KETIKA ATLIT MEMILIH MENJADI ASN, DAN IKUT ANTRI DI KPPN

Meski pada akhirnya tidak pernah menjadi profesional, tetapi setidaknya saya pernah menjadi atlit. Yaa bolehlah untuk kemudian disebut sebagai ‘mantan calon atlit profesional’.
Saya pernah menjadi atlit Karate pada awal masuk SD, pernah menjadi atlit bola voli sewaktu SMP, pernah menjadi atlit Taekwondo sewaktu SMA, dan kemudian menjadi tidak atlit pada waktu-waktu setelahnya.

Karena pada akhirnya tidak menjadi atlit, tidak bisa mengikuti SEA GAMES, ASIAN GAMES, atau Olimpiade, dan dengan itu maka saya tidak akan pernah berhak atas bonus senilai milyaran, maka kemudian pada tahun 2005 saya lebih memilih untuk membantu Bapak SBY dengan menjadi asistennya (baca : PNS)

Yaa, tepat setahun setelah SBY terpilih menjadi presiden, saya masuk sebagai asistennya (kalau tidak boleh disebut sebagai jongos) dan mulai bergelut dengan pekerjaan-pekerjaan balik meja. Berteman dengan kertas, pensil, pulpen, komputer, disket (kemudian flashdisk), dan kadang-kadang mengobrol dengan printer yang tiba-tiba ngadat di tengah menumpuknya deadline pekerjaan.

Ketika gelaran ASIAN GAMES dengan gegap gempita dirayakan seluruh masyarakat Indonesia, saya sejenak tertegun :
“Coba dulu saya serius, pasti…”
Yaa pasti tetap gagal-gagal juga. Kejuaraan tingkat daerah saja kalah, kok mimpi mau bertanding di tingkat Asia.

Setelah sejenak tertegun, saya kembali pada rutinitas biasa, bersama meja, kursi, kertas, komputer, flashdisk, printer, dan juga nomor antrian.

Yang terakhir, kemudian memaksa saya untuk merasa tergelitik. Sebenarnya ngapain juga harus tergelitik. Tetapi kok ya rasanya tetap kepikiran.
Para atlit yang kemarin berhasil mendapatkan medali, konon katanya berhak mendapat satu tempat untuk menjadi PNS (ASN). Sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras mereka mengharumkan nama bangsa, hal tersebut layak adanya.
Tetapi apakah kemudian nanti mereka mampu beradaptasi dengan baik sebagai pekerja balik meja, setelah sebelumnya terbiasa dengan ‘kerja lapangan’ penuh keringat dan canda tawa, itu soal lain.
Mungkin juga ada semacam kesepakatan nantinya, bahwa atlit akan mendapat porsi kerja yang berbeda dengan ASN pada umumnya. Pokoknya yang penting dapat gaji bulanan, dan tetap berprestasi sebagaimana mestinya sebagai atlit. Gampang diaturlah itu, apalagi untuk atlit yang masih berusia muda. Tentu ada kebijakan tertentu untuk mengakomodasi mereka.

Yang menggelitik saya adalah jika suatu waktu mereka tetap mendapat beban kerja seperti ASN lainnya, dan kebetulan juga mendapat porsi untuk sering ke KPPN (Apa itu KPPN? Gugling sendiri deh ya!).
Dan ketika di KPPN, kebetulan lagi saya bertemu dengan mereka. Apa yang tidak mungkin? Sedang mendapat tiga puluh satu medali emas dalam satu gelaran ASIAN GAMES saja sudah menjadi kenyataan dan bukan lagi kemungkinan, kok, apalagi cuma bertemu di KPPN karena sama-sama sebagai PNS. Ya kecuali kalau Menpora-nya masih ahli IT yang gagap menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta membandingkan gelaran ASIAN GAMES dengan SEA GAMES yang jelas-jelas berbeda.
Sudah..sudah..sudah

Ketika suatu waktu dengan segala kemungkinan yang ada saya bertemu dengan salah satu mereka, dengan dialog yang biasanya ada diantara kami para ‘pencinta KPPN’, beginilah yang terjadi :
“Dek Well, maju apa?”
Tanya saya suatu kali ketika bertemu Lindswell Kwok si atlit Wushu. Dan mungkin dia akan menjawab :
“Maju SPM uang makan mas.”

Setelah itu mungkin dia akan mulai duduk, dan menunggu antrian yang jauh lebih lama dari upacara pembukaan maupun penutupan ASIAN GAMES.

Di lain waktu,

“Kemarin dah kesini Jon, kok kesini lagi?” tanya saya kepada jawara tunggal putra, Jonathan Cristie.
Jelas saya tak akan memanggilnya Jo, atau Jojo. Panggilan untuk sebuah nama Jonathan ya tentu saja ‘Jon’, persis dengan panggilan pemilik nama Jono atau Joni.

Dan seperti Lindswell, Jon kemudian akan mulai duduk dan menunggu antrian bersama senior-senior mereka para aktifis KPPN.

Beban kerja yang kemudian mengharuskan PNS untuk bersinggungan dengan KPPN jelas sama sekali berbeda dari dunia atlit, meski juga ada beberapa aspek yang sama. Misalnya yaa ketika sama-sama antri dan menunggu.
Mungkin terkadang atlit antri untuk bertanding, atau pada era terdahulu mereka menunggu kejelasan turunnya bonus dari prestasi mereka.
Terkadang mereka menunggu lawan membuat kesalahan ketika bertanding, menunggu lawan kelelahan untuk kemudian melancarkan serangan, atau menunggu momentum yang tepat untuk memaksimalkan teknik juga stamina. Setelah momen-momen menunggu yang seperti itu, ketika kemudian kemenangan diraih serta direngkuh, bonus akan serta merta menjadi obat pelipur lelah bagi itu semua.

Jelas berbeda dengan jenis antrian dan momen menunggu di KPPN yang dilakukan oleh para PNS. Meski sekian jam duduk menunggu untuk mendapat panggilan pada nomor antrian, tak ada bonus, bahkan sekadar pujian. Memang karena menunggu atau mengantri apapun jelas sudah termaktub melekat sebagai tugas pokok dan fungsi.
Jangankan sekadar mengantri dan menunggu, bahkan ketika di dalam menyelesaikan pekerjaan atau mengemban amanah tugas mendapat suatu prestasi tertentu, tak ada reward bagi PNS. Semua perhitungannya sudah masuk di dalam gaji dan tunjangan tiap bulan.
Untuk mengantri di KPPN, bahkan terkadang yang didapat adalah kalimat tanya penuh rasa curiga dari sesama teman PNS, bahkan dari atasan :
“Di KPPN kok lama ngapain aja?”

Kalau pertanyaan semacam itu terlontar pada para PNS peraih medali emas dari cabang pencak silat, saya tidak tahu bagaimana nasib mereka yang bertanya.

Saya juga merasa geli membayangkan ketika suatu kali bertemu dengan peraih medali emas cabang angkat berat, yang pada pagi hari sudah terlihat kusut :
“Loh, kenapa Yul pagi-pagi sudah kusut? Maju apa?”

“Maju kontrak mas, kemarin salah SPM. Belum dicantumkan nomer SPK nya.”

Ya, tak dapat dipungkiri saya akan merasa senang bertambah kompatriot dari para pahlawan bangsa, tetapi di sisi lain saya sekali lagi merasa geli. Bukannya pesimis, tetapi jelas dunia balik meja bukan profesi yang cocok bagi mereka, apalagi profesi mengantri.
Cukup saya saja, kalau bisa Lindswell jangan, ya.


Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.