KETAKUTAN BERLEBIH

Pada satu sisi, orang merasa takut berlebihan, bahwa jika sisi seberang berkuasa, maka akan terjadi tindakan-tindakan untuk meruntuhkan nilai-nilai keberagaman, toleransi, saling menghargai, dan berlanjut dengan pemaksaan untuk memakai nilai-nilai yang tidak mereka percayai.

Pada sisi seberang, mereka takut jika ‘lawan’ mereka yang berkuasa, maka akan terjadi pelunturan nilai agama dan moralitas secara sistematis, melonggarkan nilai-nilai moral sehingga semakin marak tindak amoral, tindakan pelecehan serta penistaan dengan dalih toleransi, dan pada akhirnya akan memaksa mereka untuk tidak bisa meyakini ajaran agama sesuai dengan keyakinannya.

Pada sisi lain yang tidak berada pada keduanya, ketakutan terbesar adalah bahwa jika keduanya hanya diadu domba, sehingga kehilangan akal sehat, hati nurani, untuk kemudian tega berkata bahwa manusia selain diri sendiri dan kelompoknya boleh untuk dimusnahkan. Musnah nyawa, harta benda, ekonomi, sosial, maupun musnah hak-hak sebagai manusia.

Saya berdiri tidak pernah pada keduanya, dan merasa sangat takut untuk menatap lekat pada keduanya.

Pada keduanya saya melihat masing-masing sangat bernafsu untuk memusnahkan satu dengan yang lainnya. Menutup ruang-ruang dialog dan kerjasama, baik sosial, ekonomi, budaya, apalagi pendidikan.

Apa yang dilakukan oleh kelompok A, jelas salah di mata kelompok B. Apa yang diusahakan oleh kelompok B, bernilai sia-sia dalam pandang kelompok A. Semua merasa paling benar, sehingga keduanya merasa paling berhak mengklaim sebagai juru selamat.

Padahal keduanya, sama-sama merusak, sama-sama keras kepala.

Tidakkah ada sedikit saja celah untuk berangkul bergandengan tangan, pada ruang-ruang yang steril dari kepentingan.

Apakah yang satu sedang membela agama, ataukah membela eksistensi mereka pada akses ekonomi, sosial maupun budaya?
Apakah yang lainnya sedang memperjuangkan nilai keberagaman, toleransi, ataukah membela kepentingan yang sama, –ekonomi, sosial, maupun budaya?–

Pada keduanya tidak saya lihat lagi kemurnian atau kejernihan dalam berjuang. Keduanya menampakkan wajah permusuhan, persaingan, perlombaan, bukan lagi wajah untuk bermusyawarah mufakat demi keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, bangsa dan negara.

Masing-masing, hanya memperjuangkan kepentingan masing-masing kelompoknya, dan tidak lagi memperdulikan selain apa yang mereka pertentangkan.

Tidakkah mereka sadar, diluar pertikaian mereka masih banyak lagi orang yang jengah dengan permusuhan, tidak betah dengan tensi sosial yang semakin meninggi, tidak peduli dengan apa yang keduanya teriakkan.
Di luar perseteruan mereka, masih banyak yang merindukan kedamaian, menyesap kopi dan makan bersama tanpa dituduh mempunyai tendensi.

Tidak memihak A bukan berarti setuju dengan B. Tidak mendukung B bukan berarti bergabung dengan A.

Kita, (saya maksudnya), hanya manusia yang ingin hidup damai tanpa direcoki permusuhan serta pertentangan. Pada suatu titik tertentu, saya tak pernah setuju dengan fanatisme berlebihan terhadap suatu hal, jika itu mengusik ketenteraman sosial masyarakat luas.

Saya tidak pernah setuju dengan pihak atau orang-orang yang menyebarkan berita serta narasi ‘buruk’ mengenai kondisi dan masa depan bangsa Indonesia.
Indonesia tidak sedang terancam oleh gerakan agama apapun, tidak pula sedang terancam oleh gerakan pluralisme manapun.

Indonesia sedang baik-baik saja, kecuali anda, saudaraku sekalian, menginginkannya untuk tidak baik-baik saja.

Sejarah mencatat bahwa dari waktu ke waktu, masa ke masa, tonggak paling kuat dari keberadaan suatu negara, adalah rakyatnya. Hanya jika rakyatnya menginginkan perpecahan, maka hancurlah suatu negara.
Pada saudara kita di Asia Barat, sudah tersaji contoh serta deskripsi nyata.
Apakah kita ingin membawanya ke tempat ini? Tempat dimana kita lahir, tumbuh, berkembang serta bermain bersama.

Jikapun ada perselisihan, tak selayaknya kita meluaskannya, dan bahkan mencari dukungan serta pembenaran atas sikap kita, yang bahkan benar-salahnya masih dalam kondisi dan posisi relatif. Benar-salah suatu hal yang kita pertentangkan, tentu bernilai subyektif tergantung pada sisi mana kita sedang berdiri berpijak.

Pada orang atau kelompok yang demikian, saya tak pernah membenci manusianya. Saya hanya membenci dan menyesalkan sikap, pemikiran, serta perbuatannya.

Satu hal yang saya pegang sebagai nilai dalam menjalani kehidupan, bahwa agama yang saya yakini mengajarkan tentang kedamaian, tentang rahmat bagi semesta alam. Lihat, bahkan bagi semesta alam, yang itu berarti adalah juga bagi hewan, tumbuhan, air, tanah, udara, dan semua makhluk terutama kepada sesama manusia.

Maka bagi saya, pada sisi sebelah manapun anda berada dan berdiri saat ini, jika arogansi adalah hal yang dikedepankan dengan mengalahkan nilai-nilai dasar kemanusiaan, maka jelas bahwa saya mengambil sikap untuk tidak berdekatan.

Pada sisi manapun anda berdiri, terlepas apapun yang anda deskripsikan serta narasikan untuk dibela serta diperjuangkan, jika anda masih membuang sampah sembarangan, mengganti lahan persawahan dengan gedung dan bangunan, abai terhadap nilai dan budaya saling menghormati, maka anda hanya sedang membual dan beretorika belaka.

Sungguh saya lebih memilih untuk tidak berdiri dan berdekatan dengan anda yang demikian. Saya lebih memilih terasing daripada harus menjadi bagian dari orang-orang yang berbuat kerusakan.

Sore ini matahari seakan berhenti, bergulir lambat memeluk cakrawala. Seakan, ingin berkata dan sekadar memberi tanda :
“Sekadar untuk berlalu dari satu senja ke senja berikutnya, dari satu pagi menuju pagi yang lainnya, manusia tak mempunyai kuasa.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *