Kisruh Pemilu Presiden

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Saya menonaktifkan sementara akun media sosial, gegara perhelatan pemilu. Lebih jauh lagi, pemilu presiden.

Gara-gara ada cebong kampret jahanam itu. Asu.

Gara-gara kefanatikan mereka, tak ada lagi suasana adem dan penuh guyon serta canda tawa di media sosial.

Kenapa mereka tidak pergi saja ke Planet Uranus dan perang disana? Asu.

Saya kira setelah beberapa minggu usai coblosan, suasana akan mereda. Tetapi menurut informasi malah bertambah panas, dan akan ada gerakan people power segala. Gerakan yang dicetuskan oleh seorang sepuh yang sebenarnya lebih baik banyak-banyak wiridan di masjid daripada bikin gaduh suasana.

Begini saja sebenarnya kalau mau disampaikan dengan bahasa yang sederhana :

“Si orang berusia lanjut itu berkata bahwa jagoannya dicurangi dalam gelaran pilpres.”

Sebagai seorang yang sudah malang melintang di arena politik selama puluhan tahun, seharusnya dia tahu skema kecurangan itu sebelum perhelatan. Kecurangan pada event sebesar pemilu tak bisa disembunyikan begitu saja.

Kalau dia tahu ada kecurangan, harusnya laporkan dengan bukti-bukti kuat. Pasti diusut tuntas.
Kalau ia sudah lapor tetapi diabaikan, tak usah ikut pemilu. Boikot saja gelaran pemilu itu, tarik jagonya dari gelanggang karena ada kecurangan. MUDAH!!!

KECUALI kalau sebenarnya dia tahu akan kalah, sebenarnya tidak ada kecurangan, tetapi memaksa bikin skenario agar gaduh suasana, agar wajahnya tetap tersorot kamera.
Agar apa tujuannya?
Agar parpolnya mendapatkan suara. Sudah, itu saja sebenarnya.

Yang goblog adalah yang mau mendengarkan si orang tua ini ngomyang tidak karuan.

Jelas bahwa politik di negeri ini tak pernah keluar dari lingkaran elite nya, jika sudah membicarakan keuntungan.
Jadi apapun yang terjadi, tak ada keuntungan bagi masyarakat awam di tingkat bawah.

Kondisi gaduh atau tenang selalu saja yang mendapat keuntungan adalah lingkaran elite politik itu.
Pura-pura saja mereka bertengkar, agar seakan terlihat adu argumen mempertahankan idealisme serta pendapat dan aspirasi dari masyarakat. Padahal setelahnya, mereka melakukan deal-deal politik untuk membagi-bagi jatah kesenangan.

Kalian itu memang tidak tahu, tidak paham, atau goblognya kebangetan?

Wacana people power itu menggunakan logika kelas tiarap. Peraturan sebuah kontes atau kejuaraan, adalah mengikuti peraturan dan hasil yang diputuskan oleh wasit atau dewan juri.
Jadi menuduh wasit atau dewan juri curang setelah pertandingan selesai dan dinyatakan kalah, itu hanya ekspresi kekecewaan.

Seharusnya dari awal sudah dikawal segala macam perangkat yang akan menyelenggarakan pertandingan. Toh mereka juga duduk di legislatif, dan menyetujui semua rancang bangun mengenai pemilu tahun ini [2019]. Ketika dulu sudah setuju mengenai segala aturan mainnya, lantas kenapa kalah baru berteriak-teriak?

Semestinya semenjak awal mereka mengawal proses penyelenggaraan pemilu itu, mulai dari pembuatan peraturannya yang disahkan bersama antara eksekutif dan legislatif, juga perangkat-perangkat lainnya semisal tata cara pemilihan. Detailnya tentu juga dibahas juga di gedung parlemen.

KECUALI, anggota parlemen dari si embah-embah itu tidur atau tidak hadir ketika sidang yang membahas mengenai pemilu.

Jika tetap sok-sokan memaksa people power, atau gerakan kedaulatan rakyat, atau gerakan ngising apapun, saya nyicil prihatin si embah ini tidak akan khusnul khotimah.

Jangan salah sangka dulu, dalam hal ini khusnul khotimah bukan berarti mati, mampus, atau modyar. Tetapi lebih merujuk pada lingkup kontes politik.

Kan ya sudah sepuh, sebelum pensiun dari gelanggang politik, mbok ya bikin statement yang bagus-bagus, yang adem-adem, bukan statement panas cenderung bodoh.
Nanti masyarakat akan mengingat si embah sebagai manusia ambisius, yang sampai pensiunnya dari dunia politik, hanya bisa ndomblong dan lholhak-lholhok tidak mendapatkan apa-apa. Padahal ambisinya sudah demikian luar biasa, dan tekadnya demikian kuat. Tetapi ya itu, ambisi membutakan mata hati dan pikiran.

Takutnya, masyarakat akan mengingatnya sebagai seorang yang tamak dan rakus, alih-alih sebagai tokoh panuan panutan.

Beberapa tetangga saya bahkan sudah khawatir bahwa esok akan terjadi kerusuhan besar, pasca diumumkannya hasil pemilu oleh KPU. Gara-garanya yang pernyataan dari si embah yang akan mengerahkan massa itu tadi.

Eh tapi, apakah dia punya massa?
Siapa yang masih mendengarnya?

Lha wong partainya saja tidak tembus 7% perolehan suara nasional. Dari 7% itu juga tak semua adalah pendukung si embah. Ada juga yang memilih karena merasa mendapatkan keuntungan pribadi, bukan karena loyal pada si embah.

Saya kira selepas pemilu dan keluar hasil quick count, suasana akan kembali adem dan mereda. Kawan-kawa saya yang fanatik akan lekas melepaskan baju fanatiknya, dan kembali berkumpul sembari mengobrol santai ditemani secangkir kopi.
Ternyata tidak, suasana malah bertambah panas, dan masing-masing pihak mengklaim kemenangan.

Kalau semua menang, lantas siapa yang kalah?

Ya jelas masyarakat kelas bawah seperti saya ini yang kalah. Asu ki!!!

Kegaduhan tidak akan membuat para elite politik itu kekurangan makanan. Suasana panas dan tidak stabil tidak akan membuat mereka kehilangan pekerjaan. Suasana gaduh tidak akan membuat mereka terbunuh.

Jika ada yang secara langsung dirugikan dari kegaduhan ini, jelas adalah masyarakat kelas bawah, masyarakat awam.

Namun sayangnya, masyarakat kelas ini juga mudah sekali untuk diseret kesana kemari. Mudah sekali untuk dibujuk dan mengikuti kehendak para elit politik.

Nanti kalau sudah sengsara, baru berteriak-teriak.

Ah ya…nasib menjadi rakyat jelata….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.