Kesaktian

Sesuai janji saya, yang akan menyambung tulisan terdahulu. Ini adalah sekuelnya, atau nanti ada paragraf rekuel, terserah saja.

Hari ini tepat satu tahun yang lalu, sesuai kalender masehi, ketika saya memulai sebuah petualangan baru. Laiknya petualangan, harusnya saya membawa banyak bekal. Kalau tidak membawa bekal materi, harusnya saya membawa banyak bekal immateri. Senyatanya seperti yang saya sampaikan pada tulisan terdahulu, saya tak mempunyai dan apalagi membawa bekal semestinya.

Lantas, apakah petualangan ini bisa dikatakan gagal?

Entah juga. Pada kenyataannya, saya tak terlalu peduli pada hasil, meski terkadang saya juga meratapi hasil yang tak sesuai harapan. Bagaimana? Sangat naif bukan?

Itulah, saya berangkat ke Semarang dengan modal naif, dan dengan itu saya harus menelan kenyataan bahwa dunia adalah kekejaman demi kekejaman yang terpresentasi dalam tiap langkah pengalaman.

Nah, pengalaman itu ternyata mahal dan harus didapatkan dengan berdarah-darah.

Sesuatu yang tidak bisa didapatkan tanpa bersentuhan langsung. Dan saya tergoda untuk mendapatkannya, dengan mengabaikan kenyataan bahwa saya harus mau dan sekaligus mampu berdarah-darah.

Tetapi apakah kemudian berdarah-darah itu tidak baik?
Gak mesti juga. Harus dilihat konteks berdarah-darah itu untuk dan dalam hal apa. Bagi saya, jika berdarah-darah itu untuk mempertahankan diri, membela diri, maka tak mengapa harus mengalaminya. Meski jika ada jalan lain, saya sarankan untuk memilih jalan yang tak harus melalui fase berdarah-darah.

Kebetulan saja jika saya harus mengawali fase berdarah-darah, tepat dengan hari gegeran seluruh republik. Kebetulan saja, maka saya harus ikut merayakan dengan perasaan ganda. Seperti perasaan sejarah republik, dimana ada yang suka, dan ada yang berduka.

Begitu juga dengan dua sisi dalam diri saya. Ada yang bahagia bersuka cita, dan ada yang berduka. Bahkan sangat paradoks ketika saya menemukan kebahagiaan dalam duka, dan begitu juga sebaliknya saya menemukan duka dalam bahagia.

Tak ada yang benar-benar teralienasi dalam pengalaman baru ini. Semua berkelindan erat menjadi satu, saling mempengaruhi dan memberikan rasa sesuai dengan porsinya.

Tak ada bahagia yang berdiri secara tunggal, dan tak ada duka yang menyendiri. Keduanya berpeluk erat, membuat semuanya harus saya peluk dengan penuh kemesraan.

Adakah dari anda yang dengan rela dan mesra memeluk duka cita?
Saya rasa sebagian besar dari anda akan menjawab, tidak.

Tetapi bagi saya, duka harus dipeluk dengan mesra, jika ingin mendapatkan bahagia.

Satu yang pasti, dari pengalaman satu tahun terakhir, saya menjadi mempunyai semacam kesaktian yang dahulu tidak pernah saya miliki. Atau mungkin dulu saya memilikinya, tetapi tidak mengetahui potensi dan cara menggunakannya.

Kini saya bisa mulai belajar menggunakan kesaktian itu. Kesaktian yang saya dapatkan melalui pengalaman dan petualangan. Apa jenis kesaktian tersebut?

Ah, akan saya sampaikan di tulisan berikutnya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

152 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *