Kisah Yang Tak Mahsyur, Dialog Didepan Pintu (1)

Manfaat hujan-hujanan bagi tubuh

Kisah ini tak mahsyur, tak terkenal, jarang dibicarakan orang. Saya sendiri mendengarnya dari pepohonan, dari rerumputan, dari gemricik air sungai kecil yang jernih mengalir. Saya mendengarnya ketika terjebak dalam satu lamunan, maka saya juga kurang yakin apakah kisah yang dibicarakan itu benar adanya.

Satu yang saya yakin, bahwa pohon, rumput, dan air yang mengalir itu juga bisa berbicara. Ayolah, apakah hanya karena akalmu tidak bisa menerima fakta bahwa mereka berbicara, maka lantas mereka bisa berbicara bukanlah fakta?

Terima saja fakta yang tak bisa dicerna oleh akal, sebab akal memang mempunyai keterbatasan.

Tetapi jangan langsung juga meyakini bahwa kisah ini nyata adanya, sebab memang keberadaannya antara ada dan tiada. Samar, namun ada. Layak disangkal, tetapi juga tak mudah diabaikan.


Seseorang terlihat suntuk dan gelisah menunggu antrean. Namun rasa suntuknya juga tak lantas gamblang ia perlihatkan. Yang nampak dari keseluruhan sikapnya, adalah ketakutan, juga rasa segan.

Ia sedang menunggu untuk dipanggil dan diberikan keputusan akhir atas segala perbuatannya. Ia menunggu giliran untuk disuruh memasuki satu diantara dua gerbang. Gerbang besar yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Baik skala besarnya, maupun bentuknya.

Juga pos pemeriksaan itu belum pernah ia lihat, apalagi ia alami. Dulu ia hanya pernah beberapa kali mengalami pemeriksaan, tetapi paling banyak adalah pemeriksaan SIM juga kelengkapan kendaraan.

Apalagi antrian semacam yang sedang ia ikuti, tak pernah ia mengalami antrian semacam ini. Antrean yang diikuti oleh banyak orang. Saking banyaknya, ia tak mempunyai perumpamaan. Hanya saja jika terpaksa diberikan perumpamaan, ia hanya melihat manusia sampai pada batas cakrawala pandangnya.

Berapa juta manusia yang sedang antri bersamanya? Atau berapa miliar?
Tempat macam apa yang bisa menampung orang sebanyak itu?

Sesekali ia menguap, dan menoleh ke kanan maupun kiri. Melihat orang-orang disebelahnya. Matanya mencari penjual es krim atau minuman, untuk membasuh dahaga. Tak ada satu pun penjual terlihat.

Dulu ia pernah mengalami antri lama di sebuah rumah sakit, namun masih ada penjual makanan maupun minuman. Juga, tak sebanyak ini manusia yang mengantri.

Tak berapa lama sebuah suara terdengar menggelar dari pos penjagaan di depan. Namanya disebut, juga diikuti nama bapaknya.

Sesosok makhluk bertubuh besar dengan sinar memancar dari sekujur tubuhnya terlihat dan terdengar memanggil. Sosok apapula itu. Belum pernah ia lihat sebelumnya. Tetapi semua terlihat biasa saja. Meski belum pernah ia saksikan, tetapi tumben bahwa tak ada rasa heran yang menggelayut berlebihan. Sebatas hanya pertanyaan-pertanyaan dan rasa asing saja yang hinggap. Lebih dari itu, ia tak merasakan heran berlebihan.

“Anang anaknya Fulan.” sosok makhluk tinggi besar itu memanggil namanya.

Ia tergeragap, dan lekas maju menyibak kerumunan.

“Saya, hadir!” Sampailah ia di depan pos pemeriksaan. Suasana memang gaduh, tetapi dengan jelas dan khidmat ia bisa mengikuti seluruh alur yang sedang terjadi. Ternyata tak hanya satu makhluk bertubuh tinggi besar seperti yang memanggil namanya. Ada beberapa, tetapi ia tak menghitung secara pasti jumlahnya. Yang jelas, mereka semua nampak berwajah datar.

“Menurut catatan, kamu masuk ke surga. Cepat sana masuk.” Sesosok makhluk tinggi besar lain, yang tidak memanggil namanya memerintahkan sesuatu, sembari menunjuk satu arah.

Ia simpulkan bahwa mereka adalah rombongan pemeriksa. Semacam polisi, tetapi entah dari divisi apa, dan entah juga dari negara atau planet mana.

Anang anaknya Fulan kembali berjalan, menurut saja. Hampir sampai ia pada pintu gerbang termaksud, tiba-tiba satu suara berteriak dari arah antrian.

“Tunggu, mosok Anang kok masuk surga. Ga pantas.”

Anang abai, dan tetap berjalan seperti yang diperintahkan. Tetapi tiba-tiba suara keras menghentikan langkahnya.

“Hei Anang, tunggu dulu. Kembali kesini.”

Lagi-lagi Anang menurut. Ia sudah terlalu lelah membantah. Ia berjalan saja kembali ke pos pemeriksaan.

“Hei kamu yang merasa Anang tidak pantas masuk surga, kemari.” kata salah satu dari makhluk tinggi besar itu.

Seseorang melangkah maju, menghampiri pos pemeriksaan. Anang tak mengenalnya.

“Siapa kamu?”

“Saya orang yang tahu sepak terjang Anang. Ia tak pantas masuk surga.” jawab seseorang yang berkata mengenalnya.

Anang memperhatikan orang itu, mengamatinya dari ujung kepala sampai kakinya. Ia gagal mengenali orang itu, namun tetap memilih diam.

“Benarkah kamu mengenal Anang? Atas dasar apa kamu bisa berkata si Anang tak pantas masuk surga?” si pemeriksa bertanya.

“Paling gampang saja, mosok orang yang tidak bisa mengenali anda semua pantas masuk surga?”

Anang sedikit kaget. Apakah lantas orang yang disampingnya itu mengenal para pemeriksa?

“Anang, apakah kamu tidak mengenali kami?” salah seorang pemeriksa bertanya.

“Tidak. Siapakah anda semua?” Anang balik bertanya.

“Nah kan ia tidak kenal anda semua.” Orang yang mengaku kenal dengannya itu merasa menang.

“Benar-benar tidak kenal kami?” pertanyaan yang sama diulang.

“Tidak.” Anang menjawab sekali lagi.

“Masuk neraka.” perintah satu suara lain, juga dari pemeriksa.

Anang bergeming dan tak melangkah. Tak lagi patuh seperti ketika ia diperintah masuk surga.

“Kenapa kamu tak lekas beranjak pergi?” suara keras membentak.

“Lhoh, apa salah saya? Kok tiba-tiba disuruh masuk neraka? Lagi pula pertanyaan saya belum dijawab. Anda semua ini siapa, dan ini tempat apa?” Anang menjawab, sembari bertambah kegelisahannya.

“Ini manusia cap apa sebenarnya. Kami malaikat, dan ini tempat checking terakhir untuk memastikan manusia macam kamu ini masuk surga atau neraka.”

“Owalah. Lha tadi ndak kenalan dulu, dan ga ada papan informasi yang memberitahukan ini tempat macam apa.”

“Cah goblog.”

“Makanya kok rada aneh begitu perasaan saya. Berarti saya sudah game over di dunia?”

“Lhaiya, dunia sudah kiamat.”

“Trus saya jadinya masuk neraka?”

“Iya!”

“Kenapa?”

“Banyak tanya. Karena kamu tidak kenal kami.”

“Lhoh, harus po?”

“Kok kurangajar? Cepat masuk neraka.” salah satu malaikat sepertinya mulai hilang kesabaran.

“Sik, sebentar. Sejauh yang saya tahu, katanya masuk surga itu syarat paling dasar bukan kenal sama sampeyan semua.” Anang juga mulai terlihat jengkel.

“Kata siapa?”

“Itu, kata orang yang disana!” Anang menunjuk sesosok manusia yang terlihat berdiri tak jauh dari tempat mereka.

“Lhoh. Kamu kenal beliau?”

“Ya kenal donk, edan po sampai ga kenal.” Anang menjawab dengan sedikit mulai bergairah. Bergairah untuk berdebat, suatu hal yang sangat ia sukai semasa dunia belum kiamat.

“Sebutkan nama beliau, kalau memang kamu kenal.”

“Ya Allah. Beliau itu Tuan Muhammad anaknya Pak Abdullah, Utusan Allah. Manusia paling mulia yang pernah ada.”

“Lhoh, kok kenal?”

“Lhaiya kenal. Lebih dari kenal.”

“Maksudnya?”

“Saya bersaksi kalau tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Tidak hanya kenal, saya ini saksi je.”

“Lhoh, mau cari koneksi nih? Ngaku-ngaku kenal? Biar urusan gampang dan disuruh masuk surga?”

“Lhoh, saya ini ga peduli disuruh masuk mana, asal caranya bener. Kata beliau Tuan Muhammad, tidak ada syarat masuk surga dan sebab masuk neraka itu karena kenal panjenengan semua, ga ada. Beliau Tuan Muhammad menyampaikan : siapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa aku (Muhammad) utusan Allah, haram baginya api neraka, dan surga adalah tempatnya.”

“Bener po salah?” Anang mulai terlihat jengkel.

“Iya sih, bener. Ya dah sana masuk surga. Tapi kamu bener kenal beliau Tuan Muhammad?” salah seorang malaikat mulai membaik, namun masih terlihat ragu.

“Welah, tak panggilin po? Beliau sayang lho sama saya.”

Hais ga usah. Sana masuk surga.”

Anang kembali berjalan menuju gerbang surga. Tetapi tiba-tiba seseorang yang tadi mengaku mengenalnya, kembali berteriak.

“Tunggu!”

(bersambung)

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

317 Comments

  1. Hi there every one, here every one is sharing these familiarity, thus it’s nice to read this website, and I used
    to pay a quick visit this blog every day.

  2. I was wondering if you ever thought of changing the page layout of your blog?
    Its very well written; I love what youve got to say.
    But maybe you could a little more in the way of content so people could connect with it better.

    Youve got an awful lot of text for only having one or
    two images. Maybe you could space it out better?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *