Keyakinan Dalam Doa

ilustrasi berdoa

Sebanyak apa anda berdoa dalam sehari? Setiap saat, setiap waktu, bahkan anda seringkali mengandaikan bahwa dalam setiap helai nafas adalah doa. Tak masalah.

Lantas, sejauh mana anda meyakini tiap doa yang anda panjatkan? Lebih gampang lagi, sejauh mana anda memahami doa yang anda panjatkan?

Apakah anda paham dan mengerti secara persis atas doa yang anda panjatkan? Lebih gampang, apakah anda tahu persis dengan apa yang anda minta, jika doa kemudian disederhanakan artinya menjadi sekadar permintaan atau permohonan?

Mohon maaf sebelumnya, andai anda berdoa secara panjang lebar, katakanlah, dengan bahasa Arab, apakah anda mengerti persis maksud doanya? Baiklah jika Tuhan, Allah, tetap mengerti apa yang anda maksudkan dalam doa itu.

Tetapi kemudian yang menjadi sedikit masalah, sejauh apa doa itu nantinya menjadi sugestif terhadap diri anda? Menjadi semacam alat agar hidup anda selaras frekuensi dan arahnya dengan doa yang anda panjatkan?

Doa, permintaan terhadap Tuhan, bersifat dua arah. Satu arah ‘melangit’ menuju ‘Arsy Nya. Satu arah lagi, menuju diri anda sendiri. Bisa jadi satu arah yang melangit, sebenarnya sudah dijawab olehNya. Bisa jadi sudah di ACC, sudah dikabulkan. Hanya saja yang satu arah kembali pada diri sendiri, kita tidak meyakininya.

Padahal, ketika sudah dikembalikan olehNya doa kita, harusnya bertemu dalam satu titik koordinat bernama keyakinan. Ketika bertemu menjadi keyakinan, itulah saat kita kemudian merasa bahwa Tuhan, Allah, mengabulkan. Jika kita sendiri ragu, bagaimana kemudian akan terkabul?

Terkadang keraguan itu muncul, ketika kita berdoa tidak penuh pengharapan dan penghayatan. Hanya semacam hapalan, mengulang, dan bahkan sekadar seperti rekaman. Kita terus menerus meminta dan mengulang doa, seperti kaset rekaman, sehingga kita kehilangan penghayatan.

Pun jika kita sudah berdoa dengan penuh penghayatan, kita ragu terhadap lafal yang dilantunkan, karena kita kurang paham terhadap arti dan makna dari doa tersebut.

Sehingga seringkali kita berdoa dengan hanya satu arah. Kita hanya memohon, tetapi lupa menyiapkan tempat untuk menerima permohonan tersebut ketika dikabulkan.

Padahal, doa itu juga adalah keyakinan kita sendiri. Allah akan ‘mengabulkan’ kalau kita sendiri juga yakin dengan apa yang kita minta. Bukankah iman juga adalah perkara yakin? Keyakinan kita terhadap Tuhan, tanpa sedikitpun keraguan.

Jika kita ragu terhadap doa kita sendiri, maka besar kemungkinan dua anak panah yang kita luncurkan tidak akan bertemu dalam satu titik koordinat keyakinan. Maka saat itulah seringkali kita merasa bahwa doa tidak dikabulkan.

Beberapa waktu terakhir saya banyak menyimak daftar video di Youtube. Salah satunya yang membuat saya tertarik, adalah perihal Kidung Rumekso Ing Wengi.

Anda tahu? Itu yang sekarang banyak dinyanyikan dalam Jathilan, Gedrug, bahkan dibuat dan dinyanyikan versi dangdut.

Ketik saja Kidung Rumekso Ing Wengi di Youtube, dan anda akan tahu yang saya maksudkan.

Sebenarnya, itu adalah sejenis mantra. Dalam bahasa agama, mantra adalah doa. Meski juga karena memuat nama kidung (tembang/lagu dalam bahasa Jawa), maka saya kira tak salah juga ketika dinyanyikan dalam versi dangdut, haha…

Mantra adalah istilah budaya saja, dalam khasanah masyarakat Jawa. Diberi nama mantra karena penggunaan bahasa, untuk sekadar membedakannya dengan doa. Doa adalah kalimat permohonan kepada Tuhan dengan menggunakan bahasa Arab, dan mantra adalah kalimat sejenis tetapi dengan menggunakan bahasa Jawa.

Awal mulanya, itu adalah strategi, dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Untuk berdakwah di daerah Jawa, yang kebanyakan masyarakatnya atau bahkan keseluruhannya belum mengerti bahasa Arab. Masyarakat hanya mengerti bahasa Jawa, dan kemudian Sunan Kalijaga memberikan mantra tersebut ketika penduduk ‘meminta’ pertolongan atau menagih semacam pembuktian.

Begini, sebagai orang yang tiba-tiba datang dan mengenalkan ‘Tuhan Baru’, maka Sunan Kalijaga berhadapan dengan kemapanan. Kemapanan dalam berbagai hal, entah budaya, sosial, politik, dan bahkan kepercayaan terhadap Tuhan itu sendiri. Terkadang jika mendobrak suatu kemapanan, maka yang didobrak akan meminta semacam pembuktian. Bahwa nantinya akan lebih banyak kebaikan dan kemanfaatan daripada keburukan ketika terjadi pendobrakan. Atau katakanlah ketika terjadi revolusi karena dobrakan itu.

Pembuktian itu bisa macam-macam. Bisa semacam blue print rencana kerja, bisa semacam jaminan keamanan, bisa jaminan berupa harta, bahkan jaminan yang bersifat psikologis. Jaminan yang bersifat psikologis atau ketenteraman ini biasanya juga bersangkut paut dengan ‘tuhan-tuhan’ yang akan ditinggalkan karena mengikuti Tuhan baru. Mereka takut tuhan lama akan marah, dan meminta jaminan kepada Sunan Kalijaga bahwa nantinya tuhan baru akan mampu melindungi. Kidung Rumekso Ing Wengi adalah semacam doa pertolongan agar dilindungi dari ‘kemarahan’ tuhan lama. Sekaligus sebagai ajang pembuktian bahwa tuhan baru jauh lebih sakti.

Sebagai semacam doa atau mantra perlindungan, Sunan Kalijaga ingin masyarakat benar-benar mengetahui dan memahami secara persis tentang apa yang masyarakat lafalkan. Perihal doa atau mantra itu, Sunan Kalijaga ingin bahwa masyarakat tahu dan paham serta mengerti secara persis arti, maksud, dan tujuan dilafalkannya doa itu.

Dengan menggunakan bahasa Jawa, bahasa ‘Ibu’ dan bahasa pergaulan sosial sehari-hari masyarakat, maka masyarakat paham dan mengerti persis detail tiap kata dan kalimat yang diucapkan. Dengan begitu, mereka menghayatinya, dan kemudian meyakini bahwa doa mereka akan terkabul. Tanpa keragu-raguan.

Kidung Rumekso Ing Wengi hanya salah satu contoh saja, perihal keyakinan dalam doa yang saya maksudkan. Bahwa dalam tiap-tiap doa yang dipanjatkan, kita harus tahu dan persis mengerti apa yang kita maksudkan.

Bukankah Tuhan akan tetap mengerti apa yang kita ucapkan? Karena Tuhan pun tahu maksud hati kita?

Benar, tak keliru juga anggapan semacam itu.

Tetapi jangan lupa bahwa Tuhan berdialektika dengan manusia. Tuhan pun sudah tahu bahwa di dalam hati, kita sudah beriman. Tetapi kenapa kita masih disuruh bersyahadat (bagi orang Islam) untuk meneguhkan hal itu?
Kenapa kita masih disuruh untuk sembahyang, untuk ke masjid, dan berbagai hal lainnya?
Kenapa? Karena Tuhan menginginkan dialektika itu.

Ia ingin tahu, sejauh mana para hamba yakin terhadap keberadaanNya, dan taat akan segala ketentuanNya. Dan doa, adalah salah satu metodologi untuk menguji sejauh mana sebenarnya keyakinan kita terhadap Tuhan.

Maka idealnya, kita seharusnya mengerti secara persis dengan apa yang kita minta, terhadap doa yang kita panjatkan. Tetapi itu idealnya….

Andaikata tidak ideal, ya tak mengapa juga. Toh kebanyakan manusia saat ini sudah jauh dari kata ideal, apalagi doa-doanya…

Tenang saja, selain mengerti berbagai macam bahasa, Tuhan juga sangat luas rahmat-Nya. Maka tak mengapa jika doa kita belum ideal, Tuhan akan tetap menerimanya.

Yang saya sampaikan hanya salah satu metode saja agar doa kita cepat sampai dan cepat terkabul. Semacam jalan tol atau jalan bebas hambatan.

Lantas, apakah yang saya sampaikan diatas benar dan bisa dipertanggungjawabkan? Ya belum tentu juga. Kalau mencari benar atau salah, kita tak akan pernah sampai.

Cari saja kebaikannya. Kalau menurut anda tidak baik, ya tak usah digagas, lupakan saja. Begitu, sederhana bukan?

Selamat pagi, selamat beraktifitas. Jangan lupa berdoa…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *