Kodak, Kamera Digital Pertama

Kodak DZ710

Kodak kenangan

Gambar di atas adalah kamera digital saya yang pertama, dan terakhir. Dari Kodak, berjenis kamera compact, digital, bukan SLR.

Ukurannya kecil saja, hanya sebesar kepalan tangan saya, lebih sedikit. Seperti halnya jenis kamera compact lainnya, kecil, cukup ringkas dibawa. Namun tak bisa masuk saku, karena ukuran lensanya.

Lensanya adalah satu hal yang saya suka dari kamera ini, untuk mereduksi kekurangan dalam hal pixels. Kamera ini hanya berkekuatan 7 megapixels, sangat kecil dan bahkan kalah oleh kamera hape. Berukuran cukup besar, mampu melakukan zoom dalam jarak cukup jauh, tanpa kesulitan. Jenis zoom dari kamera ini adalah optical zoom, bukan digital zoom. Perbedaannya, dengan bahasa paling sederhana, optical zoom mampu menghasilkan gambar yang lebih baik, jernih, tanpa bergoyang.

Kamera ini menggunakan baterai A2 sebagai sumber tenaganya. Harus yang berjenis alkaline, atau berdaya tinggi. Tidak bisa menggunakan baterai A2 biasa.

Kamera ini sudah menemani saya pergi kemana-mana, dan mengabadikan gambar sampai puluhan ribu banyaknya. Bahkan saya yakin sudah mencapai ratusan ribu. Sebagian besar gambar atau fotonya, masih saya simpan, di beberapa hardisk external. Beberapa saya pindahkan ke laptop, beberapa lagi hilang bersama komputer saya yang mati di Banteran.

Begitulah kelemahan arsip digital, yang tak disimpan secara ‘benar’. Usianya hanya akan sepanjang usia media penyimpannya.

Sebenarnya beberapa foto sudah saya pilah dan pilih, untuk dicetak secara konvensional, dengan kertas. Tetapi sudah hampir tujuh tahun, belum juga terlaksana. Pemalas.

salah satu arsip yang belum sempat tercetak. Borobudur, 2009.

Tanpa rol film

Kamera ini saya beli tahun 2008, kalau tak salah ingat. Menggunakan rapelan gaji dari kenaikan pangkat.
Harganya saat itu, kalau tak salah ingat 1,7 juta rupiah. Mahal, bagi saya.

Saya membelinya di Computa, dengan ditemani sekaligus diberikan saran oleh seorang kawan baik. Kawan semasa SMA, Bayek [bukan nama sebenarnya].
Perangkat teknologi bukan hal yang familiar bagi saya. Baik itu komputer, atau juga kamera. Bahkan istilah ‘pixel’ dan ‘zoom’ baru benar-benar saya pahami setelah lebih dari lima tahun menggunakan kamera ini.

Begitulah, bodoh yang berpadu dengan kemalasan tingkat lanjut.

Saya selalu senang mengambil gambar, foto, ketika bepergian atau sedang mengikuti suatu acara. Tetapi tak pernah saya suka untuk difoto. Dikarenakan bentuk wajah yang sama sekali tidak fotoable, dan juga agar tak mempermalukan diri sendiri.

Rumah simbah, Wonogiri. 2010.

Meski hanya kecil dan sederhana, kamera ini sudah mengabadikan beberapa momen penting, bagi beberapa orang, dan juga pada kantor tempat saya bekerja [MIN Yogyakarta I].
Tercatat kamera ini pernah mengamankan gambar dan foto ketika kantor saya itu melakukan studi banding ke Malang, juga banyak kegiatan lainnya. Kemah, buka bersama, doa bersama, pentas seni, perayaan kelulusan, dan banyak lagi kegiatan lainnya.

Karena bentuknya yang mirip dengan kamera DSLR [kalau dilihat sekilas], maka kemudian banya orang menyangka bahwa kamera ini adalah kamera yang bagus. Pernah beberapa kali saya diminta untuk mengabadikan momen pernikahan, baik ketika ijab qabul atau resepsi, oleh kawan atau saudara. Dan saya selalu menolaknya. Untuk acara yang seperti itu, saya tak ingin mengecewakan banyak orang. Tentu saja kamera ini sama sekali tidak layak untuk mengabadikan momen pernikahan.

Kalau hanya untuk acara ulang tahun, sunatan, atau acara santai lainnya, saya akan dengan sukarela mengambilkan gambar untuk mereka. Untuk acara-acara santai seperti itu, kamera ini sudah lebih dari cukup, dan mampu mengambil gambar dengan baik. Tentu dengan catatan, dalam kondisi cahaya yang mencukupi.
Untuk mengambil gambar pada malam hari, atau dalam cahaya yang kurang, kamera ini tidak cukup bagus.

Pada kondisi kurang cahaya, seram sekaligus suram. Suatu senja di pantai selatan Jawa.

Gara-gara ulang tahun

Meski begitu, tetap saja kamera ini adalah kamera terbaik yang pernah saya miliki. Lebih karena nilai sejarah, dan sisi sentimentilnya.
Kamera ini saya beli, dengan dorongan kenyataan bahwa saya tak bisa mengabadikan momen perayaan ulang tahun yang ke-2 adik bungsu saya, karena ketiadaan kamera. Atas kejadian kurang menyenangkan itu, saya kemudian bertekad bisa sedikit demi sedikit mengumpulkan uang, untuk membeli kamera.

Tetapi ya usaha itu nihil saja, saya tetap tak bisa menabung.

Dengan alasan dan latar belakang keinginan mempunyai kamera itulah, saya kemudian banyak mengabadikan momen bersama keluarga. Meski hanya di dalam rumah, saya banyak mengambil foto Mamak, Bapak, atau kedua adik saya. Dalam berbagai kondisi dan situasi. Bahkan saya mempunyai foto mereka, ketika tidur.

Di taman Gembiraloka.

Mungkin juga karena itu adalah kamera digital pertama, dan untuk pertama kalinya saya mengalami mengambil foto tanpa khawatir kehabisan rol film, maka saya sedikit lebay. Dalam momen yang bahkan sama sekali tidak penting, saya akan mengabadikannya.

Sama sekali ga ada penting-pentingnya, tetapi penuh kenangan.

Semata karena saya ingin mempunyai sebanyak mungkin catatan sejarah, perjalanan dari waktu ke waktu bersama keluarga, berupa gambar. Agar bisa dilihat, secara kasat mata, untuk melengkapi catatan-catatan tulisan.

Zaho, burung hantu kesayangan, 2011.

Begitu banyak cerita yang hilang, kabur bersama berkaratnya ingatan. Terkadang hanya tersisa sepenggal, yang samar dan tak jelas benar. Butuh foto dan gambar-gambar, untuk kembali mengingatkan perihal kejadian. Yang penting, atau tak penting. Untuk membantu terbatasnya ingatan manusia yag sederhana, yang hanya bisa mengingat sesuatu terbatas pada yang benar-benar tajam. Tajam melukai, atau tajam memberkati. Yang benar-benar menyenangkan, atau benar-benar menyedihkan.

Dua adik kebanggan.

Diantara yang benar-benar menyenangkan dan menyedihkan itu, terdapat rongga samar perihal ingatan atau kenangan, yang muskil menebal tanpa bantuan.

Suatu waktu syuting Meteor Garden di Borobudur. Tanpa Kodak, momen ini akan terlupakan. F4.

Foto, bekerja untuk keabadian

Salah satu cara menebalkan samar yang terkadang penting itu, adalah dengan banyak mengambil foto, dan gambar-gambar. Untuk sedikit mengingat mengenai waktu-waktu yang telah lalu, juga untuk menebalkan kejadian yang terkadang kita ingin mengingatnya, tetapi lupa detail gambarannya.

Februari 2011. Sepenggal pahatan yang juga akan hanyut hilang bersama ingatan.

Terlalu banyak yang bisa dilupakan manusia, secara tak sengaja, daripada yang bisa diingatnya, dengan sengaja.

Goes to minggat Semarang, Desember 2009.

Maka mengambil gambar, dengan kamera compact Kodak itu, menjadi pilihan sederhana yang bisa saya lakukan. Mengabadikan waktu demi waktu yang berlalu bersama keluarga, dan orang-orang terdekat. Sekadar sebagai prasasti, bahwa kita pernah melewati sepenggal waktu tertentu, yang menyenangkan, di masa lalu.

Wisuda Lilik, November 2013.

Kini kamera itu sudah tak lagi menemani keseharian saya. Sudah ada beberapa bagian yang sepertinya mengalami kerusakan. Baterai menjadi boros ketika digunakan, autofocus juga sudah tak lagi prima. Terlalu lambat untuk mengambil gambar, bahkan ketika obyek dalam kondisi diam.

Namun pernah ada waktu ketika saya bersama Kodak DZ710 itu, bersama-sama melewati waktu, melukis kejadian, mengabadikannya dalam bingkai-bingkai kenangan.

Cukup pernah patah tangannya, jangan pernah patah hati atau semangatnya. Mei 2011.
Fresh from the KPR. Juni 2011.
Pak Tubi [mengepalkan tangan], dan Mbah Giman. Pakdhe dan Mbah Pakdhe, keduanya sudah almarhum. Taken by Jalu, Desember 2010.
Cilegon, 2014.
Pernah menjadi pemulung, di Jakarta. 2014.

Selain foto paling atas, semua foto pada tulisan ini diambil dengan Kodak DZ710.

Terima kasih sudah selalu bersedia menemani, dan mengabadikan hal-hal yang rentan berkarat oleh terbatasnya ingatan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

19 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *