Kepenak

Apa padanan kata ‘kepenak’ dalam bahasa Indonesia? Selama ini, kata kepenak lazim digunakan dalam khasanah bahasa Jawa, entah pada percakapan lisan maupun tulisan.

Kepenak —menurut saya—, mempunyai kata dasar ‘penak’. Nah kata penak itu, kalau dalam bahasa Indonesia padanan katanya adalah enak.

Namun dalam praktek penggunaan kata, tidak sesederhana itu. Enak dalam bahasa Indonesia lebih lazim digunakan untuk memberikan komentar atau mendeskripsikan derajat kelezatan suatu makanan, atau minuman. Tetapi dalam bahasa Jawa, penak tidak lazim digunakan untuk mengomentari lezat tidaknya suatu makanan atau minuman.

Penak lebih lazim digunakan untuk mendeskripsikan suatu kondisi yang berkaitan dengan perasaan seseorang. Baik terhadap suatu benda, maupun keadaan lingkungan disekitarnya.

Bahkan dalam suatu kondisi tertentu, penak bisa kerkonotasi dan berselingkuh dengan kata lain dalam bahasa Indonesia, selain kata ‘enak’ tadi.

Misalnya :
“Mobile iseh penak ora?” (Mobilnya masih nyaman enggak?”

Bahkan sebenarnya, penak dan enak seringkali tidak ketemu dalam ruang-ruang persamaan kata ketika menerjemahkan dialog dalam bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Selalu tergantung teks dan konteks yang termaksud. Tergantung pada detail-detail ketika dialog atau percakapan itu terjadi.

Begitu rumitnya, dan manusia seringkali enggan memahami sesuatu sesuai dengan teks maupun konteksnya. Terkadang mereka memberikan penilaian, memaksakan pemahaman, sesuai dengan kehendak dan subyektifitas masing-masing. Jika penilaian itu hanya dalam lingkup terhadap dirinya sendiri, tak masalah. Juga ketika pemaksaan pemahaman itu hanya berimbas bagi dirinya sendiri, tak menjadi soal.

Yang menjadi masalah dan persoalan, ketika apa yang dipaksakannya memiliki imbas terhadap orang atau pihak lain.

Pemaksaan semacam itu bisa jadi membuat dirinya sendiri kepenak, tetapi membuat orang lain tidak kepenak. Bahkan jika itu hanya baru sebatas mendeskripsikan bagaimanakah sesuatu atau kondisi bisa dinilai bahwa ‘ia’ kepenak ataukah tidak.

Bisa jadi seseorang merasa dalam kondisi kepenak —kita konotasikan kepenak dengan kata nyaman atau bahagia—, ketika ia bisa mempunyai uang banyak di dalam lemari atau rekening banknya. Namun bisa jadi seseorang yang lain lebih merasa kepenak ketika bisa bepergian melihat tempat-tempat baru, mengunjungi destinasi yang belum pernah terekam langsung dalam memori.

Tentu berseberangan. Satu orang merasa lebih kepenak ketika menyimpan uangnya, yang lain merasa kepenak ketika menggunakan uangnya.

Tentu saja itu hanya contoh. Masih banyak hal dan kejadian lain yang dengan jelas menyatakan bahwa ‘kepenak’ bersifat sangat subyektif bagi masing-masing manusia. Maka tidak bisa satu orang memaksakan definisi kepenak terhadap orang lain. Koordinat hati, jiwa, dan perasaan masing-masing orang atau manusia dalam meresapi ‘kepenak’ berbeda satu dengan yang lainnya.

Pernahkah terbayang bagi anda bahwa ada orang yang merasa kepenak ketika tiap hari berjalan ratusan kilometer untuk mengambil air bersih untuk kebutuhannya sehari-hari?

Mungkin tak terbayang bagi anda yang dalam kehidupan sehari-hari berlimpah air bersih. Mungkin hal seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa didefinisikan sebagai hal yang ‘kepenak’.

Maka kembali lagi, bahwa kepenak bukanlah hal yang sepele sebenarnya. Tidak bisa digeneralisasikan deskripsi dan definisinya untuk semua orang. Harus melihat teks dan konteksnya secara detail dan mendalam.

Jika, hanya jika‚Ķdapat diberlakukan secara general untuk hal-hal yang memang bersifat secara umum bagi manusia menimbulkan rasa ‘kepenak’. Misalnya saja bernafas, itu jelas kepenak. Buang hajat, ngising ataupun nguyuh, itu jelas kepenak.

Tetapi kalau sudah menyangkut situasi personal, maka definisi kepenak tak lagi bisa diberlakukan secara umum. Misalnya saja contoh kedua :
Ada seseorang yang merasa kepenak jika bekerja secara santai, meskipun gaji dan penghasilannya juga santai. Ia sudah merasa kepenak seperti itu.

Di sisi lain, ada yang tidak kepenak jika bekerja secara santai, meskipun jika bekerja keras pun tak mengubah nilai gaji serta penghasilannya. Ia tetap memilih bekerja keras, dan itu yang membuatnya merasa kepenak.

Itu baru dari satu hal saja, bekerja dan pekerjaan. Belum menyangkut pada kecenderungan hobi, berpakaian, makan, minum, dan lain sebagainya.

Ada yang merasa kepenak setelah menjejalkan aneka makanan ke dalam mulut dan perutnya dalam satu sesi acara makan. Tetapi ada juga yang kepenak jika ia makan secukupnya meski hanya satu atau dua jenis makanan dalam satu sesi acara makan.

Rumit? Tentu saja.

Maka menjadi sedikit tabu sebenarnya, ketika seseorang berani menjustifikasi situasi kepenak terhadap orang lain. Dua orang yang sama-sama minum kopi pun, belum tentu koordinat perasaannya menjadi kepenak. Meski keduanya adalah penyuka kopi. Banyak hal yang berkelindan memengaruhi perasaan serta definisi kepenak pada keduanya. Tak mesti sama, dan tak bisa dipaksakan.

Musim lalu pada balapan Moto GP kelas paling bergengsi, silahkan tanyakan pada Marquez dan Lorenzo mengenai definisi kepenak motor keduanya. Padahal mereka sama-sama pembalap Repsol Honda, dengan motor yang identik. Detail setting nya saja yang berbeda, tergantung definisi kepenak keduanya. Lorenzo jelas akan berkata motornya ga kepenak. Sedangkan Marquez jelas tanpa banyak basa-basi akan menyatakan bahwa motornya kepenak. Karena keduanya musim lalu mempunyai nasib yang bertolak belakang, meski sama-sama menaiki motor yang tak berbeda.
Nah, definisi kepenak membutuhkan penilaian yang mendalam, bukan?

Jangankan jauh ke Moto GP, sedangkan di penggal waktu Minggu pagi pun definisi kepenak bisa menjadi sangat pribadi.
Ada yang kepenak dengan duduk santai minum kopi. Tapi ada juga yang merasa kepenak dengan bersepeda santai atau olahraga. Bahkan juga ada yang merasa kepenak di hari Minggu pagi dengan piknik kesana kemari.

Tak bisa digeneralisasikan, dan tak bisa dinilai hanya pada permukaan.

Kalau saya pribadi, jika diambil secara umum, akan mendefinisikan kata kepenak dengan hal ini :

“Sehat jasmani rohani, banyak uang, bisa menekuni hobi, banyak waktu luang bersama keluarga, piknik kesana kemari, dan bebas dari segala masalah dunia sampai akhirat.”

Bagaimana dengan anda?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *