Kurang Tertawa Dan Bercanda

Sepertinya saya kurang tertawa dan kurang bercanda, setidaknya dalam beberapa waktu terakhir. Tentu jika diambil garis besar, bukan pada momen-momen tertentu. Secara garis besar dan dari kesimpulan yang menyeluruh, bisa dipastikan bahwa hidup saya sudah menjurus terlalu serius, dan tak lagi menempatkan norma santai hore di dalamnya.

Setidaknya kesimpulan demikian saya ambil selepas melakukan kontemplasi di dalam beberapa WC, selama setengah hari ini. Pada pagi hari di WC rumah, WC madrasah pada tempat saya bekerja, dan WC kantor KPPN Yogyakarta ketika saya berkunjung kesana. Ketiga tempat wingit dan sakral tersebut memberikan semacam kesimpulan yang tak saya duga, saya menjurus gila.

Ketika suasana dan aroma dari ketiga tempat tersebut mengalirkan energi kontemplatif, saya terbayang beberapa hal yang kemudian berpikir untuk segera kembali ke khittah. Kembali ke asal, pada tujuan awal.

Tujuan awal untuk menjalani hidup se-santai mungkin, melepaskan diri dari tekanan-tekanan. Melepaskan diri dari tanggung jawab yang tak perlu, dan melepaskan diri dari beban-beban yang seharusnya tak menjadi suatu keharusan.

Apa yang pertama kali saya sadari di balik tembok WC tersebut, bahwa saya kurang bercanda dan tertawa, adalah kini saya tak lagi tertawa melihat pengendara motor yang meletakkan helmnya bukan di kepala, tetapi di lutut atau siku. Dulu, saya akan segera tertawa keras dan melantunkan pisuhan dengan beberapa nada serta irama. Tetapi kini, jangankan misuh, tertawa saja tidak. Saya malah kemudian mengambil kesimpulan bahwa pengendara motor tersebut goblog ga ketulungan. Dus, bukankah saya ini juga sebenarnya sangat goblog. Ketika saya seharusnya memperhatikan jalan dan kondisi lalu lintas, saya malah memperhatikan helm yang berada di lutut atau siku pengendara lain.

Kini saya terlampau serius, tegang, dan tentu saja kaku ga ketulungan. Mungkinkah karena itu terkadang kepala saya terasa sakit?

Padahal penelitian menunjukkan, bahwa resiko terkena inflamasi atau radang akan terjadi pada 20 persen orang yang terlalu serius, dan kurang bercanda atau tertawa. Kurang tertawa dan terlalu serius akan membuat tubuh merespon dengan kurang baik. Stres, perubahan denyut jantung, tekanan darah, dan juga meningkatnya kadar kortisol [hormon] stres di dalam tubuh. Stres yang berkelanjutan akan memicu untuk mudah terserang radang. Penelitian dari Ohio University yang dipimpin oleh Dr. Zoccola itu juga menyertakan hasil, bahwa radang yang disebabkan stres akan memicu penyakit jantung, dan bahkan juga kanker.

Sebenarnya saya ingin tertawa, seperti dulu. Tetapi entah karena sebab yang bagaimana, kini saya jarang untuk bisa tertawa, bahkan oleh guyonan dan lelucon yang berupa audio maupun visual. Dari gambar, film, video, atau tulisan, atau bahkan kejadian-kejadian di sekitar, saya kini tak lagi meresponnya dengan tawa. Tetapi dengan kerutan pada dahi. Serius, sepertinya syaraf bercanda saya sedang mengalami korsleting dan gangguan.

Dulu saya akan tertawa kalau melihat pejabat tidak bisa bekerja, ndah-ndoh, serta dikelilingi staf yang hanya suka cari muka. Dulu saya akan tertawa keras, dan kemudian berlalu pergi, tak peduli. Tetapi kini jika menyaksikan kenyataan seperti itu, saya akan mengerutkan dahi, kemudian berpikir keras kenapa hal-hal tersebut masih terus terjadi. Bahkan kejadian serta kenyataan tersebut terus ada, dalam skala masif.

Dulu saya akan tertawa mendengar sumpah korps pegawai, atau nilai-nilai budaya kerja yang harus dijadikan pedoman. Tertawa dalam koridor bahwa sumpah-sumpah itu lebih serupa sampah. Nyatanya banyak pegawai yang tidak taat pada sumpahnya.
Nilai-nilai budaya kerja?
Jangankan kemudian menjadi aplikatif, bahkan ia hanya menjadi semacam ritual normatif dalam tiap apel atau upacara.

Dulu saya akan tertawa. Tetapi kini kembali saya akan mengerutkan dahi. Bahwa sumpah dan nilai budaya kerja itu ditujukan untuk siapa?
Kalau untuk seluruh pegawai, kenapa tak ada keteladanan di dalamnya?
Ketiadaan keteladanan akan mereduksi integritas, dan tentu saja takkan memantik perofesionalitas.
Kejujuran? Itu hanya ada dalam cerita Si Kancil Mencuri Ketimun.

Paragraf terakhir di atas, adalah salah satu contoh kenapa kini saya tak lagi mudah tertawa. Saya terlampau serius menanggapi kebobrokan berbalut kelucuan semacam itu.
Kini saya menjadisok peduli, dengan melancarkan kritik atau ‘serangan’ kecil atas kecerobohan dan juga kecurangan. Dalam kritik dan serangan itu, saya menyematkan harapan agar kelak suatu saat akan ada perubahan.

Nah, harapan semacam itulah yang sepertinya secara kontemplatif hanya mampu di sampaikan oleh WC-WC dimana saya kemudian mendapatkan pencerahan.
Untuk apa kemudian saya sok berusaha menjadi pahlawan yang mengangkat tongkat idealisme dengan melawan kenyataan?

Toh jika diperumpamakan, saya ini hanya lalat, dan kenyataan perihal kecurangan serta kecerobohan itu adalah satu rangkaian kereta api lengkap dari lokomotif sampai dengan gerbongnya. Dalam sejarah, tak pernah ada lalat yang berhasil menumbangkan kereta api.

Dulu saya tak peduli, pada masa awal bekerja, ketika untuk pertama kali mengetahui porsi pembagian anggaran. Bahwa kenapa anggaran banyak mengendap di pusat, wilayah, atau bahkan daerah, sedang gedung-gedung dan fasilitas pembelajaran di madrasah kurang dari kata cukup.
Dulu saya tidak ambil pusing, dan akan lebih banyak berkata, terserah.

Tetapi entah kenapa kini, saya meresponnya dengan gegap gempita, dan oleh karena itu malah kemudian menjadikan saya gagap.
Biarkan saja anggaran mereka makan, dan biarkan pula murid-murid belajar seperlunya, dengan fasilitas dan alat seadanya.
Biarkan saja, dan apa pula urusan saya?

Kembali saja tertawakan, seperti dulu.

Penelitian mengenai manfaat tertawa bagi kesehatan tubuh,
sudah juga dilakukan pada tahun 2011. Dilakukan oleh Profesor Robin Dunhar dari Universitas Oxford. Ia mengklaim dari hasil penelitiannya, bahwa tertawa mampu melepaskan hormon endorfin yang bukan hanya akan membuat merasa senang, tetapi juga mampu mereduksi rasa sakit. Bahwa orang-orang yang sanggup tertawa lepas dan keras akan mengalami peningkatan imunitas tubuh terhadap rasa sakit, sampai sebesar 10 persen. Hal itu ia lakukan dengan meminta orang-orang yang menjadi obyek penelitiannya, untuk menggenggam es batu serta meremasnya sekuat tenaga, sembari diperlihatkan kejadian-kejadian lucu.

Observasi respon tubuh bersamaan dilakukan, dan diketemukan bahwa orang yang tertawa lepas dan keras, akan mampu menahan rasa sakit 10 persen lebih banyak.

Nah, sepertinya saya harus kembali menggali dan menyusun sifat-sifat apatis yang sudah terlanjur berserak, dan kekurang pedulian pada kondisi bobrok cum lucu di sekitar. Agar jiwa saya kembali sehat, agar bisa lagi banyak tertawa. Untuk apa juga sok menjadi pahlawan dalam kondisi rusak yang sudah dianggap sebagai kewajaran. Asal tak ikut rusak dan tetap waras, cukup kiranya.

Semoga Tuhan senantiasa memberikan keberkahan kepada WC-WC yang sudah sangat berjasa untuk menyadarkan saya :

“Bahwa hidup terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja tanpa banyak tertawa.”

Semoga anda juga senantiasa sehat, banyak tertawa, dan bahagia.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *