Kisah Yang Tak Mahsyur, Dialog Didepan Pintu (2)

Anang kembali berjalan menuju gerbang surga. Tetapi tiba-tiba seseorang yang tadi mengaku mengenalnya, kembali berteriak.

“Tunggu!”

Wiiiissssss, opo meneh. Anang yang sudah mencium bau surga didepan pintu terpaksa menghentikan langkah, dan memaksa hidungnya untuk sejenak mengabaikan dulu bau surga yang terasa sangat menyenangkan itu. Belum pernah ia membaui sesuatu semacam itu.

“Mungkin saja Anang ini hanya mengaku-aku kenal dengan Muhammad!” orang yang merasa mengenalnya itu melontarkan suatu pernyataan, namun lebih banyak ditujukan kepada para malaikat penjaga.

“Hei Anang, sini dulu kembali.” salah satu malaikat penjaga memanggil.

“Panggil saja Tuan Muhammad kesini, biar langsung jelas dan gamblang urusannya.” Anang mulai tak sabar. Padahal, bukankah surga memang untuk orang-orang yang sabar?

Akankah Anang pada akhirnya harus bertamasya dulu ke dalam neraka?

“Jangan kurang ajar. Beliau Tuan Muhammad tidak seharusnya dilibatkan untuk urusan kecil semacam ini.” Malaikat yang lain menimpali.

“Justru harus dilibatkan. Bukankah beliau semasa hidup di bumi mengatur dan memberi contoh perihal kehidupan sampai pada yang paling sederhana, kecil dan detail? Contohnya saja ketika beliau memberikan suatu tesis mengenai makan. Makanlah setelah lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Bukankah makan adalah hal yang sederhana dan sudah jamak bagi manusia atau makhluk hidup. Tetapi Tuan Muhammad memberikan suatu tesis mengenai adab tata cara makan yang baik dan benar.”

“Itu kan di bumi. Di alam dunia ketika raga dan nyawa harus saling menopang.” Malaikat yang memanggilnya bersikukuh untuk menolak menghadirkan Tuan Muhammad.

“Syafaat Tuan Muhammad lintas dimensi ruang dan waktu.” Anang masih juga ngeyel untuk menghadirkan Tuan Muhammad.

“Coba dites saja dengan pertanyaan apakah si Anang memang mengenal Muhammad.” orang yang merasa mengenal menyahut pembicaraan, “Karena setahuku, Anang ini semasa di bumi hanya sok kenal saja dengan Muhammad.”

“Pernah bertemu Tuan Muhammad?” salah satu Malaikat bertanya dengan ekspresi wajah serius.

“Dimana?”

“Kok dimana. Ya pas di bumi.” Malaikat mulai sedikit agak jengkel.

“Bertemu bagaimana maksudnya?” Anang cengar-cengir.

“Nah kan berbelit saja, aku yakin dia hanya mengelak untuk menjawab.” orang yang merasa mengenal berteriak dengan nada penuh kemenangan.

“Kalau kamu kenal, berarti kamu pernah bertemu beliau Tuan Muhammad.” Malaikat mulai mendelik.

“Lhaiya bertemu dengan cara apa yang mana dan bagaimana maksudnya?” Anang masih cengar-cengir.

“Jangan berbelit-belit!” nada suara naik mulai terdengar.

“Lhoh siapa yang main-main?” Anang mendelik. Kurangajar juga dia.

“Jawab saja jangan terlalu banyak menjawab dengan pertanyaan balik!” suara lain terdengar juga mulai meninggi.

“Begini sidang yang terhormat. Tentu saja jika yang dimaksud adalah pertemuan fisik, saya belum pernah bertemu beliau Tuan Muhammad.” Anang menjawab.

“Nah kan belum pernah bertemu.” suara dari orang yang merasa mengenal Anang terdengar girang dan riang.

“Jika belum pernah bertemu, darimana kamu merasa mengenal beliau Tuan Muhammad?” kini beberapa malaikat mengarahkan badan dan pandangan khusus pada Anang.

Anang masih cengar-cengir. Disapukan pandangannya. Ia masih bisa melihat Tuan Muhammad yang menjadi topik pembicaraan berdiri dengan wajah teduh menenangkan. Ia tak sampai hati memanggil junjungan dan idolanya itu. Memang benar Tuan Muhammad jangan sampai dilibatkan hanya untuk masalah sederhana semacam ini.

“Begini, saya memang belum pernah bertemu secara fisik. Tetapi….”

“Tetapi apa?”

“Saya sering bertemu beliau dalam keseharian.”

“Semakin tidak jelas. Maksudnya apa?” Malaikat dengan tubuh kekar menatap dengan sorot mata semakin tajam. Mengerikan.

“Pada era ketika saya hidup di bumi, Tuan Muhammad sudah meninggal secara fisik lebih kurang seribu empat ratus tahun lamanya. Tahun dalam satuan waktu bumi saat itu tentu saja. Sehingga saya tidak pernah secara langsung bertemu dan bersua muka secara fisik dengan beliau.”

“Lanjutkan!”

“Apa yang saya yakini sebagai suatu ‘pertemuan‘ dengan beliau, tak lebih adalah dogma dan pernyataan dari beliau Tuan Muhammad, yang tertulis dalam berbagai literatur.”

“Apa yang membuatmu yakin bahwa literatur itu benar adanya berisi pernyataan dari Tuan Muhammad?”

“Keyakinan seringkali tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Hanya saja saya memang benar-benar yakin bahwa apa yang saya baca sehingga secara batin saya ‘menemui’ Tuan Muhammad, adalah kebenaran.”

“Berikan salah satu contoh!”

“Sederhana saja. Singkatnya, karena dari semua apa yang saya baca dan saya yakini sebagai pernyataan dari Tuan Muhammad, kesemuanya berisi kebaikan sekaligus kebenaran. Tak ada satupun yang menyimpang dari nilai kebaikan dan kebenaran, secara holistik bukan hanya kasuistik. Misalnya ketika Tuan Muhammad menyampaikan perihal makan. Makanlah ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Selain secara langsung berkait dengan fisik manusia yang harus dipenuhi hak kesehatannya untuk makan, secara pas dan terukur, jangan sampai kurang dan apalagi berlebih, hal itu juga mengandung filosofi berkaitan dengan sikap hidup manusia. Bahwa manusia jangan sampai serakah dengan dunia, yang terepresentasi ‘berhenti sebelum kenyang’, dan juga manusia harus mengusahakan nafkah hidupnya yang terepresentasi dari ‘makanlah ketika lapar’. Bukankah secara singkat dan sederhana satu contoh kecil itu merupakan nilai kebaikan dan sekaligus juga mengandung kebenaran?”

Anang menatap tajam ke arah para malaikat, dan berganti menatap tenang kepada Tuan Muhammad. Tuan Muhammad, itulah sosok legendaris yang selama hidupnya di bumi, hanya bisa ia saksikan dari berbagai literatur dan kisah-kisah dari para alim.

“Sudah-sudah, sana masuk surga. Pintu yang sekarang paling dekat denganmu.” sesosok malaikat yang sedari tadi belum berbicara, kini terdengar berbicara.

Malaikat yang lain terlihat setuju, terlihat dari sikap mereka yang hanya ta’dzim mendengar suara dari malaikat yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan.

Anang melangkahkan kakinya untuk menuju pintu termaksud. Aroma surga kembali tercium dan menguar terasa menyenangkan menyelimuti dirinya. Tinggal beberapa langkah kakinya mengayun, dan itulah surga yang selama ini hanya menjadi legenda. Ia merasa tenang dan nyaman.

“Tunggu! Berhenti!!!”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *