Keputusan Penting

Beberapa hal dalam hidup yang menurut saya —penting—, pada kenyataannya tak pernah saya rencanakan dengan baik.

Jangankan masih ditambah kata ‘dengan baik’, bahkan direncanakan pun terkadang sama sekali tidak saya lakukan. Semua hal berjalan dengan apa adanya, dalam artian mengalir mengikuti arus makro kehidupan di dunia.

Itu terjadi dalam kehidupan pribadi saya, juga dalam lingkungan pekerjaan. Semuanya berjalan dengan tanpa perencanaan. Hanya saja memang untuk beberapa hal, saya melakukan beberapa adaptasi dan penyesuaian, termasuk dengan cara ‘melawan arus’.

Tentu hal itu berbeda dengan karakter dan sejarah orang-orang besar dan sukses, yang selalu merencanakan konsep kehidupan mereka dalam jangka waktu jauh ke depan, dan dalam skala yang paling detail.

Contohnya saja ketika Jenderal Guderian, salah satu kepercayaan Adolf Hitler merencanakan strategi Blietzkrieg dalam perang dunia ke dua. Strategi perang untuk menganeksasi negara-negara tetangga Jerman itu tidak dilakukan sembarangan, dan tidak sekadar mengikuti arus di dalam kehidupan saat itu.

Sumber daya peralatan perang Jerman tidak dimiliki hanya dalam waktu satu malam. Industri berat dalam skala besar sudah dibangun semenjak tahun 1936, semenjak Hitler menjadi pucuk pimpinan tertinggi pemerintahan Jerman. Industri logam diutamakan oleh Jerman untuk membangun negaranya. Pun dengan pembangunan angkatan perang modern dengan mesin-mesin berat seperti tank dan panser. Semua tidak dilakukan dengan gegabah dan tanpa perhitungan.

Semua dihitung dengan cermat. Melingkupi kemampuan diri sendiri, pun menghitung kekuatan dan kemampuan negara-negara tetangganya yang kelak akan menjadi lawan dalam medan perang. Menghitung kemampuan diri sendiri berguna untuk mengetahui batasan maksimal dan optimal ketika melancarkan perang, dan menghitung kekuatan lawan berguna untuk memetakan sejauh mana perang akan dimenangkan. Dimenangkan dengan gemilang, memininalisir sedikit mungkin biaya dan juga korban.

Jerman dan juga tentu saja Guderian, menghitung dan memetakan semuanya secara lengkap dan terperinci. Pun jika akhirnya mereka kalah, itu karena faktor X yang memang berada di luar jangkauan kuasa manusia untuk menghitung dan memperkirakannya.

Contoh kegemilangan Jerman dan juga Guderian ketika mulai melancarkan perang adalah, ketika mereka memilih untuk menyerang Polandia. Dalam peta perhitungan mereka, sumber daya angkatan perang Polandia takkan mampu menghadapi angkatan perang Jerman.

Angkatan perang Polandia masih mempertahankan basis kekuatan utama peninggalan perang dunia kesatu. Dengan senapan semi-manual (satu kokang untuk satu peluru), dan juga mempertahankan pasukan kavaleri berkuda.

Sedangkan Jerman, senapan mereka sudah semi-otomatis. Tak perlu lagi mengongkang untuk hanya memuntahkan satu peluru. Belum lagi bahwa pasukan kavaleri mereka sudah tidak lagi menggunakan kuda, tetapi menggunakan panser dan tank.

Alhasil, kuda Polandia bisa dilibas dengan mudah oleh panser dan tank Jerman hanya dalam hitungan hari, tak lebih dari seminggu.

Begitu juga hal yang sama dilakukan oleh Jerman dengan strategi gemilang dari Guderian, ketika menyerang Austria, Belgia, maupun Belanda. Mayoritas negara Eropa saat itu masih mempertahankan angkatan perang konvensional dan belum memordenisasi peralatan dengan mesin-mesin berat.

Bahkan jika boleh dikatakan, kekalahan Jerman juga dikarenakan Hitler enggan mendengar nasihat Guderian —juga Erwin Rommel— untuk jangan dulu meluaskan pergerakan, dan lebih baik mengkonsentrasikan kekuatan untuk mempertahankan wilayah.

Hitler yang mudah naik darah mengabaikan nasihat itu, dan memilih meluaskan pergerakan sampai ke dataran Afrika dan juga Uni Soviet. Pergerakan ke Soviet pada akhirnya adalah gerakan yang membuat Hitler harus membayar mahal perang dengan kekalahan telak.

Orang-orang semacam Guderian dan juga Rommel adalah prajurit lapangan. Tentara yang mengetahui persis mengenai peta tempur di lapangan, dan juga imbalan dari setiap serangan yang dilakukan. Pengalaman mereka di lapangan, pada tingkat paling bawah, mampu diimplementasikan dengan baik ketika mereka sampai pada level pengambil kebijakan.

Sedangkan Hitler, meski pernah terlibat dalam perang dunia kesatu, namun karir kemiliterannya tidak secemerlang Guderian maupun Rommel. Salah satu penyebab kenapa Jerman akhirnya kalah adalah, bahwa pucuk pengambil keputusan mereka dalam perang adalah orang politik. Yaitu Hitler sendiri. Pada akhirnya Hitler menjadi seorang politisi daripada menjadi prajurit sejati.

Mungkin cerita akan berbeda andai Hitler mengikuti nasihat Guderian maupun Rommel.

Jauh dari dataran Eropa dan masa ketika perang dunia kedua berkecamuk, situasi saat ini hampir tak ada bedanya. Politisi lebih banyak mengambil peran untuk memutuskan kebijakan-kebijakan. Sedangkan para ahli dan tenokrat hanya menjadi pelaksana dari apa yang sudah diputuskan.

Hasilnya, bumi mulai kritis dengan pencemaran lingkungan dan pemanasan global yang semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Jangankan berbicara mengenai pemanasan global dan pencemaran lingkungan. Dalam skala yang paling kecil dalam lingkup berbagai bidang pekerjaan, terkadang pengambil keputusan tidak mengetahui secara persis dari masalah yang membutuhkan penanganan atau tindak lanjut. Terkadang mereka tak pernah merasakan bekerja dalam skala paling teknis, dan lebih lanjut mereka enggan mendengar nasihat atau masukan.

Tidak pernah bekerja dari level paling bawah dan merasakan sendiri pelaksanaan suatu kebijakan sampai pada hal teknis mendetail sebenarnya bukan suatu masalah, asalkan terbangun budaya dialog untuk mencari apa dan bagaimana yang benar dan terbaik. Bukan siapa yang benar dan terbaik.

Egosentrisme pribadi semacam itu dalam banyak contoh peristiwa sejarah, membawa keburukan dan kehancuran.

Nah celakanya, dalam skala paling pribadi dan individual pun ternyata saya tak mampu mengambil keputusan yang baik. Keputusan-keputusan penting sering saya ambil dengan tanpa pertimbangan dan perhitungan.

Hasilnya? Jangankan bisa dibuat buleprint rencana strategis hidup dan beberapa waktu ke depan, bahkan capaian-capaian hidup selama ini tak menggambarkan selarasnya perencanaan dengan pelaksanaan.

Apanya yang mau selaras, lha wong sekali lagi, perencanaan pun tak ada. Andai bisa memiliki mesin waktu, ingin rasanya saya bertemu dan berguru kepada Hitler.

Kenapa Hitler, bukannya Guderian atau Rommel?

Harus Hitler, karena meskipun kalah telak, tetap saja namanya yang paling banyak disebut, bukannya Guderian dan juga Rommel. Lagian, kumis Hitler jauh lebih monumental daripada kegoblogannya karena tak mendengarkan nasihat.

Berguru kepada Hitler setidaknya akan mendapatkan satu manfaat penting :

“Suatu saat boleh saja kita kalah dan menyerah setelah melakukan usaha. Namun setidaknya, kalah lah tetap dengan gaya. Seperti Hitler dengan kumisnya.”

ANG
Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

17 Comments

  1. Very nice info and right to the point. I don’t know if this is actually the best place to ask but do you people have any ideea where to hire some professional writers? Thx 🙂

  2. You actually make it seem so easy with your presentation but I find this topic to be really something that I think I would never understand. It seems too complex and extremely broad for me. I’m looking forward for your next post, I’ll try to get the hang of it!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *