Kepuasan Bersepeda

Beberapa pesepeda (sebagai hobi) , baik yang sudah lama maupun baru menekuni, jika ditanya mengenai kepuasan mereka dalam bersepeda, pasti akan punya jawaban yang beragam.

Tetapi rata-rata jawabannya tidak jauh dari kata kesehatan, pergaulan, aktifitas positif, dan keseruan.

Kesehatan memang menjadi alasan utama bagi sebagian besar orang untuk bersepeda. Setelah itu baru sebagai sarana pergaulan atau bersosialisasi, menjauhkan diri dari aktifitas negatif, dan bonus akhir dari kesemuanya adalah keseruan. Seru ketika bisa bersepeda dan mendapatkan kesehatan, dapat bersosialisasi, dan jauh dari aktifitas negatif.

Tetapi bagi saya, terbalik.

Saya menjadikan keseruan itu sebagai alasan utama. Tentu saja saya mempunyai alasan spesifik kenapa menjadikan keseruan sebagai alasan pertama.

Begini, saya sudah sehat lahir batin tanpa bersepeda. Saya mempunyai aktifitas olahraga yang sudah rutin ditekuni sejak bertahun lalu, dan itu membuat saya sehat.

Pun dengan bersosialisasi, saya bisa melakukannya tanpa bersepeda. Apalagi jika hanya untuk menghindari aktifitas negatif, saya mempunyai filter yang bisa mencegah itu tanpa harus bersepeda.

Maka poin terakhir yang ditawarkan oleh bersepeda, yaitu keseruan, menjadi alasan utama saya untuk (kembali) menekuni hobi ini. Bersepeda sebenarnya sudah menjadi hobi lama saya, sudah semenjak tahun 2007. Sebagai kewajiban, saya sudah melakukannya semenjak SMP, semenjak dua puluh dua tahun yang lalu.

Tetapi memang semenjak tahun 2007 itu, ada pasang surut. Dalam artian, tidak ada jadwal pasti bagi saya untuk bersepeda. Pun ketika hobi itu kembali hinggap pada 2013, juga terjadi pasang surut.

Pada tahun 2013, meski mengendarai sepeda dengan jenis terbaru dan spesifikasi lumayan pada masanya, saya tak merasakan keseruan. Usut punya usut, saya salah ukuran dalam membeli sepeda.

Bagi ‘bentuk’ tubuh saya, baik diukur dari inseam maupun jangkauan tangan, harusnya saya mengendarai sepeda paling besar ukuran M. Tetapi waktu itu saya membeli ukuran L. Akibatnya tiap kali bersepeda, tubuh terasa sakit dan tidak nyaman. Walhasil, sepeda itu kemudian lebih banyak hanya menjadi tempat mengeringkan handuk sebelum saya jual pada awal tahun 2020 ini.

Tetapi semuanya berubah begitu saya mengendarai sepeda jenis sepeda lipat yang gambarnya bisa anda lihat diatas. Itu adalah sepeda lipat satu-satunya yang saya miliki. Sepeda lipat yang oleh pabrikan pembuatnya dan bahkan okeh sebagian besar penjual atau toko, diklaim sebagai sepeda lipat anak-anak atau pemula. Tak masalah, untungnya saya tak membelinya ditoko.

Saya membeli sepeda lipat itu dari Mamak. Gegara istri saya merajuk demi melihat warna sepeda. Sepeda itu didapatkan Bapak dari doorprize acara koperasi kantornya, dan Mamak sesekali memakainya. Hanya sesekali saja, karena ketika melihatnya berdebu, baru istri merajuk karena berpendapat Mamak tak lagi memakainya. Jadilah, anak dan menantu kurang ajar ini mulai merayu untuk dapat memboyong sepeda lipat itu ke Piyungan.

Mungkin karena tak tega, Mamak memberikannya dengan harga yang murah, sangat-sangat murah. Hanya sembilan ratus ribu rupiah pada bulan Mei tahun 2020.

Apakah lantas saya langsung bersepeda? Tidak juga.
Gegara salah ukuran dalam membeli sepeda tahun 2013 itu, saya menjadi sedikit trauma.

Bahkan setelah (kembali) membeli sepeda dengan harga lumayan hasil dari menjual dua sepeda sebelumnya pada sekira bulan Februari 2020, saya tetap tidak tertarik untuk kembali bersepeda. Meski sepeda yang dibeli itu kini ukuran S, dengan jenis dan spesifikasi lebih dari cukup jika hanya digunakan sebagai hobi. Saya tetap tidak tertarik. Akhirnya sepeda merk Polygon seri Xtrada 6 jenis MTB itu juga lebih banyak hanya menjadi tempat mengeringkan handuk.

Lantas, dimana saya menemukan keseruan bersepeda itu?
Semua dimulai dari Spot Riyadi. Iya, tempat yang cukup fenomenal bagi pesepeda di seputaran Jogja sebelah timur dan juga Klaten itu, membuat saya menemukan keseruan bersepeda.

Untuk menuju Spot Riyadi dengan bersepeda, dibutuhkan semacam usaha dan juga doa bagi pemula. Usaha untuk bisa terus mengayuh pedal sampai ke puncak, dan doa agar tidak pingsan ditengah jalan.

Suatu waktu, saya yang kembali menjadi pemula tergoda ajakan istri untuk menyusul para senior pesepeda dari perumahan tempat saya tinggal yang sudah terlebih dahulu berangkat ke Spot Riyadi. Pada awalnya, istri menggunakan sepeda lipat itu, dan saya mengendarai MTB. ‘Malapetaka’ terjadi ketika sudah hampir sampai di area Candi Boko, istri mendadak mengajak bertukar sepeda. Saya mengernyitkan dahi, dan ciutlah nyali. Apakah saya akan kuat nggenjot pedal sepeda lipat sampai ke Spot Riyadi…apakah nanti dengkul saya tidak rontok dan mrithili…

Berbagai pertanyaan yang berkecamuk itu akhirnya menemukan jawaban selepas tanjakan pertama. Dengkul saya tidak rontok, dan bahkan sepeda lipat yang saya naiki bisa mendahului para pesepeda lain. Pada tanjakan tepat sebelum taman dari resto Sumber Watu, bahkan saya mendahului pengendara road bike dengan jersey lengkap yang menuntun sepedanya. Dengan spek paling bawah pun, road bike tetap lebih superior dari sepeda lipat di jalan aspal. Kejadian itu semakin membuat saya bersemangat….

Hampir sampai dipuncak, sudah banyak pesepeda dengan muka merah kehitaman dengan berbagai jenis sepeda (kebanyakan MTB) duduk dipinggir jalan. Saya ikut berhenti dan menyulut sebatang rokok sembari menunggu istri yang masih tertinggal jauh dibelakang.

Sembari merokok itu saya baru benar-benar tersadar kalau dulu mungkin saya tak merasakan nyaman ketika bersepeda karena salah ukuran. Senyatanya ketika memakai sepeda lipat berwarna kombinasi pink dan hitam yang membuat saya terlihat manis ketika mengendarainya itu, badan saya tak terasa sakit. Dan yang terpenting, tetap nyaman mengayuh meski sepeda itu hanya dibekali kombinasi gir tujuh percepatan.

Sampai di puncak Spot Riyadi, narsisme saya bergejolak. Sengaja saya berfoto dengan sepeda lipat yang waktu itu memang masih lebih cocok untuk dipakai ke pasar. Dengan sadel lebar dan rak boncengan di belakang. Toh sepeda pasar dengan harga murah juga bisa melibas sepeda-sepeda mahal ditanjakan.

Selepas kejadian Spot Riyadi itu, semakin menjadi keinginan saya untuk terus bersepeda, dengan sepeda lipat. Kepuasan yang saya dapatkan adalah : ketika hanya dengan sepeda lipat kelas pasar, tetapi tidak kalah dengan sepeda mahal ditanjakan.

Tentu saja saya harus menekankan kata : tanjakan.
Karena kalau dijalan datar, jelas saja sepeda lipat saya akan mampus oleh road bike atau bahkan sepeda hybrid. Tetapi kalau ditanjakan, nanti dulu, hehehe…

Selepas Spot Riyadi, lain hari tanjakan bukit Patuk Gunungkidul saya libas. Tentu saja kepuasan juga saya dapatkan karena ditengah jalan saya bisa mengungguli pesepeda dengan diameter ban lebih lebar seperti MTB dan road bike.
Dengan hanya sepeda lipat bisa mengungguli pesepeda dengan jenis seperti itu rasanya…nagih.
Toh jika ‘kalah’, saya bisa beralasan bahwa hanya memakai sepeda lipat murah, tetapi kalau ‘menang’ saya bisa mengejek, jyahahahaha…

Berbagai jalan tanjakan di dekat rumah setelah itu coba saya lalui. Termasuk tanjakan jahanam menuju arah Breksi dan Candi Ijo. Dan sepeda lipat saya itu ternyata, mampu. Mungkin karena ada doa Mamak disepeda itu, hahahaha…

Jangan salah, bukannya saya tak tertarik dengan road bike atau jenis sepeda lain. Saya pun tertarik. Saya sebenarnya ingin juga paling tidak mempunyai satu diantara Trek Emonda SLR, Specialized Tarmac SL7, atau Cannondale Topstone. Tetapi saat ini, kepuasan saya bersepeda adalah menggunakan sepeda lipat berwarna pink lucu itu. Itu sudah cukup, lebih dari cukup. Bahkan saya bisa tertawa jahat ketika ditanjakan memang bisa mengungguli sepeda lain yang lebih mahal, bwahahahaa….

Jika suatu saat anda bersepeda diseputaran Prambanan, Piyungan, atau Patuk Gunungkidul dan melihat sepeda lipat pasar sangat kemaki ditanjakan, itu adalah sepeda lipat saya, silahkan menyapa dan kita tertawa jahat bersama. Hahahaha…

Oh iya, sepeda lipat saya itu namanya : Blackpink. How you like that, tet tet tereret that that that….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

24 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *