu mengerti dan memahami jalan pikiran serta perasaan orang lain.

Sedang kunci dalam silaturahmi adalah, mampu mengerti dan memahami.
Dari situ lah kita akan benar-benar mempunyai teman, kawan, sahabat, dan saudara.

Tentu, dari sekian banyak orang yang anda berada dalam satu grup WA, hanya beberapa saja diantaranya yang anda rasa bisa mampu untuk saling mengerti dan memahami. Apakah salah?

Saya sebenarnya enggan menuliskan hal ini. Saling mengerti dan memahami adalah ilmu dasar, pondasi, dari interaksi dan hubungan sosial.
Tetapi kawan saya, Anang, memaksa saya kembali berkomentar. Jangan percaya kalau dia bilang bahwa saya yang memaksa ingin berpendapat, dan harus ditulis serta diunggah. Dia berandal bangsat yang semakin hari semakin banyak membual.

Tetapi bagaimanapun, Anang adalah sahabat saya. Maka saya sulit menolak permohonannya. Apalagi dia memohon sampai hampir menangis.

Katanya, pendapat saya banyak didengar dan dibaca. Saya, Gareng, tak ingin tenar. Maka saya menolaknya.
Tetapi dia terus memaksa, dan mengancam akan memutus tali silaturahmi yang selama ini sudah terjalin kalau saya menolak memberi pendapat serta masukan sebagai bahan tulisan.

Tentu saya lebih memilih persahabatan, maka meski dengan sangat terpaksa, saya menuliskan ini.

Salam,
Gareng.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

94 Comments

  1. I’m also commenting to let you be aware of of the beneficial discovery my child encountered checking the blog. She came to understand a lot of details, including how it is like to have a marvelous coaching character to get certain people completely comprehend a variety of complex issues. You actually did more than her desires. I appreciate you for coming up with such essential, dependable, edifying and cool guidance on that topic to Ethel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.