LASKAR MAKAN HATI

Duduk di angkringan, pesan segelas es teh, ngecer rokok sebatang, kaki diangkat satu nangkring di kursi, ambil gorengan sepuasnya asal bayar, tambah sate ati (hati) minta dibakar dulu, nyamleng. Sepuluh ribu rupiah sudah cukup, asal gorengannya tak lebih sepuluh biji.

Itu yang ada dalam angan, pada pagi menjelang siang yang panas seperti ini. Pada kenyataannya, yang bukan angan, yang kenyataan, adalah ingatan tentang suatu informasi menyakitkan yang disampaikan secara gamblang. Suatu hal yang menyakitkan, terkadang bisa menjadi suatu bahan tulisan yang menyenangkan.

Begini, pada suatu waktu, pada sepenggal sejarah yang telah berlalu, terdapat seorang bijak dari Batavia menyampaikan suatu informasi dengan penuh semangat dan gairah yang menggebu-gebu.

“Kita harus berjuang semaksimal mungkin untuk membawa nama baik kesatuan. Berusaha agar kesatuan semakin disegani, menjadi model bagi solid dan sempurnanya strategi pertempuran. Anda-anda ini, adalah ujung tombak, laskar penentu keberhasilan.”

Anggota laskar yang sedang berhimpun, tersulut semangatnya, terpantik emosi serta narasi untuk terus bertempur tanpa lelah, enggan berhenti.

“Apa tujuannya?” Sang bijak melanjutkan.

“Kesejahteraan!” Anggota laskar serentak menjawab lugas, sang bijak termangu.

Nampak ia sedikit ragu untuk melanjutkan kata-kata dan orasi yang terlanjur berapi-api.

“Ya, memang kesejahteraan adalah satu yang kita tuju. Tapi, ada hal lain yang lebih penting dari kesejahteraan.”

Anggota laskar nampak sedikit kebingungan. Selama ini mereka berjuang, dengan pamrih memenangkan pertempuran demi pertempuran, untuk menggapai kenyamanan serta kesejahteraan.

Sang bijak melanjutkan,
“Yang paling penting adalah menjaga semangat terus berkobar. Menggapai kesejahteraan melalui jalan memenangi pertempuran demi pertempuran adalah suatu keniscayaan, tetapi…menjaga semangat terus berkobar, adalah yang utama.”

Hening.

“Anda memilih mana? Mendapat tunjangan perang secara penuh, atau naik kelas jabatan?”

Tak ada yang menjawab.

“Para petinggi kesatuan, tidak menginginkan penuhnya tunjangan perang. Sebab, ketika tunjangan perang sudah diberikan secara penuh, maka setiap medan pertempuran yang kita hadapi, harus dibayar oleh uang pribadi kita sendiri.”

Anggota laskar kebingungan, dan hanya sedikit yang bisa mengartikulasikan orasi sang bijak dari Batavia.

Apa yang disampaikan, tentu menyakitkan, bagi mereka yang memahami maksudnya.

Maksud pernyataan itu tentu saja, secara kasar bisa disimpulkan seperti ini :
“Meski kesatuan, laskar-laskar, secara gemilang mampu meraih kemenangan demi kemenangan dalam pertempuran, tetapi para petinggi tak menginginkan terpenuhinya tunjangan perang dibayarkan secara penuh kepada para anggota laskar di garis depan.”

Kenapa?

Karena para petinggi menginginkan perang terus berlanjut, berkesinambungan, meski dalam skala kecil dan tidak masif serta destruktif. Bahkan bisa dikatakan, para petinggi kesatuan menginginkan prajuritnya untuk terus bertempur, selamanya.

Tentu saja perang membutuhkan biaya. Mulai dari peralatan, sampai dengan pelatihan. Mulai dari koordinasi, sampai dengan eksekusi. Semua membutuhkan biaya.
Para petinggi Batavia, tentu ingin pelatihan tempur, gelar strategi perang, terus dilakukan di daerah-daerah. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan uang saku, ongkos jalan, sisa biaya pembelian peralatan, dan tentu honor untuk memberi pelatihan.

Keuntungan tak hanya didapat oleh petinggi dari Batavia, tetapi juga oleh petinggi tiap-tiap wilayah, juga petinggi koordinator tiap daerah. Mereka boleh mengajukan anggaran untuk pendampingan pelatihan, perjalanan dinas untuk menyampaikan propaganda perang, dan membeli peralatan.

Lantas, apa yang didapat para laskar?
Mungkin sekadar untuk membayar biaya sewa rumah, atau ongkos menuju medan pertempuran yang terkadang diambil dari uang kas keluarga, biaya pribadi, apa yang akan didapatkan para cecunguk di ujung tombak?
Yak, tepuk tangan meriah serta ucapan terima kasih karena sudah bersedia bertempur sampai titik darah penghabisan.

Perang terus dipelihara, untuk menjaga keserakahan para pemangku kepentingan, para petinggi kesatuan.

Perhitungan uang saku, honor memberi pelatihan, sisa memberi peralatan, tentu tak sebanding dengan nilai tunjangan perang andai pun dibayar dan diberikan secara penuh. Nilai yang didapat dari menjaga keberlangsungan perang, jauh lebih besar. Bagi mereka, perang harus terus berlanjut agar pundi-pundi uang terus menggelembung.

Tetapi bagaimana dengan anggota laskar?
Anggota laskar tak mempunyai anggaran untuk melakukan perjalanan-perjalanan. Mereka adalah obyek untuk diberi pelatihan, tak kuasa membeli peralatan, dan tentu saja takkan mendapat apa-apa selain dari tunjangan perang yang diberikan.
Sedang beban di pundak mereka terus ditambah, demi meraih kemenangan yang gemilang.

Adil?

Jangan bertanya mengenai arti kata adil, atau kondisi berkeadilan terhadap para petinggi kesatuan, atau anggota yang bermarkas di pusat, wilayah, atau daerah. Mereka tentu hanya peduli pada keberlangsungan hidup mereka sendiri, dan mengabaikan hidup serta kehidupan para anggota laskar.
Yang terpenting, anggota laskar terus bertempur seperti apa yang mereka inginkan.

Maka, ketika anggota laskar berteriak mengenai kesejahteraan yang menjadi tujuan dari pemenangan pertempuran, tujuan peperangan, para petinggi terlihat gamang.

Jika perang selesai, mereka takkan lagi mendapatkan keuntungan.

Ah, sungguh bajingan!!!
Tunggu dulu!
Jangan mengumpat, atau memberi umpatan pada para petinggi, nanti kualat.

Apa yang bisa dilakukan oleh anggota laskar adalah terus bertempur, demi nama baik kesatuan. Perihal aturan, apalagi mengenai pemerataan serta pembagian kesejahteraan, tentu para petinggi dan pasukan dari pusat, wilayah, atau daerah, jauh lebih tahu dan jauh lebih bijaksana.
Tentu mereka jauh lebih mengerti bagaimana situasi perang serta kondisi pertempuran, daripada anggota laskar di garis depan. Tentu mereka lebih terpelajar, dan oleh karena itu lebih berhak menentukan arah serta tujuan dari peperangan.

Anggota laskar?
Cukup diam saja dan taat terhadap aturan. Kerjakan apa yang harus dikerjakan, jalani apa yang harus dijalani. Dari pertempuran ke pertempuran.
Tak usah berharap bahwa akan ada pemerataan kesejahteraan, sebab mereka yang diatas tak pernah ingin ada pemerataan.
Tetapi, jika sesekali ingin terjadi perubahan sudut pandang, memaksa para petinggi mengganti strategi peperangan, bergeraklah.

Caranya?
Mudah saja, letakkan senjata, angkat tangan, dan mari bersama-sama menuju angkringan. Minum es teh, sembari menertawakan nasib menjadi ujung tombak dari keculasan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)