LAGU-LAGU IWAN FALS MEMBUAT HIDUP SERASA UJIAN REMIDI : MENGULANG

Menyebut nama Iwan Fals, seketika pikiran saya langsung melayang pada suasana pantai yang ramai namun sendu, koran, dan petai (pete?)

Yup, sebagaimana secara subyektif satu manusia menilai manusia lainnya, begitu juga tentang bagaimana ingatan saya pada Bang Iwan langsung secara subyekif otomatis tertuju pada hal-hal tersebut. Tentu saja karena lagu-lagunya.

Suasana pantai mengingatkan saya pada lagu Kemesraan yang menjadi lagu wajib pada setiap acara-acara yang dihelat baik secara resmi terencana maupun insidentil, oleh orang-orang tua maupun anak muda, oleh pegawai kantoran maupun komunitas dan perkumpulan. Seolah jika berkumpul tanpa memetik gitar sembari menyanyikan lagu Kemesraan, belum tuntas acara layak berakhir secara khusnul khatimah.

Koran mengingatkan saya pada Si Budi Kecil Kuyup Menggigil, pada lagu Sore Tugu Pancoran. Acap kali ketika melihat penjual koran di lampu-lampu merah, pikiran saya langsung melayang pada Bang Iwan dan Si Budi Kecil. Terlepas apakah penjual koran yang sedang berada di depan saya adalah anak-anak, ataukah bapak-bapak, atau bahkan perempuan. Si Budi Kecil sedemikian rupa memahat kesan pada pikiran saya, semenjak pertama kali mendengar lagunya lebih dari 25 tahun yang lalu. Ah, ternyata saya sudah tua.

Perihal pete, sampai hari ini ketika saya memakan buah (sayur?) dewa tersebut, selalu sembari terlintas bayangan mengenai sebuah keluarga kecil yang hidup jauh dari batas garis kecukupan. Saya tak memakai kata ‘garis kemiskinan’, sebab miskin dan kaya bersifat subyektif serta relatif. Tetapi kata ‘cukup’, saya rasa mewakili kondisi sebuah keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja seorang suami sepulang bekerja membawa sejumlah uang, baru juga mengucap salam dan memasuki pintu rumah, istrinya sudah berkaca-kaca sembari berkata bahwa aliran listrik dirumah mereka sudah diputuskan oleh pihak berwenang, dikarenakan tagihan sebesar tak lebih dari enam puluh ribu belum sempat terbayarkan.

Nominal ‘cukup’ mungkin mampu meredam gejolak akan berbagai tuntutan hedonisme kehidupan, tetapi ketika berhadapan dengan berbagai tagihan pelayanan yang disediakan pihak lain, terkadang ‘cukup’ pun adalah sesuatu yang mewah.

Dan Kembang Pete, lagu Bang Iwan yang menurut saya mewakili kemewahan cinta dalam balutan sengsara, terus mengulang lakon kehidupan bagi yang mengalaminya. Cinta, hidup bersama, dan bersama-sama tersengal napas kehidupan yang semakin lama semakin mahal.

Tentu tak hanya pantai, koran, dan pete. Masih banyak lagu Bang Iwan yang menegaskan, bahwa hidup dan kehidupan hanya pengulangan pola, dalam kurun waktu yang berbeda. Lagu-lagunya yang dirilis kurun waktu tahun 70’an sampai dengan 90’an, masih relevan untuk menggambarkan kehidupan saat ini. Si Budi Kecil dari Tugu Pancoran tak juga mentas dari dinginnya hujan, untuk pulang dan menghangatkan diri, mengerjakan tugas sekolah, atau bermain layaknya kawan sebaya. Saat ini, semakin banyak Budi Kecil yang tak sempat menikmati waktu. Untuk belajar secara formal, atau bermain secara wajar.

Apalagi?
Kalau anda penggemar, atau paling tidak familiar dengan lagu-lagu Bang Iwan, masih banyak lagu-lagunya yang dapat kita temui dalam lakon keseharian.

Salah satunya lagi, bagi saya, adalah Ujung Aspal Pondok Gede. Bagaimana kondisi Pondok Gede, dalam dinamikanya dari waktu ke waktu, saya tak pernah tahu. Tapi dalam lirik Bang Iwan, termuat kegetiran perihal kehilangan. Kehilangan akar budaya, sejarah, dan tempat tinggal.
//Sampai saat, tanah moyangku,
Tersentuh sebuah rencana, dari serakahnya kota,
Terlihat murung wajah pribumi, terdengar langkah hewan bernyanyi//

Getirnya ketika tanah kelahiran dengan berbagai ornamen berupa ladang, persawahan, pepohonan, dan riuh rendah nyanyian burung liar, harus diganti dengan keserakahan kapital yang mengatasnamakan pembangunan. Pabrik, gudang, bangunan-bangunan harus berdiri menyerobot lahan subur pertanian.

Kini, Ujung Aspal Pondok Gede sudah jauh menjalar sampai ke ujung pelosok tanah Jawa.
Bagi saya, Ujung Aspal Pondok Gede sudah sampai pada Ujung Aspal Jalan Palagan, Sleman. Daerah seputar tempat kelahiran saya, yang kini hampir mati sawah-sawah dan lahan pertanian. Berganti gedung-gedung, bangunan, perumahan, rumah makan, dan segala tetek bengek yang diyakini sebagai pembangunan dan kemajuan jaman.

Sawah-sawah tempat saya mencari belalang, gasir, dan juga jangkrik, sudah banyak terbengkalai dan tak terawat. Kebanyakan petak sudah berganti bangunan, sebagian lagi tinggal menunggu kering dan mati.

Sudah, masih banyak lagi, nanti ga habis-habis tulisan menjemukan ini.

Apa?
Terminal?
Halah, cuma mau mengingat kalau dulu sering nabokin bokong pas ikut jadi kondektur kan?

Apalagi?
Antara Aku, Kau, dan Bekas Pacarmu?
Halah mbok sudah biarkan saja, move on begitu.
Yang penting kan kita sudah tahu apa yang tersembunyi di balik manis senyummu.

Sekaligus lagu-lagu Bang Iwan menegaskan, bahwa dalam hidup ini, meski terasa nelangsa, kita ini hanya sekadar mengulang saja. Dulu, sudah pernah ada yang mengalaminya, bahkan mungkin lebih perih dan merana.
Buktinya?
Ya lagu-lagu itu, Arjooooo.

Sudah, kita akhiri saja tulisan ini.

Apalagi?
Surat Buat Wakil Rakyat?

Ya kalau sekarang jangan coba-coba nulis surat buat wakil rakyat, apalagi kalau suratnya lebih pedes dari cabai, lebih pahit dari brotowali. Nanti anda bisa diinceng pakai senapan jarak jauh, sniper, dengan peluru seri UU MD3.

Untuk saat ini, jika merasa Surat Buat Wakil Rakyat masih relevan, cukup melihat televisi, atau pantau kegaduhan dunia maya.
Silahkan pantau ketika ada trending topik, dan aktornya adalah Fadli yang bukan vokalis Padi.
Nah :
//Wakil rakyat kumpulan orang hebat, bukan kumpulan teman-teman dekat,
Apalagi sanak famili.
Di hati dan lidahmu kami berharap, suara kami tolong dengar lalu sampaikan.
Jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam.//

Masalahnya, sekarang memang bicaranya lantang, namun bukan membela dan membawa amanat suara rakyat, tetapi membela kepentingan diri dan golongannya sendiri.

Di kantong safari mereka yang harusnya dititipkan masa depan negeri ini, dari Sabang sampai Merauke, demi kepentingan politik praktis jangan pendek, rela digadaikan dengan kegaduhan demi kegaduhan. Berani dijual pada kepentingan sempit beberapa golongan.

Yah, tetapi meski begitu, setidaknya untuk semua lakon diatas yang terekam melalui lagu Bang Iwan, ada satu penutup yang ciamik :
//Apakah esok hari anak-anakku dapat makan,
Oh Tuhan beri setetes rejeki.//

Sepenggal lirik dari Doa Pengobral Dosa.
Ya, meski banyak dosa, jangan pernah menyerah pada kasih sayang Tuhan.

Haa tapi bukan dosa yang dilakukan dengan cara korupsi, itu sudah beda lagi, Ferguso.
Haa kok penak wis korupsi kok iseh arep njaluk setetes rejeki.

Gambar : mediaindonesia.com

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.