Kembali Berjuang

Ah ya ini sudah merdeka, lantas kita harus kembali berjuang dalam hal apa?

Tak usah dijawab, itu bukan pertanyaan.

Pandemi Covid telah sukses menelurkan banyak pertanyaan, tetapi tak cukup banyak menetaskan jawaban. Masih banyak telur-telur yang menunggu dierami, untuk kemudian agar menetas jawaban-jawaban.

Diantara sekian banyak pertanyaan itu, salah satu diantaranya adalah : apakah desa adalah masa depan baru, atau masih hanya sekadar tempat pelarian?

Pada kenyataannya, selama sekian puluh tahun belakangan, desa hanya sekadar menjadi tempat pelarian. Tempat pelarian dari anak kandungnya sendiri, yang sempat lari ke kota, gagal, dan kemudian berlari pulang.

Andai tak gagal dikota, anak itu takkan pulang. Andai tahu kelak akan gagal, belum tentu si anak urung pergi. Bisa jadi tetap pergi, karena desa pada beberapa dekade belakangan, terdefinisi sebagai tempat yang tidak menjanjikan.

Menjanjikan secara ekonomi tentu saja. Karena pada akhirnya menempuh pendidikan formal selama dan setinggi apapun, orientasi ujungnya adalah ekonomi.

Sistem pendidikan kita pun, secara sadar dan ‘elegan’ memang menyiapkan generasi muda untuk menjadi pekerja. Tentu juga termasuk saya sendiri. Selama dua puluh tahun bersekolah, tak pernah sekalipun saya terpikir hal lain, selain bahwa kelak akan menggunakan ijazah saya untuk bekerja. Paling tidak, menunjang pekerjaan.

Mungkin saya juga termasuk salah satu dari bagian generasi, yang mengkhianati desa.

Tak pernah sekalipun terpikir ketika saya bersekolah, bahwa kelak akan mencangkul sawah, mendapatkan penghidupan dari bercocok tanam. Tak pernah sekalipun. Bukan lantas menyalahkan isi kurikulum pendidikan yang saya dapatkan, tetapi memang selama bersekolah tak pernah sekalipun saya mendapatkan materi penguatan wawasan pedesaan. Perihal bertani, bercocok tanam, atau bahkan sekadar mendapat motivasi atau provokasi untuk membangun desa.

Paling pwol saya hanya mendapat wawasan : bahwa desa adalah daerah penyokong dan penyangga kehidupan kota. Titik.

Tak diberikan porsi lebih bagaimana mekanisme dan sistem kerja penyokong dan penyangga itu. Misalnya saja, bahwa desa menjadi penyangga dan penyokong karena hasil pertaniannya.

Yang disampaikan adalah, bahwa hasil bumi desa dijual ke kota. Itu sudah.

Maka kemudian yang menjadi subjek adalah kota, dan bukan desa. Generasi muda berbondong pergi ke kota, karena ingin menjadi subjek. Tak ada satu pun manusia yang rela sekadar hanya menjadi objek. Semua ingin menjadi subjek, menjadi sentral, menjadi titik pusat perhatian dan titik gravitasi kehidupan.

Di desa ‘tidak ada apa-apa’, maka banyak orang kemudian pergi ke kota. Meninggalkan tanah pertanian dan warisan bercocok tanam leluhurnya.

Kalau saya sih sebenarnya bisa berkilah kenapa tidak menjadi petani, karena saya tidak mempunyai tanah warisan berupa sawah yang bisa dikerjakan sebagai modal hidup dan penghidupan.

Pandemi Covid yang terjadi hanya sekejap mata, mendadak (kembali) membuka mata : kenapa berbondong manusia kota kembali ke desa?

Adakah kota ternyata rapuh?
Dan ternyata beton-beton bertingkat itu tak bisa dimakan?

Atau karena desa sebenarnya adalah masa depan yang sebenar-benarnya?

Tak usah dijawab lagi, itu juga bukan pertanyaan.

Yang perlu dijawab adalah : Bagaimana membuat desa menjadi menarik sebagai sumber penghidupan?

Mungkin saja kebanyakan mereka yang sekarang lari ke desa adalah demi menyelamatkan hidupnya. Setidaknya di desa masih ada yang bisa dimakan, meski belum lagi mendapatkan penghasilan.

Tetapi kehidupan manusia bergerak menuju ke arah dimana sekadar bisa bertahan hidup dan makan bukanlah tujuan. Bisa makan adalah kebutuhan primer, sedang kehidupan manusia bergerak dalam ranah dan lingkar kebutuhan tersier.

Bisa saja di desa tetap hidup dan makan, mengambil segala bahan pangan dari sawah dan kebun yang lama ditinggalkan. Tetapi hal itu bisa bertahan berapa lama?
Bisakah desa menyediakan ruang-ruang ekonomi untuk memenuhi kebutuhan akan smartphone terbaru, paket data, kendaraan bermotor baru, dan bahkan sepeda?

Tidakkah mereka pulang karena kota tempat mereka selama ini mencari penghidupan memang baru tersungkur karena pandemi?
Tidakkah menutup kemungkinan bahwa kelak desa akan kembali mereka tinggalkan?

Setelah semuanya nanti normal kembali, baik melalui fase New Normal ataukah berangsur normal tanpa pembaharuan.

Tidakkah desa tetap akan menjadi desa yang sepi?
Tidakkah desa akan kembali berjuang sendirian?
Karena paradigma kehidupan manusia Indonesia, salah satu melalui lembaga pendidikannya, memang tak mengarahkan peserta didiknya untuk membangun desa?

Desa memang sedang kembali ‘ramai’, tetapi bukan oleh para anak kandung yang antusias membangun dan berniat hidup kembali di desa. Desa sedang ramai oleh mereka yang berlari pulang, dan kelak akan lagi berlari pergi.

Kenapa dalam situasi semacam ini, tak ada niatan untuk membangun sebuah kurikulum pendidikan baru yang berbasis kearifan lokal pedesaan? Sekolah di desa nelayan mempunyai kurikulum tentang laut dan ikan. Sekolah di desa pertanian mempunyai kurikulum tentang bercocok tanam. Kenapa tidak seperti itu?

Jangan dijawab, yang ini juga bukan pertanyaan.

Yang perlu dijawab adalah pertanyaan terakhir ini, tolong dijawab :

Kenapa KEBANYAKAN pesepeda semaunya sendiri ketika dijalan? Apakah karena mereka merasa kaya? Apakah karena mereka merasa sudah ikut mengurangi polusi udara secara masif? Apakah mereka merasa sepeda adalah alat transportasi dari Planet Namec yang tidak perlu mematuhi aturan lalu lintas di Planet Bumi? Atau, apakah karena mereka terlalu fokus menguatkan dengkul dan lupa menguatkan otak, nalar, serta perasaan?

Sudah, beberapa pertanyaan terakhir silahkan dijawab.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)