Kereta Kilat

“Emmm, tujuh belas.”
Gumam pelan yang menyebut susunan angka, membuatku menoleh ke arah suara. Seorang perempuan muda berdiri, sembari memegang selembar kertas yang kuterka, —tiket—, menghadap ke arahku. Sepersekian detik kemudian mata kami saling bersitatap. Aku sedikit canggung, namun sejurus kemudian berusaha menyesuaikan keadaan.

“Nomor berapa mbak?”
Tanyaku berusaha seramah mungkin bersuara.

Sembari tersenyum kecil perempuan tersebut menjawab,
“17 D mas.”

Demi mendengar perempuan itu menyebut 17 D, aku segera berdiri, setengah melompat.

“Silahkan mbak, 17 memang disini, D yang deket jendela.”

“Eh, ga usah mas, ga pa-pa. Saya sebelah sini aja. Lagian mas sudah datang duluan.”

Nada suara perempuan tersebut terdengar berat, dan mungkin merasa sungkan. Tetapi justru aku yang kemudian merasa sangat tidak nyaman.

“Eh, silahkan mbak. Maaf tadi saya duduk situ sembari menunggu pemilik sah nya saja. Ternyata mbak pemiliknya.”

Aku berusaha sebisa mungkin untuk mencairkan suasana. Bagaimana pun nantinya perempuan ini akan duduk di sebelahku, dan menjadi teman seperjalanan. Akan menjadi tidak lucu andaikata suasana canggung diawal membuat keseluruhan perjalanan menjadi tidak menyenangkan.

Sembari masih dengan tersenyum, “Oh, ya sudah. Makasih mas. Saya duduk sini ya.” Perempuan itu berkata.

“Iya mbak. Monggo.” Aku beralih duduk disebelahnya.

Sempat aku mengamati, perempuan tersebut tidak membawa banyak barang. Hanya sebuah tas selempang, dan sebuah buku yang sedari tadi tidak lepas dari tangan kirinya. Tiket yang tadi berada ditangan kanannya sekilas tadi kulihat sudah beralih kedalam tas. Meski menurutku suasana sudah tidak terlalu kaku, aku masih canggung untuk mengajak perempuan itu berbicara, atau mungkin sekedar berkenalan.

“Mira!”

Aku menoleh, perempuan itu masih tersenyum sembari mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan. Aku sedikit tergagap.

“Eh. Roni!” Jawabku sembari menyambut uluran tangannya, dengan seulas senyum yang coba kuhadirkan.

“Oke. Moga perjalanannya ga membosankan ya. Ngobrol-ngobrol juga boleh!” Katanya dengan disertai senyum yang bertambah lebar.

“Emm, iya.” Aku membalas senyumnya dengan sebentuk ekspresi aneh, ku kira. Sayangnya tak ada cermin untuk berkaca.

Sejujurnya aku sedang malas untuk banyak bicara. Walaupun ku akui, Mira, adalah perempuan yang menarik. Rambutnya hitam kemerahan, mungkin tersentuh pewarna buatan, diikat ekor kuda dibelakang. Wajahnya cerah, dengan kulit berwarna putih terang kekuningan. Tingginya, hampir setinggi telingaku ketika tadi kami berpapasan untuk memberinya jalan menuju tempat duduknya. Beratnya, dengan tinggi badan seperti itu, kutaksir tak lebih dari 55kg. Keseluruhan aksennya akan membuat setiap laki-laki yang berbicara dengannya sulit untuk tidak menanggapi, sekaligus gugup dalam satu waktu bersamaan. Untuk usia, dalam hal satu itu aku kesulitan menerka. Bahkan usiaku sendiri kadang aku salah menerkanya ketika sedang berada didepan cermin.

Sampai kereta berangkat, kami belum saling berbicara lagi dan tenggelam didalam kesibukan masing-masing. Kulihat dia membaca buku yang sedari tadi belum lepas dari tangannya, buku dengan sampul berwarna cokelat yang tak ku tahu judulnya. Aku sendiri lebih asyik memegang hape, dan sesekali melamun. Melamunkan perjalanan langsung pulang sekali jalan. Kereta yang kunaiki akan sampai di Stasiun Gambir kira-kira pukul 04.00 waktu setempat. Dan aku sudah memegang tiket dari Stasiun Gambir kembali ke Jogja untuk keberangkatan pukul 08.00. Aku akan menghabiskan waktu untuk duduk-duduk saja di stasiun ketika sampai di sana nanti. Bukan karena kurang kerjaan. Hanya saja aku sedang senang naik kereta.

Aku memang sedang senang naik kereta. Bukan karena banyak uang berlebih, tetapi semacam balas dendam. Sedari kecil aku hanya sering melihat kereta, dari kejauhan. Hanya bisa membayangkan bagaimana naik di atas kendaraan yang melaju kencang seperti itu, dan baru setelah mempunyai penghasilan sendiri aku bisa menghapus bayangan itu dengan kenyataan. Naik kereta, ternyata lumayan menyenangkan. Maka aku kemudian sering naik kereta, dalam sekali jalan.

Tak pernah bertujuan selain naik kereta itu saja. Duduk di stasiun kota tujuan awal, duduk menunggu kereta berangkat mengantar kembali ke kotaku. Seperti itu saja, sudah cukup menyenangkan.

“Mas Roni mau?”

Suara Mira membuyarkan lamunanku. Ketika aku menoleh ke arahnya, dia sudah dalam posisi duduk membelakangi jendela, dan persis menghadapku sedang mengulurkan sebatang cokelat.

Senyumku melebar, dan segera kuterima pemberiannya.

“Makasih Mbak Mira.”

“Mosok mbak, panggil Mira aja.”

“Oh. Makasih Mir.”

“Sama-sama mas.”

“Lhah, mosok mas. Roni aja.”

“Hahahaha.”

Kami sama-sama tertawa. Mungkin tertawa demi suasana yang jauh lebih lunak dari bantalan rel kereta. Sebenarnya aku ingin menatap tepat pada wajahnya ketika kami sama-sama tertawa. Tetapi nyaliku hanya cukup untuk menatap sepatunya yang berwarna putih dengan aksen hijau kekuningan, sepatu kets olahraga.

“Dimakan mas. Eh, Ron.”

“Eh iya. Aku makan ya coklatnya.”

Mira menjawab dengan seringai kecil, sembari kembali dengan posisi duduknya semula yang bersebelahan denganku.

Kubuka perlahan bungkus cokelat sepanjang satu jengkal tanganku itu, dan mulai menikmatinya perlahan. Coklat dengan kombinasi kacang almond. Hmmm. Mungkin setelah cokelat aku akan mencoba meminta nomor teleponnya. Sembari menikmati cokelat, aku kembali lagi menikmati lamunan.

Kruukkk!!!

“Aarrghhh.”

Aku spontan memegang pipiku. Sebutir kacang almond sepertinya cukup membuat gigi belakang atas sebelah kananku yang sudah keropos untuk patah, sepertinya. Terasa ngilu.

“Kenapa mas?”

Sebuah suara kembali menghampiriku ditengah rasa ngilu. Aku menoleh.

“Mas, kenapa? Mana yang sakit?”

Baru sampai pandangku menuju asal suara, kembali pemilik suara sudah meluncurkan tanya. Dan membuatku menggumpal kan ribuan tanda tanya.

Meja kecil penuh buah, suasana lengang, sebotol infus menggantung, dengan selang masuk tangan kiriku, diatas sebuah tempat tidur empuk yang sama sekali tidak terasa nyaman.

Dan Rani, memegang tangan kananku sembari mulutnya menggumamkan suara yang kadang kupahami, kadang tidak.

Kepalaku kembali terasa berat.

*****

Pernah tayang di Facebook pada 11 April 2017. Diunggah ulang dengan penyesuaian seperlunya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

870 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *