Ketergantungan ‘Obat’

Pada era mutakhir, jangan lantas mengartikan kata obat secara tekstual saja. Obat yang berupa pil, kapsul, puyer, atau sirup.

Saat ini, maknai saja kata obat, menjadi berarti :
“Segala sesuatu yang membuat sembuh dari suatu kondisi kurang baik tertentu, menenangkan, membahagiakan.”

Sudah, itu saja.

Eh tetapi, obat yang seharusnya hanya sebagai stimulus, dan tidak boleh dikonsumsi setiap hari, atau setiap waktu, nyatanya sekarang sudah bergeser menjadi kebutuhan pokok.
Bukan lagi obat, tetapi suplemen pokok.

Yang dulu hanya ‘dikonsumsi’ pada waktu-waktu tertentu, untuk kebutuhan tertentu, untuk situasi tertentu, sekarang sudah dikonsumsi sepanjang waktu. Dan jika tidak mengkonsumsi atau bersentuhan dengan obat tersebut, rasanya kepala mau pecah.

Contohnya?
Uang!!!

Harusnya uang hanya ‘dikonsumsi’ pada saat-saat tertentu. Pada saat membutuhkannya saja, dan dicari untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan keperluan hidup, secukupnya. Ketika akan beli beras misalnya. Beli obat panu, atau beli makanan di warung-warung, atau rumah makan.

Tetapi, sekarang bahkan manusia berlomba menimbun uang. Berlomba mengkonsumsi uang, dan seperti tak tahu kapan waktu untuk berhenti.

Ah, ini kan asumsi penulis saja. Asumsi yang berdasar kenyataan bahwa penulis tak mampu menghasilkan banyak uang, lantas menyatakan demikian. Menyatakan bahwa para penimbun uang, termasuk mereka yang seolah akan hidup selamanya, dan membutuhkan uang sebanyak-banyaknya, tak peduli bagaimanapun caranya, halal ataupun haram, baik ataupun buruk, merugikan pihak lain ataukah tidak, —sebagai orang yang ketergantungan obat—.

Ya to?
Dasar penulis kasta sudra.

Contoh lain?

Internet!!!

Kenyataan bahwa saat ini, pola komunikasi sudah bergeser dari artefak bernama surat, dan berganti menjadi berbagai macam aplikasi yang membutuhkan jaringan internet, maka tanpanya saya serasa menjadi manusia purba.
Meski sebenarnya, tak mengapa juga saya tanpa internet, atau gadget. Dua tahun lalu, saya pernah dua bulan lebih tanpa gadget, dan tetap baik-baik saja.

Yang kemudian menjadikan tidak baik-baik saja, bahwa pergeseran pola komunikasi tersebut juga merambah pada ranah pekerjaan dan perkantoran. Kebutuhan permintaan data atau laporan, disampaikan melalui aplikasi pesan singkat, semisal Whatsapp, atau juga email.
Mampus saja rasanya kalau pada hari Senin sampai dengan Jumat, tak bersinggungan dengan internet.

Dan pergeseran pola kemunikasi tersebut, meluas pada kehidupan sosial dan budaya sehari-hari. Sekarang, undangan trah juga memakai internet. Nah, mampus kan kalau sampai saya tidak terhubung dengan jaringan internet. Bisa-bisa saya mendapat murka dari Mamak dan Pakdhe-pakdhe gegara tidak berangkat trah, karena tak membaca undangan yang disampaikan lewat Whatsapp.

Selain itu, saya sedang mempunyai hobi yang berhubungan lekat dengan internet, ngeblog.
Ya kan ngeblog harus memakai jaringan internet, mosok ya memakai jaringan kawat berduri.

Sebenarnya kalau seluruh dunia sepakat kembali lagi tanpa internet, ya tak mengapa.
Tapi juga ga mungkin, kan?

Satu-satunya hal yang sudah terlanjur mengakar dan menjadi bagian budaya dan pergaulan sosial masyarakat namun bisa dibatalkan melalui kesepakatan, adalah :
kampanye politik praktis!

Tak ada kampanye ra patheken. No Parpol No Cry!!!

Bwahahaha, maaf deh, bercanda.
Silahkan kampanye….silahkan berparpol.

Beberapa orang lain mungkin mempunyai obat masing-masing, yang membuat mereka ketagihan, dan akan merasa sakit serta tidak bahagia sebelum bertemu dengan obatnya tersebut.

Ada orang yang ketergantungan kopi, ketergantungan gula, ketergantungan nasi, ketergantungan minuman bersoda, ketergantungan bekerja, ketergantungan piknik, ketergantungan foto, ketergantungan tidur, ketergantungan ngising….

Tadi pagi saya mendadak merasa sedikit pusing. Ada semacam permintaan data dari tingkat wilayah, yang disampaikan melalui Whatsapp. Sedang sinyal seluler saya di kantor, ndlap-ndlup, dan data internet pada tempat kerja, sedang dialihkan untuk hal yang lebih penting.
Betapa mendadak saya merasa rapuh, ringkih, dan tak berdaya.

Kok ya sama internet saja, saya ini harus kalah?

Akhirnya saya memilih untuk pulang. Sinyal seluler saya di rumah tegak perkasa, dan tak menjadi kendala untuk mengerjakan tugas-tugas pekerjaan kantor yang notabene, ringan-ringan semua.

Ya, sebenarnya internet juga sekaligus memudahkan serta meringankan beban pekerjaan saya, hampir pada semua lini.

Tanpa harus memacu kendaraan kesana kemari, saya bisa mengirim berbagai macam data dan laporan. Tanpa mengeluarkan banyak usaha dan pengorbanan, saya bisa menyelesaikan pekerjaan.

Namun sekaligus, internet serupa racun. Racun yang memicu kecanduan dan ketergantungan. Racun yang dengan sangat sadar saya telan, secara konstan dan berulang.

Menarik untuk mengetahui andai kelak internet kembali hilang dari muka bumi.

Lhoh? Kok kembali hilang?

Lhah, menurut politisi aliran konservatif dari India, Narendra Modi, bahkan internet sebenarnya sudah ada pada jaman epos Ramayana.
Dan seperti kita tahu, Ramayana jauh lebih tua dari Mahabharata.
Rama Wijaya adalah leluhur trah Khuru. Trah yang akhirnya saling bunuh pada perang Bharatayudha, di padang Khurukasethra.

Beritanya, mengenai pernyataan politisi dari India itu, di sini.

Nah, jika dulu saja Rahwana sudah menggunakan internet, dan menggunakannya untuk chattingan sama Shinta, kemudian janjian ketemu di tepi hutan Dandaka, maka bisa saja esok internet hilang lagi. Karena perang besar, mungkin.

Eh tapi, memangnya Rahwana chattingan sama Shinta? Memangnya mereka janjian? Bukannya Rahwana menculik ya?

Ealah, ya memang begitu.
Rahwana tidak menculik Shinta, jelas itu.

Shinta itu titisan Dewi Setyawati, istri Rahwana pada kehidupan yang lalu. Dan sebagaimana dahulu asalnya, ketika sudah menitis menjadi Shinta, ia tetap menyukai tipe lelaki yang gagah, slengekan, senang bercanda. As Rahwana.
Bukan lelaki yang lemah lembut pendiam cenderung dingin seperti Rama.

Begitu!

Ga percaya?
Yasudah.

Yang jelas, selama masa Shinta bersama Rahwana, di taman Argasoka, tak sekalipun ia disentuh. Mengobrol langsung pun jarang. Mereka hanya sering berkirim gambar, meme, dan emoticon yang menyiratkan perasaan masing-masing, namun tak pernah berani mereka nyatakan secara langsung. Kadang mereka juga berkirim tautan berita dari pemuka-pemuka agama yang ndakik-ndakik khutbah atau jualan madu bunga, sekadar agar cepat mengantuk ketika malam menjelang.

Diam-diam, Rahwana juga kasihan sama Rama.
Dalam arti, pada kehidupan saat ini, Shinta yang titisan Dewi Setyawati, adalah istri Rama, dan bukan lagi istrinya.
Niatnya membawa Shinta, hanya sekadar iseng saja, dan memang agar ia menjadi viral di media sosial waktu itu. Tetapi tanpa ia sadari, kisahnya viral dari jaman ke jaman, waktu ke waktu.

Andai Rahwana tahu kisahnya akan viral selama ribuan tahun kemudian, pasti sebelum berkelahi dengan Rama, ia sudah membuat surat wasiat serta membuat copyright untuk kisahnya itu. Agar royalti tetap mengalir pada trah buto, seperti Rockefeller yang mematenkan truk tanki pengangkut limbah WC minyak.

Rahwana itu, yang sudah internetan pada jaman ketika Borobudur bahkan belum dikonsep atau bahkan dipikirkan, adalah tipe makhluk bernama laki-laki yang keren sangat. Kalau ndak keren ya ndak mungkin Shinta mau nginthil sampai ke Alengka.

Di sini, hanya saya po laki-laki yang lebih mengidolakan Rahwana daripada Rama?

Hei hei hei para lelaki munafik, sini tak kasih tahu. Hakikat lelaki itu, adalah penjelmaan Rahwana, dengan Dasamuka-nya. Muka yang sepuluh, alias mempunyai sepuluh wajah.

Satu wajahnya akan berganti pada wajah yang lain, sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan.

  • Wajahnya yang lelah ketika bekerja, akan berubah menjadi wajah penuh senyum ketika pulang ke rumah bertemu istri dan anaknya.
  • Wajahnya yang baru saja bertengkar dengan istrinya, mendadak akan manis di depan anak-anaknya.
  • Wajahnya yang muram karena beberapa tagihan hutang, mendadak akan penuh senyum manja ketika bertemu ibunya. Semata agar ibunya tidak khawatir terhadapnya.

Dan….masih banyak lagi wajah laki-laki, di dalam kehidupannya, karena sejatinya mereka adalah penjelmaan Rahwana.
Ia buas, beringas, namun sekaligus ia adalah penjelmaan kelembutan yang paling hakiki.

Nah, masih ada laki-laki yang akan menyangkal kalau mereka adalah penjelmaan Rahwana?

Kalau analogi wajah itu tidak membuat anda mengaku, maka ketergantungan anda terhadap internet adalah bukti lainnya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

42 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *