Kenangan Romantis

Semenjak secara permanen hijrah dari Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY] menuju Jawa Tengah untuk bekerja, saya sering memandang segala sesuatu tentang DIY dengan sedikit melankolis, dan juga sedikit romantis.

Melankolis karena acapkali membayangkan beberapa ruas jalan saja misalnya Ringroad Utara, Jalan Kaliurang, atau Jalan Palagan saya sudah akan menitikkan airmata. Beberapa ruas jalan itu sudah karib dalam hidup saya semenjak kecil. Semenjak saya belum bersekolah, sampai ketika saya kuliah dan kemudian bekerja. Ruas jalan yang sering saya lalui adalah ketiganya. Maka ketika sekarang saya sudah seakan ‘jauh’ dari mereka, maka saya menjadi seperti anak yang disapih dari boneka masa kecilnya.

Belum lagi ketika pada suatu waktu, kelebat bayang kenangan nongkrong di perempatan Banteran menyeruak. Segala kenangan yang timbul perihal kekonyolan masa lalu, suka duka masa-masa ketika masih tinggal disana, menjadi bumbu paling efektif untuk seketika memedaskan mata.

Perihal menyesap kopi sembari menyesap rokok pada pagi hari di rumah Piyungan sebelum berangkat bekerja, sembari mendengar kicau burung liar di kebun [tetangga] depan rumah, seketika akan membuat sebuah tanda tanya besar timbul didalam pikiran. Apakah semuanya sebanding?
Apakah tidak ada salah langkah?
Apakah nikmatnya menyesap kopi pagi di Piyungan itu bisa ditukar dengan hal lain di Jawa Tengah?

Rumah sederhana di Piyungan itu sangat berarti dalam sejarah kehidupan saya. Meski baru sekira sepuluh tahun menjadi bagian integral didalam hidup saya, namun segala sesuatu hal yang berkaitan dengannya sekarang ini menjadi semacam poros utama. Itu adalah rumah yang selama bertahun-tahun saya angsur dengan sempoyongan, dan baru akan lunas beberapa tahun ke depan. Itu adalah rumah yang menjadi semacam tonggak pengingat bagi kemerdekaan dan kemandirian saya, suar abadi yang mengabarkan salah satu kemenangan saya melawan kehidupan.

Lantas, apakah semuanya sebanding ketika pada akhirnya saya harus meninggalkannya?
Untuk kemudian tinggal didalam bangunan petak berukuran tak lebih dari 15 meter persegi?

Ah ya…

Tetapi tentu saja pikiran-pikiran semacam itu tidak saban hari menyeruak dan mengganggu lajur-lajur kenangan. Sesekali saja muncul, dan saya akan menyambut melankolia itu dengan sejenis romantika.

Bagi saya, suatu hal yang romantis tak boleh kita dapatkan setiap hari. Tak muncul setiap waktu, dan akan gugur romantismenya ketika beririsan dengan rasa bosan.

Setiap kali muncul kenangan itu dan hati serasa teriris membayangkan betapa syahdunya berkendara sore hari di ruas jalan Kaliurang kilometer 3 sampai dengan 5, saya akan segera menepisnya dengan sejenis romantika. Bahwa saya akan segera berkunjung, menyelimuti waktu dengan segala hal yang ada disana.

Itu baru kenangan-kenangan dengan beberapa ruas jalan. Belum kenangan dengan beberapa tempat yang ketika berkelebat bayang tentang itu, akan seketika juga membuat pikiran saya menerawang kemana-mana. Menimbulkan banyak rupa tanya, menuntut semacam jawaban dan kesimpulan atas langkah-langkah yang telah diayunkan.

Sebandingkah…???

Misalnya ketika saya harus menukar kemudahan menyesap kopi, menikmati wedang ronde di alun-alun kidul sembari melihat keramaian, dengan kesunyian teras kos-kosan?
Apakah itu sebanding? Ketika kini tak mudah lagi untuk menikmati ronde dan suasana alun-alun kidul di malam hari. Suatu hal yang dulu dengan amat sangat mudah bisa saya lakukan setiap hari.

Atau mungkin menikmati Malioboro seperti dulu lagi? Hampir setiap minggu, setiap bulan dua sampai tiga kali? Menikmati Malioboro yang oleh sebagian orang dianggap sebagai suatu kemewahan, karena belum tentu setahun sekali bisa kembali. Tetapi bagi saya, kemewahan semacam itu saya tinggalkan…

Ah tapi tentu saja tuan dan puan sekalian, kelebat bayang yang membuat saya cengeng itu hanyalah kelebat bayang bodoh semata. Tentu saja.

Kenangan saya dengan berbagai tempat di DIY itu lebih banyak adalah kisah romantis tragis. Maka dari itu menimbulkan semacam perasaan melankolis.

Ketika saya dulu menyusuri jalan Kaliurang kilometer 3 sampai dengan 5, maka itu adalah benar-benar menyusuri secara harfiah. Berjalan tanpa berhenti, apalagi jajan. Jangankan jajan berbagai macam, beli gorengan saja mikir beribu kali.

Begitu juga ketika di Malioboro, apa yang saya lakukan adalah benar-benar berjalan dari utara ke selatan, kembali lagi ke utara, bisa dua sampai tiga kali dalam setiap kunjungan. Benar-benar hanya berjalan saja, tanpa keberanian untuk membeli barang disana.

Maka sebenarnya, semenjak dahulu ruas jalan kaliurang, ataupun Malioboro adalah sejenis kemewahan bagi saya. Dan saya tinggalkan segala kemewahan itu….[alibi kelas proletar].

Setiap minggu saya akan selalu memaksakan diri untuk pulang ke Piyungan. Selama dua hari dalam satu minggu, saya akan berada di Piyungan. Membawa pulang semua cerita dari Semarang, meromantisirnya dengan segala kenangan yang ditinggalkan.

Jadi, saya ini jauh-jauh ke Semarang hanya untuk kulakan cerita, dan saya bawa pulang ke Piyungan untuk dicampur dijadikan satu dengan cerita yang ditinggalkan. Benar-benar kegiatan yang unfaedah….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *