Kunci Kesuksesan

Kali ini saya akan ‘sedikit’ serius, dan akan menyampaikan salah satu rumus mengenai kesuksesan. Eh, rumus atau kunci?
Sama saja, dua-duanya takkan berguna tanpa ada persoalan yang harus diselesaikan, atau tak ada pintu yang harus dibuka.

Lantas, apa ‘kunci’ yang saya maksudkan, untuk mencapai atau paling tidak menuju kesuksesan?

BERANI!!!

Kuncinya adalah berani, tak ada yang lain. Dengan sedikit saja ditambah imbuhan ‘ke-an’ dalam kaidah bahasa Indonesia, menjadi kata ‘keberania’, maka ia akan menjadi adjektif dalam kehidupan anda.

Tak usah berpanjang lebar, sahabat saya yang baik hatinya —ciiieehhhh—, mari kita kupas satu per satu.

Berani menghadapi kenyataan

Manusia mempunyai tiga dimensi waktu dalam kehidupannya. Pertama adalah waktu di masa lalu, kedua adalah waktu di masa sekarang atau saat ini, ketiga adalah waktu di masa yang akan datang.

Saya akan menyebut masa yang telah lalu sebagai sejarah atau kenangan. Masa saat ini adalah kenyataan. Masa yang akan datang adalah rencana atau harapan.

Jadi, berani menghadapi kenyataan adalah berani menghadapi era saat ini.

Pembaca anang aji dot com yang baik hati dan budiman namun kurang kerjaan…

Banyak orang tidak berani menghadapi atau berhadapan dengan kenyataan saat ini. Baik mereka yang ‘belum sukses’, atau bahkan yang ‘sudah sukses’.

Indikasinya gampang saja, bahwa mereka akan memimpikan sesuatu yang tidak ada pada saat ini. Sesuatu yang tidak ada dalam kenyataan hidup mereka. Seringkali, mereka terjebak dalam masa lalu, atau juga masa mendatang. Sehingga mereka lupa terhadap saat ini, lupa atau juga tidak berani berhadapan dengan kenyataan.

Jika ada orang-orang di sekitar anda terlalu banyak membicarakan masa lalunya, atau membicarakan masa mendatang, dan abai terhadap masa saat ini, hampir bisa dipastikan mereka tidak berani menghadapi kenyataan.

Jika masa lalu mereka lebih gemilang dari saat iini, mereka akan bercerita panjang lebar tentang era kejayaan tersebut. Jika masa depan mereka ‘terlihat’ lebih cemerlang dari saat ini, maka mereka akan banyak berbicara tentang masa yang akan datang.

Begini….berani menghadapi kenyataan adalah keniscayaan yang membuat manusia tetap mampu bertahan. Menerima apapun yang menjadi ‘miliknya’ pada saat ini. Banyak orang mengandaikan sesuatu, menyalahkan pilihan hidup yang ‘keliru’, untuk menghindar dari tanggung jawab saat ini.
Beberapa orang menyesali keputusan di masa yang lalu, yang kemudian menurutnya berimbas terhadap kehidupan saat ini.

Sahabatku….terimalah apa yang menjadi kenyataan saat ini, dengan sebaik-baiknya penerimaan.

ANG

Menyelaraskan hati dan pikiran bahwa apa yang terjadi pada kita saat ini, bagaimanapun kondisinya, adalah sesuatu yang memang sudah semestinya terjadi. Dengan selarasnya hati dan pikiran kita tentang penerimaan semacam itu, sehatlah diri kita, sehatlah hidup kita.

Kalau kita sehat, berarti kita sudah memegang kunci kesuksesan. Betul?

Berani meminta maaf

Bagi kita, eh maaf. Bagi makhluk di Planet Stqwjibqwts sana, meminta maaf adalah suatu hal yang sulit dilakukan. Pun ketika seseorang membuat atau melakukan kesalahan.

Seolah, meminta maaf adalah hal yang hina.

Sahabatku….jangan pernah meniru perbuatan dari makhluk di planet tersebut. Jika anda merasa membuat atau melakukan suatu kesalahan, segera untuk meminta maaf. Entah itu adalah suatu kesalahan komunal (anda menjadi bagian di dalamnya), terlebih jika kesalahan tersebut bersifat individual.

Meminta maaf bukan perbuatan yang hina. Perbuatan hina itu jika menimbun masker demi mendapatkan banyak keuntungan di tengah situasi masyarakat yang sedang membutuhkan.

Segeralah meminta maaf jika melakukan kesalahan. Bahkan jika anda merasa bahwa kesalahan itu tidak seratus persen berasal dari anda. Meminta maaf tidak akan pernah mendatangkan kerugian. Percayalah.

Saya beritahu suatu konklusi mengenai permintaan maaf ini, jika anda tertarik untuk menuju kesuksesan :

“Pertama, memintalah maaf terhadap diri anda sendiri.”

ANG

Seberapa sering anda membuat kesalahan terhadap diri sendiri, dan anda tidak meminta maaf?
Misalnya saja : seberapa sering anda berbuat sesuatu, yang ternyata itu menyulitkan diri anda sendiri?
Contoh : menerobos lampu merah, lantas ditilang oleh petugas.

Ketika melakukan hal tersebut, apakah setelahnya anda meminta maaf terhadap diri sendiri?
Paling banyak, justru anda akan menyalahkan diri sendiri. Betul?

Padahal anda yang salah, dan bukan diri anda.

Cepat-cepat meminta maaf terhadap diri anda sendiri, akan memicu perasaan damai dan tenang. Perasaan damai dan tenang akan memicu hal-hal yang produktif dan positif. Ketika hal itu sudah berjalan, maka anda sudah memegang kunci kedua menuju kesuksesan.

Lagipula, sahabatku yang kurang kerjaan karena membaca tulisan ini, bagaimana anda mampu dan bisa meminta maaf kepada orang lain, jika anda tidak mampu meminta maaf terhadap diri sendiri?

Berani memaafkan

Apa perbedaannya dengan berani meminta maaf?

Tentu saja berbeda.

Berani meminta maaf berarti berani membuat ‘permohonan’. Memohon terhadap pihak yang kita merasa melakukan kesalahan.

Berani memaafkan berarti kita berani menerima permohonan, dari pihak yang meminta maaf kepada kita.

Berapa kali dalam hidup, anda menerima suatu permohonan yang tidak menyenangkan?
Misalnya saja anda sedang berada di suatu parkiran pasar hendak pergi dengan kendaraan, dan tiba-tiba datang tukang parkir meminta uang? Padahal ketika anda datang dan menemukan kesulitan untuk memarkir kendaraan, si tukang parkir tidak mendatangi anda?

Apakah kemudian anda akan dengan ikhlas menerima permohonan si tukang parkir untuk meminta uang?
Saya rasa, anda tidak akan ikhlas.

Nah, maksud saya seperti itu.

Bahwa menerima permohonan maaf itu sulitnya tidak terkira, dan menurut saya lebih sulit dari meminta. Maka kita temui lebih banyak orang yang lebih senang meminta daripada memberi.

Jika anda mendapati suatu ketika ada orang datang meminta maaf, maka beranikanlah diri untuk memberikannya. Berikan permintaan maaf itu, sampai pada lubuk hati yang terdalam. Bukan pada lubuk hati yang terdalam lagi, tetapi berikanlah maaf dengan meliputi seluruh hati anda. entah pada permukaan, atau pada kedalaman.

Sulitnya…jauh lebih sulit daripada mencari masker saat ini.

Ketika anda sudah berani untuk memberi, maka anda sudah selangkah lebih maju untuk menuju kesuksesan.

“Memberi maaf lebih dari sekadar memberi dan menerima ucapan maaf. Tetapi lebih kepada penerimaan kita terhadap hal tak menyenangkan yang akan selalu menghantui seumur hidup kita.”

ANG

Dengan memberi maaf, seolah kita ‘kalah’. Apalagi, jika orang atau pihak yang meminta maaf itu, sudah melakukan suatu hal yang sangat-sangat berimbas tidak baik terhadap diri dan kehidupan kita.

Tetapi percayalah, memberi maaf akan jauh lebih membuat kita sehat. Berdampak positif terhadap masa kini, juga masa mendatang, dan terlebih era yang sudah kita tinggalkan.

Jika sudah bisa dan berani memberi maaf, berarti anda sudah memegang kunci ketiga kesuksesan.

Berani….

Yang keempat, berani melakukan ketiga hal diatas.

Tak ada gunanya anda membaca tulisan ini tanpa pernah berani untuk beraksi ketika suatu saat momentum itu terjadi.

Apakah dengan menyampaikan ketiga hal diatas, lantas saya juga sudah sukses?
Ah ya tentu saja tidak. Dan lagi tergantung bagaimana anda memandang dan menilai suatu kesuksesan.

Jika maksud anda sukses adalah berlebih dan berkecukupan dalam hal finansial, tentu saja saya sama sekali tidak sukses. Gambar sepatu yang saya cantumkan diatas adalah satu-satunya sepatu yang saya miliki untuk bekerja. Lima hari dalam seminggu, dan terkadang enam atau tujuh hari dalam seminggu, saya hanya memakai sepatu tersebut untuk bekerja.

Sangat tidak sukses, bukan?!

Tetapi kalau parameter sukses adalah bisa nggambleh, maka saya sukses.
Buktinya, saya bisa menuliskan ini.

Selamat malam, semoga kesuksesan menaungi anda.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *