Lebih Sulit Mendengar Atau Didengar?

Lebih sulit yang mana?

Saya kira, keduanya sulit, dalam pemaknaan yang tak sama namun hampir serupa.

Mendengar berarti lebih banyak menggunakan telinga sebagai indera wadak, fisik, dan kemudian mengolahnya.

Didengar berarti kita dalam posisi berbicara menggunakan mulut sebagai indera fisik, dengan cara-cara tertentu.

Pada keduanya, mensyaratkan pengolahan dengan metode tertentu.

Jika mendengar, kita dipersyaratkan untuk mengolah setelah menerima informasi.
Jika didengar, kita dipersyaratkan untuk mengolah sebelum memberikan informasi.

Pada tahapan mengolah inilah, kita memasuki fase yang paling sulit. Entah ketika mendengar, atau jika ingin didengar. Fase yang akan menentukan, apakah kita bisa mendengar dengan baik, ataukah omongan kita bisa didengar dengan baik.

Sebagai manusia, kita selalu mengagungkan satu ciri khas tertentu, yang banyak disebut oleh para ahli medis modern, psikolog, ataupun ahli agama, yaitu akal.

Kita akan mengagungkan akal sebagai alat utama, dalam menjalani kehidupan. Termasuk ketika menerima informasi –mendengar-, atau ketika memberi informasi –didengar-.

Ketika mendengar, kita seketika akan menolak informasi, atau anjuran, atau nasihat, sekira itu tidak sesuai dengan olah akal kita. Kadang kita akan bergumam, ah tidak masuk akal, sebagai tanda penolakan.

Ketika ingin didengar, sebisa mungkin kita menggunakan akal -meski terkadang berbalut kebohongan-, untuk menyampaikan informasi, anjuran, nasihat, agar apa yang kita sampaikan tidak sekadar menjadi angin lalu.

Akal adalah ‘panglima’, dan saya kira memang tak ada salahnya berpendapat demikian.

Tetapi terkadang akal banyak memberikan pertimbangan subyektif terhadap kita. Akal lebih mengedepankan pendapat dan keyakinan pribadi kita, sehingga akan menekan kemungkinan untuk dapat menerima dan atau memberikan informasi. Ada pertimbangan-pertimbangan subyektif yang menghalangi kita untuk jujur dan jernih dalam menerima informasi, atau memberikan informasi. Akal menghalangi kejujuran kita, terkadang.

Maka kita mengenal hati. Hati, atau beberapa orang menyebutnya kalbu, menjadi semacam alat sekunder kita dalam menjalani kehidupan. Ia menjadi semacam substitusi, sekira akal sudah lebih banyak menelurkan akal bulus.

Ketika menerima informasi, pada saat akal tak mampu untuk mengolah secara jernih, kita akan menggunakan hati untuk mengolahnya. Mempertimbangkan agar bisa seobyektif mungkin dalam menerima, dan tak hanya mengedepankan kebenaran pribadi.

Begitu juga ketika memberikan informasi, kita terkadang meminta bantuan hati untuk dapat menyampaikan informasi yang baik, benar, dan juga tepat. Hal itu kita lakukan, agar kita terhindar dari akal-akalan dan kebohongan ketika menyampaikan sesuatu.

Maka kita sering mendengar istilah : berbicara dari hati ke hati.

Itu sebenarnya adalah karena kecenderungan manusia adalah mendekat kepada kejernihan, pada kebaikan. Maka seringkali kita menggunakan hati untuk mengambil pertimbangan, atau memberi pertimbangan. Semata agar akal yang seringkali melahirkan akal-akalan itu tetap berada pada jalur yang semestinya.

Namun kenyataannya, hati kita pun sudah lebih banyak kotornya. Ia sudah buram, sehingga tidak lagi ada kejernihan. Bahkan terkadang hati bersekongkol dengan akal, untuk sekadar membenarkan pendapat kita, meski kita sebenarnya berada dalam keraguan. Keraguan perihal baik buruk informasi yang kita terima atau juga kita sampaikan.

Hati terkadang tak lagi menjadi cermin bersih, bening dan jernih untuk memantulkan semua ‘keharusan’ kita sebagai manusia. Keharusan untuk menjadi baik dan benar, sesuai skala waktu dan tempat yang semestinya. Karena terkadang baik dan benar itu tidak cukup, jika tidak ditunjang dengan kebijaksanaan dalam implementasinya secara kontekstual.

Berkata jujur itu tentu saja baik, dan juga benar. Tetapi ketika anda sampaikan kejujuran perihal pendapat dokter terhadap teman anda yang sakit, bahwa ia hanya akan mampu bertahan hidup beberapa hari lagi, tentu saja itu bukan lagi kebenaran dan kebaikan. Itu adalah sejenis kebodohan. Maka baik dan benar juga harus disertai dengan kebijaksanaan perihal ruang dan waktu yang tepat dalam penyampaiannya.

Lantas, bagaimana ketika akal dan hati tak lagi bisa diandalkan?

Sebagaimana akal dan hati, kita dibekali alat lain sebenarnya. Bisa kita gunakan untuk ketika akal dan hati tak lagi bisa menjadi alat yang andal.

Kita mempunyai beberapa yang lain, tetapi memang jarang menggunakannya. Bahkan kita tidak lagi familiar dengan alat-alat itu, karena akal dan hati lebih mendominasi.

Kita mempunyai naluri, intuisi, imajinasi. Bahkan terkadang kita dikirim alat lain secara mendadak, yang bisa berupa hidayah, atau sasmita gaib dalam bahasa Jawa. Tetapi kita bahkan sama sekali tidak mengenalnya, bahkan sudah sampai pada tahapan enggan untuk mengenal.

Untuk bisa mendengar dengan baik, mengolah masukan dan nasihat orang lain, kita harus jujur dan bisa mengolahnya dengan tepat, sekira itu adalah sesuatu yang baik bagi kita. Mungkin akal kita akan menolaknya, dan mungkin hati kita sudah terlalu keras menerimanya. Maka gunakan naluri, intuisi, atau bahkan imajinasi untuk mengolah.

Mungkin akal kita sudah terlalu bebal, dikarenakan kebiasaan-kebiasaan. Kita sudah terbiasa melakukan sesuatu dalam tempo waktu tertentu, dan merasa tak perlu melakukan perubahan, karena semua masih terlihat baik-baik saja. Kebiasaan itu menumpulkan akal kita, sehingga kita enggan menerima nasihat, meski kita tahu nasihat itu berupa hal yang baik dan bermanfaat bagi diri kita.

Hati kita sudah terlalu keras untuk menerima, dikarenakan pengalaman-pengalaman pahit di masa yang lalu. Pengalaman pahit dimasa lalu mengenai informasi, nasihat, membuat kita menjadi enggan menerima, meski kita juga tahu bahwa tentu masa kini sudah berbeda dengan masa yang lalu. Mungkin di masa yang lalu nasihat itu tidak berguna, tetapi ketika kita dengar lagi dimasa ini, itu sudah berubah menjadi berguna. Tetapi hati kita terlanjur keras, dan menolaknya.

Maka naluri, intuisi, dan juga imajinasi akan mampu membantu kita. Mengolah informasi agar dan masukan, nasihat, sekira berguna bagi kita. Mengolahnya secara objektif, agar terpancar secara jernih di dalam penerimaan kita.

Tentu saja sulit, karena mendengar berarti menepikan ego pribadi kita untuk menerima pendapat dan pemikiran orang lain.

Begitu juga ketika ingin di dengar. Terkadang yang muncul dari suara kita, pendapat kita, nasihat kita, adalah narasi-narasi panjang yang berisi pemaksaan. Kita tak sedang berusaha untuk didengar, tetapi mencoba memaksa.

Akal dan hati kita memaksakan pendapat subyektif terhadap sesuatu, kepada orang lain. Kita tidak mencoba untuk menyampaikan sesuatu secara objektif, melalui kejernihan. Dalam memberikan informasi, kita lebih banyak menimbulkan kesan memaksa, alih-alih mengetuk pintu pemahaman pihak yang kita ajak bicara, agar memahami ucapan kita.

Sehingga yang terjadi, adalah benturan-benturan.

Kita seringkali memberikan muatan pemikiran subyektif kita, dalam memberikan informasi, nasihat, atau juga masukan. Sehingga jujur atau tidak, seringkali kita hanya memberikan propaganda, pemaksaan, alih-alih informasi atau nasihat yang bisa didengar dan juga diterima.

Karena kita seringkali banyak menggunakan akal ketika memberi masukan, memaksa memberi pertimbangan dari hati kita meski kita tahu hati tak lagi jernih bahkan kusam.

Kita abaikan alat-alat kita yang lain, bahkan ketika kita sudah terpojok oleh akal dan hati kita sendiri.

Ini juga sulit, karena ingin didengar berarti menepikan semua ego agar apa yang keluar dari mulut kita bukanlah sesuatu yang hanya memuat kesombongan, tetapi juga memuat kerendahhatian agar kita bisa menyesuaikan diri dengan pihak yang kita ajak bicara.

Sampai disini, mendengar atau didengar bagi saya sama sulitnya. Jika ada yang mudah, adalah menahan. Menahan untuk tidak mendengar, sekaligus menahan untuk tak memaksa agar didengar.

Jika tetap ingin mendengar atau didengar, maka berusaha jujur adalah kuncinya. Jujur mengakui kedangkalan akal kita, kejernihan hati kita, dan kemudian mengelaborasi alat atau cara lain agar setidaknya kita tak menjadi manusia bebal yang tak mau mendengar, atau manusia pemaksa yang hanya mau didengar.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *