Ki Seno Nugroho

Ki Seno Nugroho

Gareng
Palung Hati Terdalam, 04 November 2020

Al Fatihah. Saya mohonkan para pembaca sekalian untuk membaca Al Fatihah atau doa apapun untuk almarhum Ki Seno Nugroho, semoga beliau mendapat tempat terbaik disisi Gusti Allah, Gusti Ingkang Maha Welas Asih.

Seperti halnya matahari yang terbit terbenam setiap hari, begitu juga manusia datang dan pergi. Begitu pun manusia lahir dan mati. Keniscayaan dan kepastian satu-satunya bagi manusia adalah perihal kematian, ketika ia terlanjur dilahirkan ke dunia.

Fana. Dunia ini fana saja, sehingga apa yang datang dan pergi tak usah terlalu dimasukkan ke dalam hati. Biasa saja, seperti kita memperlakukan matahri yang datang dan pergi setiap hari.

Tetapi, tentu saja perlakuan untuk membiasakan datang dan pergi itu berbeda kadarnya, bagi setiap hati yang menyentuh dan mengalami.

Dalam hal ini, hatiku merasa tersentuh oleh perlakuan Ki Seno Nugroho terhadapku, juga terhadap Bapak serta saudara-saudaraku, Petruk dan Bagong.

Seperti yang kalian tahu, dulu…menjadi Ponokawan hanyalah menjadi ‘bintang tamu’ dalam setiap goro-goro di pementasan wayang kulit. Bintang tamu yang seperti ada dan tiada. Kami hanya ada dan diperlukan dalam adegan seperempat akhir itu. Sebelum dan sesudahnya, kami hanyalah pelengkap. Tetapi semenjak Ki Seno Nugroho, kami adalah bintangnya. Iya, kami Ponokawan yang hanya batur, rewang, pembantu, masyarakat golongan kecil dan termarjinal ini menjadi bintang dalam setiap pementasan wayang. Dari awal sampai akhir.

Lihatlah lakon-lakon yang dipentaskan atau bahkan digubah oleh beliau!
Semar Mbangun Kahyangan, Semar Mbangun Pasar, Gareng Ratu, Petruk Dadi Ratu, Bagong Takon Bopo, dan sederet banyak lagi lakon-lakon dari beliau untuk memanusiakan kami. Lakon dari beliau untuk mengangkat harkat dan martabat kami. Beliau menempatkan kami setara dengan para kesatria, bahkan terkadang unggul dari para dewa.

Bukan njangkar dan kurangajar ketika beliau menempatkan kami terkadang lebih unggul daripada kesatria serta dewa, melainkan karena beliau tahu secara persis sangkan paraning dumadi. Siapakah kami dan apa yang sebenarnya termuat serta termaktub pada kehidupan kami sebagai Ponokawan.

Secara siklikal kami memang hanya batur, pembantu, dibawah para kesatria. Tetapi sekaligus kami adalah amanat tertinggi dari Sang Hyang Wenang dalam jagad kehidupan, diatas para dewa termasuk diatas Bathara Guru. Kami berada dibawah, namun sekaligus berada dalam puncak. Ki Seno Nugroho memahami itu secara persis, sesuatu yang jarang dipahami oleh kebanyakan dalang. Atau sebenarnya para dalang yang lain juga paham, tetapi takut untuk mendobrak pakem lakon yang sudah terlanjur mengakar.

Ki Seno tidak takut menabrak pakem pewayangan, karena ia tahu substansi nilai wayang yang digubah oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kanjeng Sunan Kalijaga menempatkan kami persis seperti apa yang dimaksudkan oleh Ki Seno dalam setiap lakon yang dipentaskannya. Bahwa rakyat kecil seperti kami harus selalu ada dalam rembug musyawarah para kesatria maupun dewa, dari awal sampai akhir. Bahwa kami memang bisa diinjak, tetapi jangan lupa bahwa kami bisa membalasnya.
Bahwa kami sebagai rakyat kecil bukan hanya pelengkap dari keberadaan para priyagung kerajaan, melainkan adalah bagian penting yang harus selalu diajak untuk menentukan nasib kami sendiri.

Ki Seno Nugroho telah pergi mendahului…

Aku selalu meyakini bahwa beberapa orang dengan kapasitas unggul dan berguna bagi kemaslahatan banyak orang yang meninggal dalam usia muda, adalah orang-orang baik. Begitu juga dengan Ki Seno. Gusti Allah Ngersakke Ki Seno untuk lekas sowan kepadaNya. Tak lagi bisa waktu mengayomi Ki Seno untuk sedikit lagi menemani kami, karena dia sudah diminta untuk menemani Gusti Ingkang Maha Welas Asih.

Kami tentu saja kehilangan, tetapi kami harusnya bangga dan berbahagia bahwa beliau kini sudah mendapatkan tempat yang jauh lebih baik, mendapatkan Kasuwargan Djati.

Kelak, mungkin aku, Semar, Petruk, maupun Bagong takkan lagi mendapatkan tempat seperti tempat yang disediakan oleh Ki Seno. Mungkin takkan adalagi adegan ketika Gareng nggajul Pandhito Durno, Petruk ngantemi Baladewa, atau Bagong ndupak Bathara Narada. Mungkin tak akan adalagi semuanya itu. Tetapi, kami harus bersyukur bahwa Ki Seno pernah mengangkat harkat martabat dan derajat kami sampai sedemikian itu.

Ki Seno Nugroho tahu persis mengenai posisi kami yang termarjinal, tersisihkan, dan terabaikan. Maka beliau berdiri digaris depan untuk membela kami. Membela psikologis kami sebagai rakyat kecil, yang dari masa ke masa hanya selalu menjadi obyek dari lakon para penguasa. Tak sekalipun kami menjadi subyek dan penentu. Tetapi Ki Seno, beliau hampir selalu menempatkan kami sebagai subyek, dengan mengabaikan ancaman bahwa apa yang dia lakukan menabrak pakem pewayangan.

Ki Seno tidak peduli tentang hal itu, oleh karena dia mengutamakan isi substansi daripada panjang lebar dan bertelenya lakon.

Kelak, takkan adalagi…

Kami harus menerima, kami harus merelakannya.

Bagaimana kami tidak rela? Kini Ki Seno Nugroho sudah bersama dengan Gusti Allah Ingkang Maha Welas Asih, sudah manunggal bersatu bersamaNya, sudah melebur menyatu dengan kebahagiaan sejati.

Perih, dan tentu saja sesak dada ini, tercekat tenggorokan kami. Namun apalagi yang bisa kami lakukan selain mensyukuri apa yang sudah dilakukannya, dan kemudian berdoa agar kami juga bisa menjadi orang baik sepertinya?
Tak ada yang bisa kami lakukan selain itu. Meneladani keberaniannya, kejujurannya, keteguhan tekadnya dalam menegakkan lakon seperti yang semestinya.

Begitu bukan lakon kehidupan?

Sugeng tindak Ki Seno Nugroho, Kasuwargan Djati kagem panjenengan. Gusti Allah Ingkang Maha Welah Asih nampi sowan panjenengan, mapan wonten papan panggenan ingkang sarwo endah, sarwo becik, sarwo apik.

*****

Salam juga dari Semar, Petruk, Bagong. Sampai jumpa lagi kita dialam keabadian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

51 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *